Pagi ini aku terbangun dengan pipi basah, rupanya semalam aku bermimpi sambil menangis. semalam dia datang, dengan baju kebanggaannya, tersenyum dan memelukku erat, mengusap keningku lalu mengecupnya, kami berbagi kisah, membiarkan ruangan dipenuhi oleh atmosfir gegap gempita. sayang, itu hanya mimpi. ah, aku terlalu merindunya. rindu bergejolak, berdesakkan memenuhi tiap sudut, menutup tiap rongga. dia telah pergi. pergi dan tak mungkin kembali.
rasanya masih terlalu malas untuk memulai aktifitas di akhir pekan, lalu kuputuskan untuk berjalan menyusuri alur lalu, dan kutemukan dia sedang tertawa, bercanda denganku. dia memang lebih tua dariku, tapi tak pernah kudapati dia begitu kolot seperti orang kebanyakan. kami menertawakan seekor kucing yang sedang mengejar ekornya sendiri, kucing itu berputar, diam, melompat, berputar lagi, namun tak kunjung mendapati targetnya. lalu aku mencoba berjalan sedikit maju namun masih dalam lembar lalu, kulihat dia sedang membaca koran sembari menyeruput kopi. kebiasaan yang dia lakukan tiap pagi, "mengetahui dunia luar itu penting", begitu ujarnya saat itu.
pernah ku terjatuh, terpuruk oleh masalah yang bahkan aku sekarang lupa apa yang menyebabkanku begitu terpuruk, karena yang kuingat hanyalah pelukannya menyambutku, dia mendengarkan segala keluhku, nasihatnya menenangkanku, dan senyum itu, senyum yang membuatku untuk bangkit. kini tak lagi kudapati dia yang menjadi penguatku, aku harus kuat seberapa seringpun aku terjatuh. "jatuh adalah pengalaman terbaik untuk membuatmu lebih kuat", kalimat yang pasti dia ucap saat aku menangis dan berlari ke pangkuannya.
masih kuingat, bagaimana dia dengan sabar mengajari sesuatu yang belum kutahu. dengan telaten dia membimbing dan mengarahkan tanganku, dan dia akan tertawa saat aku menemui kegagalan pertamaku. "orang gagal di saat pertama mencoba itu biasa, tapi kalau tiga kali itu namanya luar biasa, luar biasa ikhtiarnya", begitu hiburnya saat aku mulai menyerah. dan aku dengan semangat mencoba lagi.
banyak kenangan yang ingin kutonton pagi ini, tapi panggilan mama dari bawah menyadarkanku bahwa aku harus segera bergegas untuk menyiapkan tahlil setahun sepeninggalnya. kami akan berdoa bersama untuknya malam ini.
hai ayah, maaf karena aku mengawali hari ini dengan tangis kerinduan. terima kasih untuk kasih dan ketulusan ayah selama ini, maaf aku hanya bisa menyampaikan rentetan doa. aku berjanji aku akan berusaha membuat ayah bangga. aku sayang ayah.
*tulisan ini dibuat untuk sahabatku, maaf untuk segala kekurangan dalam tulisanku
akan kucoba lebih baik lain kali*
No comments:
Post a Comment