Tuesday, 7 October 2014

Sajak Saat Terik

16:36 0 Comments



Sajak ini benar-benar terinspirasi oleh karya M. Aan Mansyur


Jika saja memori dan kenangan adalah setoples kue, akan kubersihkan remahannya dan kubuang bagian yang hangus.

Hari itu terik menyengat, kita duduk di bawah sebuah pohon lebat dengan banyak pohon besar lain di sekeliling. "Di sini sepi, hanya kita berdua", begitu katamu. Nafasmu masih tersengal setelah bermain bola. Aku ingat bagaimana tiap titik peluh yang membasahi tubuhmu.

Kau membuka kaos basah itu yang sontak buatku menutup wajah, kau raih tanganku dan meletakkannya tepat dimana suara detak itu berasal, "Bisa kau rasakan tiap dentuman cinta ini? Ia akan berhenti jika kau pergi". Lalu bibir kita pun berpagut dalam harmoni.

Setiap kali matahari menyengat seperti ini, aku pasti mengingat dentum detak itu. Meski kututup rapat kedua telinga, detak itu masih menggema, sedikitpun tak berkurang, pun terlupa.

Dentum detak yang kukenal betul itu, kini menjelma sebagai rayap yang tak kenal kenyang. Dan aku hanya goresan tipis dalam lembar hidupmu.

Jika saja memori dan kenangan adalah setoples kue, pada terik seperti ini, sudah ada lelaki lain. Dada tegapnya menjadi sandaran, dan satu tangannya mengusap anak rambut, di kepalaku.