“kamu ngga daftar AEO? –Dhani”
“AEO apa? Dhani siapa?”
“Asian English Olympics. Dhani
SC”
SMS tak terduga datang dari nomor
tak dikenal dan hanya tertera nama panggilan. Hingga akhirnya aku ingat. Kamu
adalah Dhani dengan maatyoung sebagai nama populernya. Dhani, teman dari
English Study Club yang jarang sekali aku hadiri. Pesan singkat kita berlanjut
pada kesepakatan untuk membentuk sebuah tim.
Aku yang sedang beradu hati,
antara ingin mempertahankan cinta atau menyerah pada jarak, mendadak bimbang.
Bimbang karena menemukan sesosok lelaki yang bisa kutemui setiap hari. Ya
Dhani! Dia dengan sejuta kekuatan magisnya mengubah gundahku menjadi tawa. Aku
mulai nyaman berada di dekatnya. Walau rasa kecewa sempat hinggap saat dia
melupakan hari lahirku.
Kedekatan kita makin erat. Rasa
cemburu mulai sering hinggap kala aku mendapati ada wanita lain yang mencuri
perhatiannya. Rasa cemburu yang berganti menjadi rasa kagum hanya dalam sekali
senja. Sekali lagi dengan kekuatan magismu, kau bisa membuat senjaku menjadi lebih
merona jingga.
Hingga akhirnya aku mendapati
kado valentine yang tiba lebih awal. Kau menyatakan cintamu padaku tepat
seminggu sebelum valentine. Bagaimana aku bisa menolak, aku sedang butuh tempat
untuk berlabuh. Kisah cinta kita bermula di kampus kotak biru. Sungguh manis,
terlalu manis untuk dilupakan.
H-1 kompetisipun tiba. Kita
merasakan rasa itu bersama, rasa gugup, takut, dan berbagai rasa yang bisa
mengaduk perut. Saat kita ingin beristirahat, kita mulai mengurus proses
registrasi di dormitory yang telah disediakan. Namun, keinginan kita untuk
menyandarkan bahu harus ditahan dalam-dalam. Ada beberapa masalah dari panitia
dan kita diminta untuk menunggu tanpa kepastian. Hingga akhirnya kepastian tiba
dan itu bukanlah kepastian yang kita harapkan. Kita diminta untuk tinggal di
rumah kost yang menurut mereka layak. Pertahananku mulai goyah, aku down. Dan
kamu hanya diam. Mungkin kamu lelah, pikirku.
Pagi yang mendebarkan telah
mengedarkan sinarnya melalui sang surya. Aku bersemangat, aku takut, aku
minder, aku gugup. Apa kamu juga merasakan hal yang sama? Ada sedikit cekcok di
antara kita sebelum pertandingan pertama. Pertandingan pertama dimulai, dengan
UNSOED sebagai lawan kita. Aku akui mereka sungguh hebat, terlalu hebat untuk
kita kalahkan. Dan kita harus dengan berlapang dada menerima kekalahan pertama.
Selang beberapa jam, pertandingan
kedua dimulai. Kali ini kita berusaha lebih keras. Tapi tetap menemui jalan
buntu. Kita mulai ingin mengibarkan bendera putih. Tapi kita saling menguatkan.
Pertandingan ketiga dimulai setelah maghrib. Kamu bingung untuk beradu argument
dengan topik yang diberikan oleh panitia, nalarmu menemui jalan buntu. Tapi
Tuhan selalu mempunyai cara untuk melengkungkan senyum pada umatNya. Kali ini
Tuhan memberikan kesempatan kepada kita untuk mencicipi kemenangan. Aku senang
mendapati senyummu. Kau terlihat amat bahagia malam ini. Dan dengan semangat
kau mengatakan, “aku siap tanding besok”. Seakan tertransfer semangatmu, aku
juga merasakan energy positif darimu.
Pertandingan hari kedua dimulai.
Dengan energy positif yang kita himpun semalam, kita lebih siap berperang hari
ini. Tapi sepertinya sekali lagi kita harus menelan pahitnya kekalahan. Nama
kita tidak terdaftar dalam list peserta
Quarter Final. Sungguh mengecewakan, tapi kita sudah melakukan semampu kita.
Dengan tangan kosong kita kembali
menghadapi kehidupan nyata. Tepat seminggu sebelum perkuliahan dimulai, kita
kembali ke rumah masing-masing menahan rindu yang membuncah. Kau sibuk dengan
pekerjaan barumu sebagai karyawan dan aku sibuk dengan novel-novelku. Akhir minggu
tiba, kita membuat janji untuk bertemu, meluapkan rindu. Tapi apa daya, dewi
fortuna sedang tidak berada di sampingku untuk menemuimu. Aku harap kau
mengerti bagaimana keadaanku, tapi kau hanya menganggapku berkilah. Kita memutuskan
hubungan singkat kita. Terlalu singkat untuk ditangisi. Tapi tak lama kemudian
kita kembali dan menyesali liarnya ego.
Kita kembali menghadapi rutinitas
pagi – sore di kampus. Aku yang sibuk dengan awal perkuliahan tanpa sengaja
menomor duakan kamu. Kamu mulai jengah dengan tingkahku, sampai akhirnya kau
membuat jadwal bertemu di sela jadwal kuliah. Tapi tugas sering menahanku untuk
mendengar sapamu, dan PES selalu berhasil menahanmu untuk makan siang denganku.
Oh tuhan, semua ini terlalu menekanku. Aku jenuh, aku mulai menengok ke masa
laluku. Aku tidak pernah ambil pusing dengan gadgetku, sampai pada akhirnya kau
memeriksa semua yang ada di gadgetku dan mendapati nomornya di log historyku. Pertengkaran
terselubungpun terjadi. Kita berdua sepakat untuk hanya berteman. Tapi ternyata
tanpa sepengetahuanku kamu juga sering berhubungan dengan masa lalumu. Ini impas
kan? Lalu apa masalahnya, kenapa seakan-akan aku yang bersalah? Sungguh tidak
adil. Kamu mengumbar masalah kita di twitter, tidakkah terbesit rasa malu di
benakmu? Tapi aku benar-benar tak mengerti apa yang membuatmu tetap mau kembali
padaku setelah semua perkataanmu. Ya, sabtu siang ini kamu datang ke rumahku,
dengan dalih untuk berdiskusi tentang laporan pertanggungjawaban. Tapi kisah
kita dimulai lagi siang itu. Akupun dengan polosnya percaya dengan semua
bualanmu.
Sepertinya kita memang tidak
ditakdirkan untuk mengadu kasih. Kisah kita berakhir (lagi). Aku mengakhirinya
dengan baik. Dan kaupun meresponnya dengan baik. Aku tidak ingin ada twitwar
seperti perpisahan kita sebelumnya. Tapi sepertinya harapanku tak terwujud. Kau
memasang aba-aba perang dengan tweet “Sebenernya gue gapernah suka, gue kasihan
aja”. Oke fix, tweetmu yang ini sukses mengobarkan amarahku. Aku menanggapi
twitwarmu dengan semua fakta yang aku punya. Tapi ternyata kamu tidak terpojok,
saraf egomu terlalu kuat untuk dipatahkan, walau dengan fakta sekalipun. Kata-kata
kasar mulai muncul di timeline dan facebookmu, “foolish bitch, fuck, fucking
bitch” dan berbagai cercaan lain. Fitnahpun juga tak absen untuk muncul di
timelinemu. Aku heran, inikah pendidikan yang diberikan oleh pesantren yang kau
banggakan selama ini? Aku menerima semua cercaanmu dengan sindiran halus. Teman-temanku
selalu mengingatkanku untuk mengendalikan emosi dan menghiraukanmu. Aku mencobanya
dan berhasil. Hingga pada suatu senja mendung, kau mengirimkan pesan singkat
yang amat menyakitkan bagi siapapun yang membacanya. Aku tidak membalas smsmu,
aku hanya membacanya dan berdoa semoga kau cepat diberi kesadaran. Allah always
know what to do, Dia memberi kesadaran padamu. 2jam selang sms terakhirmu, ada
sms baru darimu. Kali ini sungguh berbeda. Kau mengajak berdamai. Aku tetap
diam, tidak merespon. Dan sempat terpikir betapa labilnya dirimu. Kau mengajakku
untuk membicarakan masalah kita, kau meminta waktuku untuk mendengar penjelasan
dan permintaan maafmu.
Sesuai perjanjian tak terjalin
kita, kau menemuiku di lounge dengan sahabatmu. Dan aku juga mengajak temanku,
Nindra. Percakapanpun dimulai, kau sungguh berbelit dalam menjawab setiap
pertanyaanku. Ntah kau ikhlas atau tidak untuk meminta maaf karena aku masih
menemukan ego di setiap kalimatmu. Inikah yang kau sebut meminta maaf? Kau bahkan
tidak menurunkan egomu sedikitpun. Aku sungguh kecewa. hujanpun tak sanggup
bertahan lebih lama di balik pelupuk mata, mereka mulai lelah menahan amarah
hati. Kita mengakhiri percakapan ini dengan hasil nol. Tapi aku cukup puas,
karena ada temanmu yang menyaksikan pembicaraan kita, setidaknya dia adalah
saksi hidup bahwa semua pernyataanmu di twitter tidak lebih dari sekedar fitnah
belaka.
Harusnya kau tahu, aku
memaafkanmu tapi aku tidak bisa menghilangkan bekas luka yang tlah kau
torehkan. Harusnya kau tahu, luka ini belum benar-benar sembuh ketika kau
melakukan serangan melalui twitter lagi. Harusnya kau tahu, aku tidak pernah
mengharapkanmu untuk kembali berpura – pura mencintaiku lagi. Harusnya kau
tahu, hidup ini tidak perlu sandiwara untuk mendapatkan apa yang kita mau. Harusnya
kau tahu, kau bisa bersikap lebih dewasa dan gentleman..
Saat kau membaca ini, aku harap kamu menemukan cermin untuk melihat ke
dalam hatimu.