Monday, 1 April 2013

AKU, anak Ayah dan Ibu

09:04 2 Comments

AKU
Aku lahir dengan berat 3kg dan panjang 50cm. Cintari Amelia, nama lengkapku, Cintari dari kata Cinta Ari, Ari nama ayahku, dan Amelia dari nama tengah ibuku. Historical sekali namaku, awalnya aku mengeluh kepada ibuku, kenapa dia membebankan namanya dan nama ayahku pada namaku. Tapi ibuku selalu berkata, ibu ingin kau selalu mengingat ayah dan ibumu dimanapun kamu berada. Saat aku menanyakan itu, aku baru kelas 5 SD dan tidak benar-benar memahami maksud dari perkataan ibu.

Sekarang saat aku beribu-ribu kilometer dari rumah, aku menyadari arti perkataan ibu. Aku merindukanmu ibu, ayah. Aku rindu saat bisa dengan bebas memeluk atau menangis di pangkuan ibu. Aku rindu saat bisa dengan bebas merajuk manja pada ayah. Aku rindu suasana tawa di meja makan.

Dalam daftar absen, namaku selalu ada di urutan ke 8. Dan keajaiban itu tetap berlangsung hingga aku SMA. Saat menginjakkan kaki di hari pertamaku SMP, aku kaget melihat daftar absen dan menemukan namaku di urutan 8. Sepulang sekolah aku bergegas memanggil ibu, aku tau ibu selalu punya jawaban atas semua pertanyaanku, bahkan pertanyaan konyol sekalipun. Dan benar, ibu menjawabnya dengan bijak, ibu berkata angka 8 adalah angka keberuntungan, itu artinya aku orang yang akan selalu beruntung dalam setiap langkahku. Jawaban ibu saat itu adalah jawaban terbaik yang bisa menenangkan keheranananku. Tapi sekarang aku tahu kenapa namaku selalu ada di urutan ke 8. Huruf pertama dari nama depanku adalah C, jadi besar kemungkinan aku mendapat nomor urut di bawah 10. Tapi tak apa, aku merasa beruntung karena mendapat jawaban seperti itu dari ibu.

AKU ANAK AYAH

Aku mempunyai kebiasaan unik yang malah sering dihindari oleh kebanyakan cewek. Aku suka mendengarkan music rock. Entah kenapa dentuman music rock dapat menenangkan sekaligus membangkitkan semangat, dan teriakan vokalis yang melengking seakan mengajakku untuk melepas segala kepenatan jiwa. Aku sering mendapat cibiran karena hobiku yang satu ini, tapi ayah selalu meyakinkanku bahwa setiap orang mempunyai filosofi tersendiri atas pilihannya. “Ayah juga pecinta music rock”, tambahnya. Lalu dia menunjukkan padaku album-album legendaris rocker miliknya. “Kamu anak ayah, jadi bukan hal yang mengagetkan jika menyukai apa yang ayah suka”, katanya bijak sambil tersenyum.

Selain mendengarkan music rock. Ada kebiasaan lain yang menurut temanku aneh, aku hobi kuliner dan makan dengan porsi kuli. Entah darimana aku mendapatkan selera makan yang besar itu dan aku sangat mensyukurinya. Karena badanku yang kecil dan tidak mungkin gemuk, jadi aku tak perlu takut obesitas dan bingung diet. Ternyata kalau diperhatikan, hobi makan berlebihan itu aku dapatkan dari ayah. Ayah selalu makan lebih banyak dibanding kebanyakan bapak-bapak pada umumnya. Ayah selalu melahap masakkan ibu tanpa ampun dan terkadang aku harus berebut dengan ayah untuk menyantap habis salah satu hidangan yang disajikan ibu.

AKU ANAK IBU

Orang selalu heran ketika mendapatiku memegang novel, mereka bilang aku seperti terhipnotis oleh novel yang aku baca. Yah, pikiran mereka terlalu berlebihan. Kemampuan imajinasiku sedang berusaha menela’ah dunia yang dihadirkan oleh novel itu. Sebenarnya aku bukan pecinta semua jenis novel, aku hanya suka novel bergenre fantasi dan over-romance. Anehkah penikmat music rock menyukai novel over-romance? Tentu saja tidak (menurutku), karena kalau kalian perhatikan, lirik lagu music rock jauh lebih romantis dibandingkan dengan lagu pop. Aku suka membaca sejak kecil, ibuku selalu membiasakanku membaca sejak TK, entah itu buku dongeng atau majalah bobo, walaupun saat itu kemampuan membacaku masih minim tapi ibu selalu ada dan mengajariku hingga aku hafal dongeng itu di luar kepala. Saat aku mulai beranjak remaja, aku mulai bisa menentukan apa yang aku suka untuk aku baca. Ternyata ibuku mengetahui kebiasaan baruku dan menunjukkan koleksi bukunya saat lajang, sungguh tak disangka ternyata aku dan ibu mempunyai selera yang sama dalam hal bacaan. Ibu mengenalkanku pada penulis-penulis legendaris jaman dulu dan menunjukkan karya-karyanya, dan aku juga memberi tahu ibu tentang penulis muda jaman sekarang yang sedang aku gandrungi, aku juga memperlihatkan beberapa novel fantasi favoritku.

Saat SMA aku mempunyai kebiasaan baru, menulis. Kejadian apapun yang melintas dihidupku akan kuabadikan dalam bentuk tulisan, entah hanya sebaris dua baris, yang penting ada kenangan tertulis. Aku sering (tanpa sepengetahuan ibu) membaca buku harian ibu. Aku menempukan sajak berbaris rapi, tersusun apik tiap baitnya. Awalnya aku hanya hobi membaca buku harian ibu (tentu tanpa sepengetahuannya) sampai pada suatu ketika aku merasakan kekesalan yang teramat sangat pada teman sekelasku, aku ingin marah tapi dia temanku lalu aku menulis apa yang ingin aku katakan pada temanku, aku tulis apa yang aku rasakan saat itu. Kau tau apa yang aku dapatkan setelah menulis? Aku mendapati sebuah angin sepoi menyibakkan amarah di hatiku.

AKU

Aku adalah anak paling beruntung karena mendapatkan orang tua paling sempurna dunia. Benar kata ibu, aku adalah anak yang beruntung. Terima kasih karena telah menganugerahiku banyak hal. Aku cinta kalian, ayah dan ibu.