Monday, 30 September 2013

Kisah Kasih Sejoli Kecil

22:01 0 Comments
kasih tulus bisa ditemukan dimana saja dan pada siapapun. kisah ini tentang seorang anak lelaki dan gadis kecil yang mencerminkan ketulusan. setiap hari sepulang sekolah, hadi dengan seragam SD putih merah lengkap dengan topi, dasi dan tak lupa ketapel tergantung di lehernya, menunggu seorang gadis TK dengan seragam putih dan rompi biru. Hadi sudah hafal betul apa yang mungkin sekarang sedang dilakukan gadis mungil itu, "pasti dia sedang kelabakan menyelesaikan tugas menggambar dari bu guru", begitu gumam hadi sambil terkekeh. dengan duduk di atas BMX dan topi yang dimiringkan, hadi dengan sabar menanti si gadis kecil keluar. senyum polos terpancar saat hadi melihat si gadis keluar dengan muka ditekuk dan gerutuan tak terdengar dari bibir mungilnya. saat mencapai posisi bersebelahan dengan si empunya BMX, Lina (nama gadis kecil itu) mendapat hadiah cubitan dan topi biru miliknya yang dikebawahkan hingga menutupi separuh wajah. cengiran khas hadi keluar diiringi dengan teriakan lina. Pemandangan klasik. perang singkat yang selalu berakhir dengan tawa tanpa mengucap kata damai. tak menunggu waktu lama untuk menemukan sesosok gadis kecil berdiri nyaman di boncengan kaki dengan tangan mungil berpegangan erat di pundak hadi. sesekali tangan mungil itu melepas pegangannya dan menyapa langit, lalu dia akan tertawa terbahak saat si pembonceng menegurnya dengan bersungut-sungut. tak jarang juga mereka mampir di warung, sekedar untuk membeli jajanan atau es krim dan menikmatinya berdua di taman bermain.

Sunday, 29 September 2013

Aku Sayang Ayah

10:36 0 Comments
Pagi ini aku terbangun dengan pipi basah, rupanya semalam aku bermimpi sambil menangis. semalam dia datang, dengan baju kebanggaannya, tersenyum dan memelukku erat, mengusap keningku lalu mengecupnya, kami berbagi kisah, membiarkan ruangan dipenuhi oleh atmosfir gegap gempita. sayang, itu hanya mimpi. ah, aku terlalu merindunya. rindu bergejolak, berdesakkan memenuhi tiap sudut, menutup tiap rongga. dia telah pergi. pergi dan tak mungkin kembali.

rasanya masih terlalu malas untuk memulai aktifitas di akhir pekan, lalu kuputuskan untuk berjalan menyusuri alur lalu, dan kutemukan dia sedang tertawa, bercanda denganku. dia memang lebih tua dariku, tapi tak pernah kudapati dia begitu kolot seperti orang kebanyakan. kami menertawakan seekor kucing yang sedang mengejar ekornya sendiri, kucing itu berputar, diam, melompat, berputar lagi, namun tak kunjung mendapati targetnya. lalu aku mencoba berjalan sedikit maju namun masih dalam lembar lalu, kulihat dia sedang membaca koran sembari menyeruput kopi. kebiasaan yang dia lakukan tiap pagi, "mengetahui dunia luar itu penting", begitu ujarnya saat itu.

pernah ku terjatuh, terpuruk oleh masalah yang bahkan aku sekarang lupa apa yang menyebabkanku begitu terpuruk, karena yang kuingat hanyalah pelukannya menyambutku, dia mendengarkan segala keluhku, nasihatnya menenangkanku, dan senyum itu, senyum yang membuatku untuk bangkit. kini tak lagi kudapati dia yang menjadi penguatku, aku harus kuat seberapa seringpun aku terjatuh. "jatuh adalah pengalaman terbaik untuk membuatmu lebih kuat", kalimat yang pasti dia ucap saat aku menangis dan berlari ke pangkuannya.

masih kuingat, bagaimana dia dengan sabar mengajari sesuatu yang belum kutahu. dengan telaten dia membimbing dan mengarahkan tanganku, dan dia akan tertawa saat aku menemui kegagalan pertamaku. "orang gagal di saat pertama mencoba itu biasa, tapi kalau tiga kali itu namanya luar biasa, luar biasa ikhtiarnya", begitu hiburnya saat aku mulai menyerah. dan aku dengan semangat mencoba lagi.

banyak kenangan yang ingin kutonton pagi ini, tapi panggilan mama dari bawah menyadarkanku bahwa aku harus segera bergegas untuk menyiapkan tahlil setahun sepeninggalnya. kami akan berdoa bersama untuknya malam ini.

hai ayah, maaf karena aku mengawali hari ini dengan tangis kerinduan. terima kasih untuk kasih dan ketulusan ayah selama ini, maaf aku hanya bisa menyampaikan rentetan doa. aku berjanji aku akan berusaha membuat ayah bangga. aku sayang ayah.



*tulisan ini dibuat untuk sahabatku, maaf untuk segala kekurangan dalam tulisanku
akan kucoba lebih baik lain kali*

Saturday, 28 September 2013

Harap Yang Belum Sempat Ku Ucap

21:42 2 Comments
Hai Komandan Senja, selamat mengulang tanggal 16 September dan bertambah tua. aku bingung harus mengisi kotak kado dengan benda apa hingga terbesit untuk membuat kumpulan kata bergerumbul. maaf untuk kasih yang kubungkus dengan kesederhanaan, semoga pelangi senyummu melengkung sempurna saat membaca tulisan ini.

banyak sekali doa yang ingin kupanjatkan mengingat hari ini adalah hari lahirmu. namun jika kusebutkan mungkin akan membutuhkan bergulung-bergulung perkamen, maka ijinkan aku meringkas permohonanku kepada Tuhan untukmu:
  • semoga keinginanmu selalu dijabah Allah
  • semoga kesehatan dan rejeki mengikuti tiap langkahmu
  • semoga kau tak pernah lupa untuk selalu bersyukur atas nikmatNya
semoga kau menjadi sosok lelaki yang :

- membenarkan kebenaran seperti Abu Bakar Ash Siddiq
- berani tapi berhati lembut seperti Umar bin Al Khattab
- memiliki seorang pendamping bercahaya seperti Utsman bin Affan
- cerdas dan berpendirian kuat seperti Hamzah bin Abdul Muthalib
  • berjuta semoga kecil lainnya yang kusimpan dalam hati

Selamat Menua Komandan


*tulisan ini (tidak temasuk gambar) dibuat jauh sebelum tanggal 16 September,
namun belum sempat kusampaikan karena handphone-mu yang sedang berada dalam masa pengawasan*

Senyum Lelaki Penolong (Part 1)

12:29 0 Comments
kali ini terik menyengat lebih hebat, hingga anginpun enggan mendekat. biasanya tempat ini selalu ramai dikunjungi oleh para siswa SMA seusai sekolah, sekedar untuk menghabiskan sisa duit jajan atau mengobrol dengan teman, tapi hari ini hanya beberapa di antara mereka yang mengunjungi taman kecil di sudut kota, tempatku menguras kenangan yang tak kunjung surut. ku seruput segelas es kelapa muda yang telah hambar karena air kelapa yang habis dan digantikan oleh es batu yang mencair. tak ada pemandangan berbeda kecuali pengurangan jumlah siswa SMA yang hobi nongkrong di sini. ya setidaknya lebih sepi lebih nyaman, aku bisa mendapati mantan kekasihku walau sebatas angan.

angin yang jarang, membuatku ingin segera pulang. walau sebenarnya aku masih ingin di sini, menghabiskan hari hingga senja, dan menyapa pengantar malam. aku berjalan mendekati penjual es kelapa muda, berniat untuk membayar dan mengucapkan terimakasih atas kesabarannya menungguku atau lebih tepatnya gelas es kelapa mudaku. hingga langkahku terhenti mendengar suara tawa yang aku hafal betul gelaknya, seketika aku menoleh. dan aku terdiam, aku mendapatinya. mantan kekasihku yang berkhianat. siapa gadis berseragam yang sedang bergelayut mesra di lengannya? mereka begitu akrab. dia yang dulu lelakiku mengusap lembut anak rambut gadis itu, lalu mengecup keningnya. ahh, pemandangan yang sungguh memuakkan. tapi mataku tak bisa berpaling untuk tidak menatapinya. hingga penjual es kelapa muda yang menyadari aku sudah berdiri hendak membayar tapi masih terdiam di tengah jalan membuyarkan sejenak tayangan langsung film menjijikkan mantan kekasihku dan pacar barunya. buru-buru aku membayar es dan tak kugubris teriakan penjual yang memanggilku karena uang kembalian yang tertinggal.

aku berjalan cepat, atau lebih tepatnya berlari kecil. entahlah mana yang benar, yang pasti aku ingin pergi jauh dari situ. tak peduli nafasku tersengal, aku tak ingin berhenti, aku terus berjalan menyusuri trotoar, menahan air mata. hingga tak kusadari ada lubang kecil lebih besar 2cm dari kakiku menjebak kaki kiriku, aku terjatuh. kakiku terkilir, sial sekali aku hari ini. aku berusaha berdiri, namun kaki tungkaiku sepertinya benar-benar terkilir, hingga meringispun tak sanggup meredakan sakitnya. dengan susah payah aku berdiri, namun selalu gagal. Lalu kamu, pria berkaca mata dengan setelan casual datang, melingkarkan lenganku pada lehernya dan membantuku berdiri. aku kaget, tapi aku hanya bisa diam. "Apa kamu kuat untuk berjalan", tanyamu. aku hanya bisa menggelengkan kepala, dan seketika itu juga kamu membopongku. aku terkejut dan bertanya setengah histeris, "kamu mau membawaku kemana? kamu siapa? enak aja main gendong anak orang", tapi kamu hanya tersenyum menanggapi tiap omelanku, hingga kita tiba di sebuah tempat pijat refleksi yang berjarak 50meter dari lubang terkutuk itu. kau menurunkanku di kursi tunggu lalu kau berbicara pada stafnya, entah apa yang kau bicarakan, yang kusadari sesekali kau berbicara sambil menoleh ke arahku. kemudian kau mendekatiku dan memberikan senyum, senyum yang begituuuuu memikat. kau menggendongku kembali dan meyakinkanku bahwa kakiku akan sembuh dalam waktu kurang dari sepuluh menit. dan ternyata benar apa yang dia katakan, meski aku berteriak kesakitan selama kurang dari 10menit, setelah itu tak lagi kurasakan nyeri atau sakit pada kakiku. saat aku keluar dari ruang eksekusi (sebut saja begitu karena kau akan berteriak setelah masuk ke dalamnya), tak kudapati dirimu di balik pintu. aku berjalan ke kasir, hendak membayar, namun petugas kasir memberitahuku bahwa kau telah mengurus segala biayaku. aku harus berterimakasih padamu, begitu fikirku. namun tak kudapati kau di ruang tunggu, aku bertanya pada staff yang berjaga di depan, dia bilang kau pergi saat aku diurut. aku sungguh merasa berhutang budi, bagaimana aku bisa mengucapkan terimakasih padamu jika namamu saja aku tak tahu? sungguh tega dirimu, menghantuiku dengan perasaan berhutang budi dan meninggalkanku dengan sebuah senyum tanpa nama.

Senja bukan lagi milik kita

10:25 0 Comments
senja kali ini berbeda, tak biasanya aku bersedih kala menyambutnya. seringkali aku menengadah menatap senja, bermandikan rona jingga, menghirup sisa aroma terik, merasakan hembus angin menjelang malam, tapi tidak untuk hari ini, aku merunduk saat senja menyapa, tak ada daya menengadah. mimpiku tersayat, aku bersimbah luka. senja hari ini membawa kabar duka, M.H.C.W. bukan lagi komandanku. komandanku harus melepas lencananya.

komandan,
tidakkah kau ingat taman senja dan kartun dengan karakter kuning yang menggemaskan itu? aku tak bisa melupakan bagaimana kau tertawa lepas saat para minions bertingkah lucu. masih kuingat hari itu, 7 Juli 2013, kita menghabiskan hari berdua, menertawakan hal yang sama, bertukar canda, menghirup oksigen yang sama, memandang senja yang sama. ingatkah kau tentang keinginanmu menyantap sesuatu di McD sekedar untuk mendapatkan souvenir minions? senja di taman senja, masih ingatkah kau dengan taman kecil itu? masih ingatkah kau dengan rencana kita untuk mengunjunginya lagi? semuanya berakhir, tak ada lanjut. buntu. senja bukan lagi milik kita.

komandan,
masih ingatkah kau dengan tiap kalimat manis yang kau kirimkan padaku? karena aku masih mengingat dengan jelas inti dari kalimat-kalimatmu. tak adakah niat dari lubuk hatimu yang terdalam untuk mewujudkannya? karena aku sungguh menaruh harap pada tiap hal yang kau ucapkan. tolong beri tahu aku, janji mana yang ingin kau tepati? skets bunga chrysant atau nyanyian dari hati? ahh, janji untuk memelukku siang itu saja kau mengingkarinya. bolehkah aku menaruh asa pada tiap janji dan ucapanmu? bolehkah aku mengirimkan angan pada senja tentang kita yang telah menjadi aku dan kamu? aku tau senja bukan lagi milik kita, tapi tolong ijinkan aku untuk mengandai.

komandan,
masih ingatkah kau tentang jutaan detik yang kita habiskan di ujung telfon? bertukar cerita hari ini, hari kemarin, rencana hari esok atau lelucon kecil. masih ingatkah bagaimana kita bertukar rindu melalui udara? adakah sedikit rasa menyesal saat kita berpisah? tidakkah kau ingat tentang ratusan kata kangen selama 2bulan tak bersua? bagaimana bisa kau mencampakkan aku saat aku kembali dekat denganmu? masih ingatkah kau tentang puisi tengah malam yang kau bacakan? apa puisi itu benar-benar untukku? bisakah sekali lagi kita menikmati senja berdua? sekali saja, meski ku tau senja bukan lagi milik kita.

komandan,
masih ingatkah kau tentang senja pertama kita di danau? aku menemui sahabatmu terlebih dahulu sebelum akhirnya bertemu denganmu. masih berbekaskah tiap senja yang kita lewati setelahnya? degup jantungmu masih kurasa saat kau merengkuhku dari belakang, masih kuingat jelas tiap debarnya. masih ingatkah bagaimana kau menggenggam tanganku erat saat menyusuri jalanan? bagaimana kau menjagaku saat akan menyeberang jalan? masih ingatkah kau tentang semua yang kita lalui bersama? masihkah?

komandan,
aku tersayat, anganku bersimbah pengkhianatan. bagaimana bisa kau menyembunyikannya? bagaimana bisa kau menjadikan dia kekasihmu tepat sehari setelah kita mengucap cinta? tolong beritahu dimana letak salahku jika aku menaruh curiga. aku bukan tidak percaya, aku juga tidak menuduh. aku selalu berusaha berfikir positif tentangmu. tapi semua bukti selalu menjurus dan aku masih percaya padamu berharap kebenaran yang kutemukan hanya delusi semata. namun kebenaran yang kutemukan haqiqih nyatanya. aku sakit, komandan. hatiku terisi lara. anganku menghangus. asaku menguap. bahkan senja tak dapat menyembuhkan sakitku. senja tak lagi dapat menghangatkan hatiku, karena senja bukan lagi milik kita.

komandan,
tidakkah kau tahu? aku hancur, berpuing, lebih kecil dari keping. tak ada yang bisa kupilah maupun kupilih, kebenaran itu meledakkan semuanya. semuanya. mimpi, impian, harap, asa bahkan angan.
masih kuingat tiap rencana kecil kita, tentang keinginanmu untuk merayakan tahun baru di Kota Gudeg, tentang rencanamu mengunjungi kampung halamanku, tentang rencanamu membawaku ke kota asalmu. semua masih terekam, amat jelas. aku seperti menonton film kala mengingatnya. beberapa hari yang lalu aku masih tersenyum saat mengingat semua, tapi tidak untuk kali ini. ahh bukankah aku berjanji untuk tidak menangis? maaf, aku harus mengingkarinya. sekali saja, biarkan aku ingkar. biarkan aku mengingat setiap memori yang pernah kita tabur, setiap inci kehangatan yang kau rengkuhkan, setiap tautan jemari kita yang menggenggam, ijinkan aku mengenangnya, malam ini saja. besok tak akan ada lagi air mata.

senja pertama yang kunikmati denganmu, tepat sehari sebelum aku kembali ke pangkuan ibu. dan senja terakhir kita dirundung duka, tanpa air mata, kita berpisah. berpisah tepat sehari setelah aku kembali ke kota. tak ada lagi senja kita, karena senja bukan lagi milik kita.

jika kau tanya aku apa yang kutahu tentang kehilangan, maka aku akan menjawab "Kita, yang telah menjadi kau dan aku"

Sunday, 1 September 2013

aku (masih) akan selalu merindumu

00:11 0 Comments


Aku menemukannya saat aku tertikam oleh seorang yang kuanggap sebagai teman baik. Aku bersandar padanya lebih dari yang aku tahu, aku menikmatinya, dan mungkin diapun juga begitu. Dia, sosok penuh canda dengan misteri berkabut di hatinya. Dia, sekokoh karang dengan kepekaan di rongganya. Dia, sungai yang terus mengalir tanpa muara. Dia, menenangkanku tanpa pelukan.  Dia, orang pertama yang mengenalkanku pada dunia abu-abu dengan goresan warna memukau. Dia, tak sanggup kuungkap dengan berjuta kata. Aku mencandunya.

Sore itu cerah, anak-anak senja berlarian menebar jingga. Dia menjemputku dengan vespa lawas miliknya. Kami memutuskan untuk tidak langsung berangkat karena aku yang masih lusuh. Kami duduk di beranda, tenggelam dalam pikiran masing-masing sambil sesekali bertukar tanya. Diam masih menjadi penguasa, hingga dia membisikkan sebuah rahasia sore itu, “aku baru bangun tidur langsung cuci muka, bersiap lalu meluncur ke sini”. Setelah mendengar itu akupun mengikuti idenya untuk sekedar berganti pakaian dan berdandan ala kadarnya. Mungkin dia tidak menyadari bahwa aku menyukai tiap celetukan gilanya. Tak menunggu waktu lama bagi dia untuk menyalakan vespanya dan memboncengku berkeliling kota. Kedai es krim menjadi satu-satunya tujuan kami saat itu.

Ini kali pertama kita menjejakkan kaki di kedai eskrim itu. Iya, karena kedai itu masih tergolong baru, selain itu, kami memang susah move on dari kedai favorit kami di seberang taman kota. Setelah memesan cemilan dan es krim tentunya, kami mulai (lagi-lagi) berbagi kisah tentang hidup dan cinta, diselingi tawa, walau terkadang helaan juga kerap menjadi pengungkap ekspresi. Kami tak menyapa senja sore itu, dan tanpa kusadari semburat ungu telah memenuhi angkasa. Lampu – lampu kecil di kedai itu berkelap – kelip menebar warna di tiap sudut. Aku dan dia masih tenggelam dalam kisah lalu, sembari menertawakan hal yang sama.

Dia mengajakku untuk menginap di rumahnya. Dengan cepat aku mengiyakan, bagaimana aku bisa menolak, aku merindunya. Amat merindunya, aku ingin terlelap di sampingnya (lagi). Malam itu kami habiskan bersama. Menonton film dengan durasi yang dipercepat karena membosankan, mengkritik sang aktor utama yang kami rasa kurang pas untuk memerankan tokoh utama. Aku memeriksa folder film miliknya, dan seleranya masih tak berubah, dia masih mencintai film yang penuh dengan darah (yang menurutku tak patut untuk ditonton). Setelah merasa tak ada film yang bisa untuk kutonton, kami memutuskan untuk menghabiskan malam di kamar. Aku dan dia tidur seranjang berdua, saling mengoceh dengan suara parau, hingga lelap mulai menenggelamkan kami dalam ketenangan. Malam itu aku bahagia, terima kasih teruntukmu.

Tidak banyak hari yang kulewati hanya berdua dengannya, tapi aku masih bersyukur bisa menemukan senyum itu. Aku berharap bisa menemukan senyumnya untuk yang terakhir kali, tapi sepertinya Tuhan mengajariku untuk tidak serakah. Pagi itu aku menyusulnya ke stasiun, dan sang masinis menjalankan kereta tepat saat aku tiba di tempat parkir. Persis seperti rekayasa FTV, tapi memang begitu adanya. Aku (masih) akan selalu merindukanmu, sahabat.