Friday, 29 March 2013

kita tak ditakdirkan bersatu

21:14 0 Comments

“kamu ngga daftar AEO? –Dhani”
“AEO apa? Dhani siapa?”
“Asian English Olympics. Dhani SC”

SMS tak terduga datang dari nomor tak dikenal dan hanya tertera nama panggilan. Hingga akhirnya aku ingat. Kamu adalah Dhani dengan maatyoung sebagai nama populernya. Dhani, teman dari English Study Club yang jarang sekali aku hadiri. Pesan singkat kita berlanjut pada kesepakatan untuk membentuk sebuah tim.

Aku yang sedang beradu hati, antara ingin mempertahankan cinta atau menyerah pada jarak, mendadak bimbang. Bimbang karena menemukan sesosok lelaki yang bisa kutemui setiap hari. Ya Dhani! Dia dengan sejuta kekuatan magisnya mengubah gundahku menjadi tawa. Aku mulai nyaman berada di dekatnya. Walau rasa kecewa sempat hinggap saat dia melupakan hari lahirku.

Kedekatan kita makin erat. Rasa cemburu mulai sering hinggap kala aku mendapati ada wanita lain yang mencuri perhatiannya. Rasa cemburu yang berganti menjadi rasa kagum hanya dalam sekali senja. Sekali lagi dengan kekuatan magismu, kau bisa membuat senjaku menjadi lebih merona jingga.

Hingga akhirnya aku mendapati kado valentine yang tiba lebih awal. Kau menyatakan cintamu padaku tepat seminggu sebelum valentine. Bagaimana aku bisa menolak, aku sedang butuh tempat untuk berlabuh. Kisah cinta kita bermula di kampus kotak biru. Sungguh manis, terlalu manis untuk dilupakan.
H-1 kompetisipun tiba. Kita merasakan rasa itu bersama, rasa gugup, takut, dan berbagai rasa yang bisa mengaduk perut. Saat kita ingin beristirahat, kita mulai mengurus proses registrasi di dormitory yang telah disediakan. Namun, keinginan kita untuk menyandarkan bahu harus ditahan dalam-dalam. Ada beberapa masalah dari panitia dan kita diminta untuk menunggu tanpa kepastian. Hingga akhirnya kepastian tiba dan itu bukanlah kepastian yang kita harapkan. Kita diminta untuk tinggal di rumah kost yang menurut mereka layak. Pertahananku mulai goyah, aku down. Dan kamu hanya diam. Mungkin kamu lelah, pikirku.

Pagi yang mendebarkan telah mengedarkan sinarnya melalui sang surya. Aku bersemangat, aku takut, aku minder, aku gugup. Apa kamu juga merasakan hal yang sama? Ada sedikit cekcok di antara kita sebelum pertandingan pertama. Pertandingan pertama dimulai, dengan UNSOED sebagai lawan kita. Aku akui mereka sungguh hebat, terlalu hebat untuk kita kalahkan. Dan kita harus dengan berlapang dada menerima kekalahan pertama.

Selang beberapa jam, pertandingan kedua dimulai. Kali ini kita berusaha lebih keras. Tapi tetap menemui jalan buntu. Kita mulai ingin mengibarkan bendera putih. Tapi kita saling menguatkan. Pertandingan ketiga dimulai setelah maghrib. Kamu bingung untuk beradu argument dengan topik yang diberikan oleh panitia, nalarmu menemui jalan buntu. Tapi Tuhan selalu mempunyai cara untuk melengkungkan senyum pada umatNya. Kali ini Tuhan memberikan kesempatan kepada kita untuk mencicipi kemenangan. Aku senang mendapati senyummu. Kau terlihat amat bahagia malam ini. Dan dengan semangat kau mengatakan, “aku siap tanding besok”. Seakan tertransfer semangatmu, aku juga merasakan energy positif darimu.

Pertandingan hari kedua dimulai. Dengan energy positif yang kita himpun semalam, kita lebih siap berperang hari ini. Tapi sepertinya sekali lagi kita harus menelan pahitnya kekalahan. Nama kita tidak  terdaftar dalam list peserta Quarter Final. Sungguh mengecewakan, tapi kita sudah melakukan semampu kita.

Dengan tangan kosong kita kembali menghadapi kehidupan nyata. Tepat seminggu sebelum perkuliahan dimulai, kita kembali ke rumah masing-masing menahan rindu yang membuncah. Kau sibuk dengan pekerjaan barumu sebagai karyawan dan aku sibuk dengan novel-novelku. Akhir minggu tiba, kita membuat janji untuk bertemu, meluapkan rindu. Tapi apa daya, dewi fortuna sedang tidak berada di sampingku untuk menemuimu. Aku harap kau mengerti bagaimana keadaanku, tapi kau hanya menganggapku berkilah. Kita memutuskan hubungan singkat kita. Terlalu singkat untuk ditangisi. Tapi tak lama kemudian kita kembali dan menyesali liarnya ego.

Kita kembali menghadapi rutinitas pagi – sore di kampus. Aku yang sibuk dengan awal perkuliahan tanpa sengaja menomor duakan kamu. Kamu mulai jengah dengan tingkahku, sampai akhirnya kau membuat jadwal bertemu di sela jadwal kuliah. Tapi tugas sering menahanku untuk mendengar sapamu, dan PES selalu berhasil menahanmu untuk makan siang denganku. Oh tuhan, semua ini terlalu menekanku. Aku jenuh, aku mulai menengok ke masa laluku. Aku tidak pernah ambil pusing dengan gadgetku, sampai pada akhirnya kau memeriksa semua yang ada di gadgetku dan mendapati nomornya di log historyku. Pertengkaran terselubungpun terjadi. Kita berdua sepakat untuk hanya berteman. Tapi ternyata tanpa sepengetahuanku kamu juga sering berhubungan dengan masa lalumu. Ini impas kan? Lalu apa masalahnya, kenapa seakan-akan aku yang bersalah? Sungguh tidak adil. Kamu mengumbar masalah kita di twitter, tidakkah terbesit rasa malu di benakmu? Tapi aku benar-benar tak mengerti apa yang membuatmu tetap mau kembali padaku setelah semua perkataanmu. Ya, sabtu siang ini kamu datang ke rumahku, dengan dalih untuk berdiskusi tentang laporan pertanggungjawaban. Tapi kisah kita dimulai lagi siang itu. Akupun dengan polosnya percaya dengan semua bualanmu.

Sepertinya kita memang tidak ditakdirkan untuk mengadu kasih. Kisah kita berakhir (lagi). Aku mengakhirinya dengan baik. Dan kaupun meresponnya dengan baik. Aku tidak ingin ada twitwar seperti perpisahan kita sebelumnya. Tapi sepertinya harapanku tak terwujud. Kau memasang aba-aba perang dengan tweet “Sebenernya gue gapernah suka, gue kasihan aja”. Oke fix, tweetmu yang ini sukses mengobarkan amarahku. Aku menanggapi twitwarmu dengan semua fakta yang aku punya. Tapi ternyata kamu tidak terpojok, saraf egomu terlalu kuat untuk dipatahkan, walau dengan fakta sekalipun. Kata-kata kasar mulai muncul di timeline dan facebookmu, “foolish bitch, fuck, fucking bitch” dan berbagai cercaan lain. Fitnahpun juga tak absen untuk muncul di timelinemu. Aku heran, inikah pendidikan yang diberikan oleh pesantren yang kau banggakan selama ini? Aku menerima semua cercaanmu dengan sindiran halus. Teman-temanku selalu mengingatkanku untuk mengendalikan emosi dan menghiraukanmu. Aku mencobanya dan berhasil. Hingga pada suatu senja mendung, kau mengirimkan pesan singkat yang amat menyakitkan bagi siapapun yang membacanya. Aku tidak membalas smsmu, aku hanya membacanya dan berdoa semoga kau cepat diberi kesadaran. Allah always know what to do, Dia memberi kesadaran padamu. 2jam selang sms terakhirmu, ada sms baru darimu. Kali ini sungguh berbeda. Kau mengajak berdamai. Aku tetap diam, tidak merespon. Dan sempat terpikir betapa labilnya dirimu. Kau mengajakku untuk membicarakan masalah kita, kau meminta waktuku untuk mendengar penjelasan dan permintaan maafmu.

Sesuai perjanjian tak terjalin kita, kau menemuiku di lounge dengan sahabatmu. Dan aku juga mengajak temanku, Nindra. Percakapanpun dimulai, kau sungguh berbelit dalam menjawab setiap pertanyaanku. Ntah kau ikhlas atau tidak untuk meminta maaf karena aku masih menemukan ego di setiap kalimatmu. Inikah yang kau sebut meminta maaf? Kau bahkan tidak menurunkan egomu sedikitpun. Aku sungguh kecewa. hujanpun tak sanggup bertahan lebih lama di balik pelupuk mata, mereka mulai lelah menahan amarah hati. Kita mengakhiri percakapan ini dengan hasil nol. Tapi aku cukup puas, karena ada temanmu yang menyaksikan pembicaraan kita, setidaknya dia adalah saksi hidup bahwa semua pernyataanmu di twitter tidak lebih dari sekedar fitnah belaka.

Harusnya kau tahu, aku memaafkanmu tapi aku tidak bisa menghilangkan bekas luka yang tlah kau torehkan. Harusnya kau tahu, luka ini belum benar-benar sembuh ketika kau melakukan serangan melalui twitter lagi. Harusnya kau tahu, aku tidak pernah mengharapkanmu untuk kembali berpura – pura mencintaiku lagi. Harusnya kau tahu, hidup ini tidak perlu sandiwara untuk mendapatkan apa yang kita mau. Harusnya kau tahu, kau bisa bersikap lebih dewasa dan gentleman..

Saat kau membaca ini, aku harap kamu menemukan cermin untuk melihat ke dalam hatimu.    

boneka bodoh

10:23 0 Comments

Untuk kesekian kalinya aku menjadi boneka cinta berbagai adam. Dan ini malam kesekian (terpaksa) kuijinkan kau memasuki teritorialku. Kau tau? Kau adalah lelaki pertama yang bisa bebas masuk menikmati dekorasi kamarku. Bagaimana aku bisa menolak. Kau terlalu beradi daya dan aku tak kuasa kala ancamanmu mulai terucap. Dinding setia menjadi saksi bisu cucuran peluhku. Kubiarkan kau menari di atas tubuhku, dan tanganmu tak akan segan menamparku jika aku tak merespon nafsumu. Aku merasa jijik pada diriku sendiri. Betapa percayanya diriku pada rayuanmu hingga kubiarkan dirimu merenggut kesucianku. Atau mungkin lebih tepatnya betapa bodohnya diriku merelakan mahkota yang telah kujaga bertahun-tahun direnggut hanya dalam waktu sekian detik oleh pria sepertimu. Aku masih ingat bagaimana kau meragukan kesungguhanku hanya karena tak ada bercak darah yang membekas di seprei.

Malam seperti malam pertama selalu berulang. Kau akan mengamuk jika aku menolak. Kau akan mendaratkan tamparan jika aku beralasan. Inikah cinta yang kau maksud untukku? Aku tak mendapati makna cintamu. Sungguh. Aku hanya mendapati kilatan nafsu di matamu kala kubiarkan kau menari di atas tubuhku. Aku hanya mendapati kilatan amarah jika aku tak memberi kepuasan yang kau mau.

Beberapa temanku mulai khawatir dengan kita, lebih tepatnya dengan keadaanku. Mereka selalu menghujat betapa bodohnya aku dan betapa jahatnya kamu. Mereka memaksaku untuk mengakhiri hubungan cinta denganmu. Tapi aku (tetap) dengan bodohnya berharap bahwa kau akan berubah, bahwa aku akan bisa melihat sinar cinta terpancar dari matamu.

Tapi ternyata emosiku malam itu mengalahkan segala harapanku untukmu. Aku menolak dan seperti biasa kau mulai marah, berteriak. Hingga ku katakan bahwa lebih baik kita berpisah dan kau menyetujuinya. Tapi sebuah statement menyakitkan terucap dari bibirmu, kau masih meragukan kesungguhan malam pertamaku saat itu hanya karena tak ada bercak darah sebagai bukti bahwa mahkotaku telah telah terenggut olehmu. Sungguh aku kecewa, aku merasa jijik pada diriku sendiri. Jika ada mesin pengembali kesucian, mungkin aku akan rela mengantre demi mendapatkannya.

Dua tahun berlalu dan rasa traumaku mulai lenyap. Ada sosok lain yang mulai menggelayuti benakku. Sosok yang aku harapkan selama ini. Betapa bahagianya aku saat kudapati kau juga menyimpan hati padaku. Waktu berputar, dan hati kita telat bertaut. Kau selalu bisa membuatku tersenyum, hingga suatu malam saat kau mengantarku sampai gerbang rumah, kau meminta ijin untuk sejenak melepas penat. Akupun tak kuasa menolak pintamu, kuijinkan kau masuk. Kau duduk di ruang tamu dan tak lama kemudian kusuguhkan segelas pelenyap dahaga. Setelah beberapa saat menemani bertukar obrolan, aku meminta ijin untuk berganti pakaian, kau mengangguk tanda setuju. Tapi tanpa kusadari kau mengendap, mengikutiku dari belakang, lalu memelukku dengan erat. Tapi kali ini bukan pelukan penuh kasih, pelukan ini terlalu erat, ada yang aneh dengan pelukanmu. Lalu kau putar badanku menghadap ke arahmu, kau lumat bibirku tanpa ampun. Dan setelah sekian lama, aku mendapati (lagi) kilatan mata penuh nafsu dengan pemilik mata yang berbeda. Rasa takut itu muncul lagi. Ku lepaskan bibirku dari lumatanmu lalu kutampar wajahmu. Seakan tersadar dari setan yang merasukimu, kau meminta maaf. Tapi aku tak bisa, aku tak bisa memberi maaf malam ini. Perlakuanmu sungguh biadab.

Aku butuh waktu untuk kembali hidup normal, mencintai lelaki dgn cinta normal tanpa ada embel-embel nafsu dibalik semua janji manis yang terucap.


Mulai bosan dengan peperangan tanpa henti melawan tugas dari dosen

Thursday, 28 March 2013

Musim Semi ♥

09:33 0 Comments
 Aku mencintaimu bukan seperti musim gugur yang meranggas diterpa angin.
Bukan pula seperti musim dingin yang membuat jantung menggigil.
Cintaku juga bukan seperti musim panas yang menusuk hadirkan peluh.
Cintaku seperti musim semi, yang slalu mekar indah sepanjang taun

kalah oleh jarak

09:26 0 Comments
Malam ini aku kembali menapaki alur masa lalu. Terdiam di atas ranjang dengan boneka darimu dalam pelukkan. Posisi yang enak untuk mengenangmu. Sepuluh bulan yang lalu, sebelum aku memutuskan untuk pergi. Kamu hanya menganggapku debu yang mengganggu harimu. Setelah aku mengutarakan niatku untuk pergi, ntah malaikat mana yang merasukimu. Kau berubah menjadi pria yang selama ini ku idamkan. Kau manis, penuh perhatian, dan pelukkanmu lebih hangat. Kau tau? Sebenarnya saat itu aku ingin membatalkan kepergianku, aku ingin tetap di sisimu, menghirup aroma khas tubuhmu, mendengar tawa renyahmu, dan sapaan lembutmu tiap pagi. Tapi keadaan memaksaku pergi, aku pergi dengan harapan akan kembali atau kau yang menyusulku ke sini. Dengan berbekal selembar surat yg ditulis dengan hati darimu, aku pergi meninggalkanmu.

Sesampainya di kota impian (begitu orang menyebutnya), aku merasa asing. Sulit untuk beradaptasi, apalagi tanpa kamu di sisi. Tak ada novel atau hiburan yang bisa mengusirmu dari pikiranku. Aku hanya bisa merindumu dalam sesenggukan tangis tiap malam. Jawablah kasih, apa kau juga merindukanku? Tidakkah kau tau, surat itu meyakinkanku bahwa kau akan selalu mencintaiku, bahwa jarak bukanlah penghalang aku dan kamu untuk tetap menjadi kita.

Tapi waktu berkata lain. Kasih, kau berubah. Kau menjadi lebih dingin, tak ada lagi mantra yang bisa menyenyakkan tidurku, tak ada lagi sapaan lembut di ujung telfon, tak ada lagi pesan manis darimu. Aku merindukanmu, bukan kamu yang sekarang, tapi kamu yang dulu. Waktu pun menjawab pertanyaanku, ternyata cintamu tak sekuat kaktus yang mempu bertahan walau tak ada air. Kau mengaku kalah pada jarak. Kasih, tidak kah kau tau. Jarak menertawakanmu, jarak tersenyum puas bisa memisahkan kita. Harusnya kau mengerti bahwa jarak tak akan pernah membiarkan kita  bertaut. Harusnya kau tetap bertahan, harusnya kau kuat. Harusnya …..

Apa yang bisa aku harapkan darimu kasih? Kau telah menyerah. Percuma jika cinta kita hanya berpangku padaku. Aku tak sanggup memikul beban yang jarak berikan. Maaf, mungkin kamu benar. Mungkin kita memang harus menyerah. Terimakasih karena kau tlah mau bertahan walau sesaat, walau tak bisa mengalahkan jarak. Trimakasih ..

Untukmu, yang selalu kurindukan
Kuharap kau juga merindukanku
Merindukan kita

Tuesday, 26 March 2013

valentine buku

16:23 0 Comments
14 Februari 2013 adalah momen valentine yang amat sangat memorable. dengan keisengan tingkat dewa aku mengikuti sayembara yang diadakan oleh @1bichara. tanpa disangka, twit isengku ternyata menarik perhatian daeng. twitku jadi salah satu twit favorit daeng :D ini dia twitnya kutemukan cinta dlm fantasimu. Membawaku terbang melintasi aurora ilmu

daaannn voilaaaa . ini dia hadiahnyaa