Friday, 19 July 2013

Lelakiku ♡

21:12 0 Comments
untukmu yang sedang berbicara dengan Tuhan menghadap kiblat.
aku bersyukur bisa mencintamu tanpa syarat.
kan kugenggam ikrar kita erat.
biarkan iblis menjebak dengan muslihat.
kupercaya kita tak kan terjerat.
karena kutahu cinta kita kuat.
salam kasih teruntukmu, lelakiku yang hebat.

Wednesday, 17 July 2013

Aku Rindu

19:34 0 Comments
Di balik jendela kamar aku terdiam, menatap ke luar tanpa asa.
Hampa? Mungkin. Kau pergi terlalu lama. Pergi dan tak kunjung tiba.
Entah berapa triliun detik yang habis sia-sia.
Rindu ini beranak pinak, mungkin sudah menenek moyang.

Aku rindu,
2 kata yang tak habis kusebut.
Aku rindu,
2 kata yang aku ucap saat melihat senyummu di cetakan kertas itu.
Aku rindu,
2 kata yang aku selipkan di tiap doaku.
Aku rindu,
2 kata yang aku ungkapkan saat mereka menanyakanmu.
Aku rindu,
2 kata yang aku selipkan sebelum terlelap.
Aku rindu,
2 kata yang aku harap akan terdengar dari sudut bibirmu.
Aku rindu,
2 kata dengan sejuta harap, kau akan pulang dan cintamu tetap ada, tak lenyap.

Apa kabar kau di sana? Apa rambutmu masih sehitam dan serapi dulu?
Bagaimana gaya hidupmu di sana? Apa masih sesederhana dulu? Dgn celana belel, kaos oblong dan sepatu butut?
Masih berprinsip kah kau di sana? Setauku kau dulu bersikukuh pada 1 pilihan..
Tapi sepertinya kamu berubah, rambutmu mencoklat dan mulai panjang. Kau lebih suka berpakaian parlente dengan setelan branded dan sepatu mengkilap. Sebulan terakhir kau tersenyum mesra dengan beberapa gadis berbeda di jepretan kameramu.
Kamu pergi, kamu berubah, kamu tak kembali, dan aku tetap merindu.

Aku Pulang

19:20 0 Comments
Marhabban yaa Ramadhan.
Berjuta muslim merayakannya, berlomba mengumpulkan pahala seakan sedang berkompetisi.

Ramadhan kali ini aku pulang, ke tempat baru yang harus kusebut rumah.
Ke tempat yang sudah kukenal tapi selalu beratmosfer asing.
Entah kenapa, seperti ada monster yang ingin menerkamku saat aku di bawah atapnya.

Ramadhan kali ini aku pulang. Aku rindu seorang perempuan paruh baya yang aku panggil ibu
Raut menua ibuku terlihat jelas, ada kerutan dan senyum lelah tapi bahagia.
Dulu beliau tak begitu, dulu beliau begitu kuat, sekarang tenaganya seperti terbatas.

Ramadhan kali ini aku pulang. Aku ingin menyapa yang lama tak bersua. Kawanku. Tapi kawan-kawan lamaku tak sepolos dulu lagi. Keduanya pernah kabur dengan seorang lelaki yang mereka akui sbg kekasih. Salah satu dari mereka berdalih diculik dan yang satu lainnya memutuskan bosan dengan aturan orang tua sebagai alasan. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk mengesahkan secara hukum dan agama. Mereka punya kehidupan sendiri, mereka tak tertawa selepas dulu lagi.

Ramadhan kali ini aku pulang, mengunjungi kakek nenekku. Tak ada yang berubah kecuali keriput yang bertambah. Kakekku masih suka sibuk dengan burung peliharaannya yang tak berhenti bernyanyi saat lapar. Nenekku masih dengan segala tetek bengek dapurnya, kepul asap dari tungku selalu menarikku untuk menemaninya, entah sekedar duduk atau mengupas bawang merah.

Ramadhan kali ini aku pulang, mengunjungi sahabat semasa putih abu-abu. Dia masih tetap sama, ramah, lucu. Satu yang berubah, mantan pacarnya bertambah banyak. "Aku harus memilih", begitu kilahnya.

Ramadhan kali ini aku pulang, tak ada lagi derap kaki-kaki kecil saat malam Lailatul Qadr. Dulu kami seringkali merengek pada ibu untuk bermalam di musholla, untuk tadarus dan shalat malam. Sekarang ntah kemana larinya derap penuh keringanan itu.

Ramadhan kali ini pulang, tak ada lagi patrol desa yang membangunkan warga sahur. Patrol dgn kentungan bambu itu terganti oleh marching band yang terlalu membahana di dini hari. Tak kutemukan lagi letupan petasan saat jalan pagi selepas sahur. Entah kemana pejalan kaki yang suka menghabiskan detik sepanjang jalan sebelum matahari menyapa. Mereka hilang, kebiasaan lama itu musnah.

Ramadhan kali ini aku pulang, berharap bisa menemukan masakan ibu saat berbuka dan sahur.