Tuesday, 24 December 2013

aku ingin menulis tentang rindu dan kenangan :|

22:44 1 Comments
Malam ini instingku terusik untuk menulis tentang rindu dan kenangan. namun aku terikat perjanjian yang tidak mengijinkanku jatuh cinta, merindu dan segala tetek bengek yang berhubungan dengan cinta, karena aku dan seluruh hidupku telah menjadi miliknya. sebenarnya ada 5 opsi yang dia tawarkan, tapi menurutku kelima opsi itu sangat tidak mungkin untuk kupenuhi di usiaku yang belum beranjak dari 20tahun.
jemariku gatal, ingin menuangkan segala yang aku rasa dalam bentuk tulisan acak adul. tapi janji adalah ikrar yang harus aku tepati, aku tak ingin dicap sebagai pengkhianat atau pengingkar janji oleh semesta.

4tune - Miss You Lyrics

22:25 0 Comments
Miss you
When I close my eyes, 
That's when you're near... 
I kiss you, 
But I know that I'm dreamin'
Girl, it's unfair
And I can't help but cry every night, 
When I'm weak & you're not by my side

Girl I just wanna hold you, in my arms
I think of you each day now we're apart
And I just want things back the way they were
Find a way back to your heart

Without you, 
I don't feel the same
Since you went away... 
I need you
And I just want you back, 
Here with me
And I can't help but cry every night, 
When I'm weak & you're not by my side

And I just wanna hold you, in my arms
Think of you each day now we're apart
And I just want things back the way they were
Find a way back to your heart.

And I just wanna hold you in my arms
Think of you each day now we're apart
And I just want things back the way they were
Find a way back to your heart... 

I miss you...

Thursday, 19 December 2013

Aku Tak Butuh Mainan Lagi

20:57 0 Comments
jarak selalu memisahkan kita tapi tak pernah berhasil memutuskan cinta. kita berjarak selama 4 tahun dan menganggapnya sebagai rintangan tersulit, tapi kita tak pernah benar-benar berpisah lalu saling melupakan, kita selalu ingat bahwa kita punya cinta yang tumbuh subur tersiram rindu karena jarak.

tidakkah kau tahu, terkadang jarak juga amat menyiksa, dia menghujaniku dengan rindu dan badai galau. keacuhanmu merunyamkan segalanya, aku makin terpojok dan butuh sebuah benteng. aku butuh benteng yang dapat melindungiku dari segala perasaan kalut, aku butuh benteng yang dengan rela menjadi pelampiasan amarahku.

aku memang mempunyai beberapa benteng, dan selalu ada penyeleksian sebelum menentukan. tapi sekuat apapun benteng itu, tak pernah ada yang bisa menahan serangan cintaku padamu, ntah kenapa cintaku tidak mau diam terlindungi dalam benteng.

kau tahu aku selalu berpulang padamu, bahkan ketika mainan terakhir yang amat kusayang mengkhianatiku, padamu. namun, pintumu telah tertutup rapat. kau tak mengijinkanku masuk lagi. beribu kata sesal terucap, tetes air matapun tak mengembalikanmu padaku. kau telah membenciku. aku sungguh menyesal, seandainya kesempatan itu masih ada. akan kujaga, akan kurawat, takkan kubiarkan diriku dihinggapi bosan, aku tak butuh mainan lagi, aku ingin kamu.






(Draft yang tersimpan sejak 30 Mei 2013 dan hanya bertambah satu paragraf sebelum dipublish)

hujan sore ini

20:49 0 Comments
Kali ini aku menulis dengan jemari kisut yang gemetaran. 2 jam yang lalu aku mengendarai kendaraan roda duaku dari kampus dengan hujan dan sapuan angin. Jangan tanya betapa menggigilnya aku, aku sungguh kedinginan, seperti hampir membeku, gigiku bergemelatuk, dan jantungku berdetak jauh lebih cepat. Tapi yang ada di benakku hanyalah hangatnya rumah dan buliran air hangat yang akan menormalkan temperature tubuhku. Setelah satu jam perjalanan dengan hujan yang tak kunjung mereda, aku tiba di depan pagar rumah. Kuketuk berkali-kali pagar bergembok itu, tak ada suara, semua seperti bergeming, tak seperti hujan dan petir yang sedang berpesta riang. Seluruh pakaianku tak luput dari air, tak ada se-milimeter-pun yang luput dari hujan sore ini. Kucoba menghubungi penghuni rumah melalui mediator karena kredit pulsaku ternyata tidak cukup untuk melakukan panggilan. Dan kabar yang kudapat adalah ternyata mereka sedang pergi. Ahh aku harus bagaimana, badanku basah, tubuhku menggigil. Kulihat rumah tak berpenghuni di ujung gang, tanpa menunggu lama aku memberanikan diri untuk menumpang berlindung dari hujan sore ini. Rumah ini mempunyai teras cukup luas, dengan beberapa anak tangga di depan pintu utamanya. Aku duduk di anak tangga paling rendah, menekuk kedua lututku, berharap sedikit kehangatan akan membelai kulitku yang mulai memucat. Beberapa menit kemudian, handphoneku bordering, isi percakapan di antara hujan membuat hatiku membuncah dan sedikit memberi kehangatan yang ditransfer melalui pembuluh nadi. Bagaimana tidak, tanteku berbaik hati akan membelikanku novel-novel yang sedang kuinginkan. Telfon berakhir dengan lengkung senyum yang bertahan agak lama, hingga kusadari hujan mulai mereda, namun penghuni rumah masih dalam perjalanan menujuku. Satu jam berlalu, jemariku makin kisut, tubuhku kian menggigil, aku harus mensugesti diriku sendiri untuk kuat dan tidak tumbang melawan dingin karena angin semakin kencang berhembus, menerpaku yang mengenakan kain-kain basah, seakan ingin membekukanku. Hampir dua jam aku menunggu, lalu kudengar kuda bermesin itu menderu, mendekat. Akhirnya mereka datang, Alhamdulillah Ya Allah.

Berhitung

20:49 0 Comments
Berhitung, aktifitas yang dibenci sebagian orang. Namun entah mengapa, berhitung seakan menjadi dasar dari setiap mata pelajaran dalam sekolah atau perkuliahan. Fisika, matematika, akutansi, bahkan dalam Bahasa Indonesia-pun kadang kita harus menghitung, entah menghitung bait atau menghitung kata saat akan membuat sebuah tulisan.


Pagi ini aku harus memulai hari dengan berhitung. Aku belum sepenuhnya membuka mata saat anak-anak matahari menelisik di lipatan kelambu, tapi aku harus menghitung berapa kata syukur yang harus kuucap tatkala kudapati sapaan mentari melalu jendela. Setelah sepenuhhnya tersada, aku harus menghitung dan memilah apa-apa saja dari hari kemarin yang harus kulanjutkan dan kutanggalkan di gantungan lemari masa lalu.
Dengan kantuk yang masih menggelantungi kelopak mata, aku menjejakkan telapak kaki di kamar mandi, kubiarkan bulir-bulir air dingin itu membekukan separuh mimpi semalam, lalu kudiamkan beberapa kenangan kelam dan masalah mengalir bersama air menuju selokan. Jangan suruh aku menghitung bulir air yang mencumbuku, aku belum gila!
Aku telah siap berperang dengan hari terakhir di weekday. Tapi sebentar, ada yang kurang. Aku belum menghitung jumlah rupiah yang tertata rapi di selipan dompet, aku harus berhemat dan benar-benar perhitungan terhadap pengularan. Karena kebutuhan dan harga yang terus meningkat, dengan pemasukan yang tetap, mau tidak mau aku harus mengeratkan ikat pinggang.
Kulihat jam yang melingkar di pergelangan tangan sebelum melajukan motorku, masih pagi. Kuhitung kira-kira pukul berapa aku tiba di kampus dengan kecepatan 40-60km/jam, mungkin kurang dari 45menit jika aku berangkat sekarang, macet belum meliuk sepagi ini.
Tepat seperti dugaanku, aku tiba di kampus 40menit kemudian. Kuparkir motor sesuka hati karena tempat parkir yang masih luas, dengan langkah ringan aku menuju lounge. Dan benar saja, mahasiswa yang datang sepagi ini bisa dihitung dengan jari, tak kurang dari 5 orang yang kutemui sepanjang koridor lantai 5.

Masih 30 menit lagi sebelum kelas pagi dimulai, tapi aku sudah lelah berhitung. Lalu aku mulai membuka novel dan membuka halaman dengan pembatas di selanya, lalu ku balik ke halaman paling belakang, tanpa sadar aku menghitung berapa jumlah halaman yang masih harus kubaca. Ah sial! Aku berhitung lagi.

Sunday, 15 December 2013

Esok yang Tak Berujung

20:09 4 Comments
Lelaki itu… entah turun dari planet mana, dia serupa malaikat pelindung. Badannya tinggi dan tegap, dadanya bidang; aku seperti bisa tenggelam di dalamnya, bahunya kerap menggodaku untuk merebahkan kepenatan. Pagi itu seperti biasanya, aku pergi ke kampus menggunakan kereta. Dan layaknya aktifitas sibuk pagi hari, banyak orang berdesakkan, berusaha menyelipkan badan mereka ke dalam gerbong yang telah penuh sesak. Badanku yang tergolong kecil terdorong ke depan saat akan masuk, rupanya ada seorang bapak paruh baya yang tanpa rasa bersalah hamper menjatuhkanku. Sontak, aku kaget dan hamper mencium lantai gerbong, tapi laki-laki itu menangkapku, entah bagaimana asal mulanya dia berada di depanku dan menyelamatkanku dari insiden “morning kiss”.

***** 

Gadis itu… pertama kulihat turun dari angkot, dia layaknya bidadari. Yayayaya, aku tahu bidadari turun dari kahyangan, namun dia serupa jelmaan bidadari yang turun dari angkot. Mulanya, kukira dia akan seperti gadis lain yang acuh terhadap sekitar. Namun dia berbeda, dugaanku salah. Dia mengucapkan terima kasih dengan senyum tulus kepada petugas loket, bahkan aku juga melihat gerak bibirnya saat mengucap terima kasih kepada supir angkot. Dia seperti melahap situasi di peron dengan mata bulatnya, setelah puas dengan itu semua, dia akan memasang earphone, dan merogoh sesuatu dari ranselnya, berbentuk seperti buku. Awalnya kupikir itu novel roman picisan atau teenlit yang sedang marak, ternuata itu adalah buku kumpulan dongeng, lengkap dengan gambar lucu seorang kakek botak dan katak di atas kepalanya. Ahh gadis itu… dia mencuri sebagian diriku untuk menikmati tiap detail gerakannya. Saat kereta datang, tubuh mungilnya berusaha menyelisip ke dalam himpitan manusia dalam gerbong, namun ada lelaki buncit paruh baya yang dengan sengaja mendorongnya, dia hampir saja terjerembab, untung saja aku telah bersiap di depannya, dan dengan sigap aku menangkap tubuh mungil itu lalu membantunya berdiri. Dengan muka pucat dia mengucap terima kasih dan ia tak lupa memberiku seulas senyum. Aku sungguh hidup hari ini!

*****

Lelaki itu.. akhirnya aku dapat mencium aroma badannya saat mengantri di loket. Aroma lelaki yang memacu adrenalinku untuk memproduksi hormon yang mengacaukan sistem saraf otak. Karena terhipnotis oleh aromanya, aku salah meletakkan sisi e-ticket­ pada tap-pad, dan dia tepat berada di belakangku, memperhatikan sejenak lalu membuang muka, aaakk ekspresi yang sungguh tidak kuharapkan. Sesaat setelah automatic gate terbuka, aku langsung menghambur ke dalam gerombolan manusia, menyeberangi rel untuk mencapai peron 2.

*****

Gadis itu.. masih dengan sejuta magnetnyaa, menarikku lebih jauh untuk menyelami matanya. Hari ini aku sengaja mengantri loket tepat di belakangnya. Aku bisa menebak parfum apa yang dia semprotkan ke badannya, bukan Bulgaria atau parfum wanita lainnya, aku mencium aroma bayi menyeruak dari tubuh mungilnya, sungguh segar. Tingkah lucunya pagi ini benar-benar menghidupkan hariku, dia meletakkan sisi e-ticket terbalik pada tap-pad, dan wajahnya merah padam saat menoleh ke arahku, aku pura-pura membuang muka karena aku takut dia memergokiku yang tak pernah bisa lepas dari pikatnya.

*****

Hari ini aku harus membenamkan diri ke dalam selimut. Demam menyerang, ini pasti karena semalam aku sengaja menikmati hujan lebih lama. Ada dentuman kecil dalam dada saat aku menyadari bahwa hari ini akan terlewati tanpa memandang lelaki itu. Semoga demam segera pergi, karena sesungguhnya rindu ini jauh lebih menyiksa.

*****

Pagi ini tak kutemui dia dengan senyumnya. Pada antrian loket, deretan bangku di peron, tak bisa kudapat sosok mungilnya. Bahkan sampai kereta terakhir pagi ini, tetap tak kulihat mata bulat itu. Dimana gerangan dia? Apa dia sakit? Atau dia mengalami kecelakaan saat menuju stasiun? Tuhan, jangan biarkan sugesti negatifku terjadi padanya. Semangatku hari ini melayang. Aku tak bisa lagi menghirup aroma tubuhnya, atau mencuri pandang ke tiap detail dirinya.

*****

Hari ini aku harus kuliah. Ah tidak, sebenarnya hari ini aku harus bertemu lelaki itu, mungkin saja hanya dengan menghirup aroma tubuhnya, demam sialan ini enggan untuk menetap. Dan di sinilah aku, di depan loket mengantri dengan balutan sweater dan syal, semoga rona merah di wajahku tak tertutupi oleh pucat. Kudapati lelaki itu di salah satu tiang depan loket, memandang ke arah jalan, lalu pandangannya menusuk tepat ke arahku, apa ini hanya perasaanku saja. Ah tidak, pandangannya benar-benar ke arahku. Semoga ada kata sapa terucap dari bibirnya, aku sungguh ingin mendengar suaranya.

*****

Akankah kutemui gadis itu pagi ini? Sehari tanpa melihat tingkah konyol dan aroma bayi khas dirinya, seperti ada yang hilang. Ah bukan itu, terlalu berlebihan. Mungkin seperti ada yang kurang. Kupacu kuda bermesinku lebih pagi dari biasanya, sekedar untuk memastikan bahwa aku tak akan ketinggalan gadis itu. Aku berjanji dalam hati, pagi ini akan kuberanikan menanyakan namanya atau minimal tersenyum.
Aku berdiri di salah satu tiang depan loket, mataku tak lepas memandang ke tempat para sopir angkot menurunkan penumpangnya. Dan beberapa saat kemudian, kulihat gadis itu turun. Dia memakan sweater yang lumayan tebal dengan balutan syal di lehernya, wajahnya agak pucak, perangainya sedikit lebih lemas, sepertinya dia sedang sakit. Namun senyum memikat itu masih mampu menyihir siapapun yang menatapnya. Aroma bayi yang menyeruak dari tubuhnya saat melintas di depanku membuatku ingin mendekapnya dan menghirup aroma tubuhnya lebih lama. Bagaimana bisa aku menyapa, jika tersenyum saja bibirku serasa kaku. Dia menghipnotisku tanpa perlu melakukan apa-apa.

*****

Terhitung mulai pagi ini papa akan mengantarku ke kampus tiap pagi. Tak akan ada lagi suara operator yang mengumumkan datangnya kereta, tak akan ada lagi aktifitas mengantri di loket, tak akan ada lagi sosok itu, sosok lelaki yang bahkan suaranya pun tak pernah kudengar, namun bisa membuatku rindu sedemikian rupa. Selamat tinggal, kamu.

*****

Semalaman aku memikirkan bagaimana cara untuk berkenalan dengan gadis itu, berbagai frasa telah kurangkai sekedar untuk mendapatkan kalimat yang pas tanpa terkesan picisan. Beberapa topik telah kususun seandainya aku kehabisan bahan pembicaraan, salah satunya tentang dongeng yang kerap ia baca. Aku siap untuk menyapamu, gadis. Pagi ini aku mematut diri di cermin sedikit lebih lama, memastikan tak ada sisa makanan di sela gigi dan rambut yang berantakan, aku harus terlihat memukau di depannya. Dengan percaya diri, kutunggu dia di depan loket. Sejam, dua jam, hingga jam ke-6 berlalu, tak kudapati parasnya. Mungkin hari ini dia sakit lagi, karena kemarin kulihat dia belum begitu pulih untuk menantang dunia.

Esoknya aku kembali menunggu, namun lagi-lagi tak kudapati sosoknya. Esok, esok, dan esok seterusnya aku tetap menanti di loket dan bangku peron 2. Menanti ia yang tak pasti, yang mungkin tak akan kutemui lagi.

Dia

18:16 0 Comments
Dia..
Sosok yang tak jauh dari frasa sempurna.
Senyumnya membius gundah yang melanda.
Binar matanya menghipnotisku untuk tidak berkata iya.
Titahnya seakan tak pernah terdengar salah.

Dia..
Rela menantang sang pekat untuk menjagaku.
Rela berpeluh di bawah terik untuk menghidupiku.
Rela menerjang hujan untuk menjemputku.
Rela bertahan walau lapar sekedar agar perutku penuh.

Berjuta terima kasih tak kan bisa membayarnya.
Bermilyar rupiah tak kan cukup melunasi hutangku padanya.

Dia..
Seorang yang kupanggil Ibu
Serupa malaikat mewujud manusia

Wednesday, 4 December 2013

secuil pagi di bulan Desember

00:50 0 Comments
jauh sebelum matahari menyelisip di balik tirai jendela, aku telah membuka mata dan mengucap beberapa doa pada Sang Maha Kuasa. pagi ini adalah senin pertama di bulan desember. bulan yang menutup lengkapnya 12bulan dalam setahun. hari ini tak seperti biasanya yang kuisi dengan keruwetan ala weekday di pagi hari. aku dengan santai mengawali hari dengan sit-up (yang tak pernah kulakukan), lalu pergi ke kamar mandi, melunturkan sisa-sisa mimpi semalam, mimpi tentang kenangan dan angan tentangnya. ah iya, sebelum mandi, kusempatkan menuju dapur untuk menggoreng sebutir telur untuk menyumpal perutku yang berteriak ingin disupply. setelah semua ritual pagi selesai, aku mematut diriku di cermin. sebenarnya beberapa hari belakangan, terbesit hasrat untuk melepas hijab yang hampir setahun aku kenakan, namun aku harus belajar berkomitmen dengan keputusanku untuk berhijab, jadi aku tetap mengenakannya.

pukul 05.15, aku telah siap untuk berangkat. terlalu pagi memang, jadi kuputuskan untuk menengok lemari bukuku dan memilih buku apa yang akan kubaca hari ini. karena hari ini aku pergi dengan menggunakan transportasi umum menuju kampus (aku mengendarai motor pada hari biasanya), aku harus menyiapkan bacaan yang bisa kubaca dan kupotong seenaknya, pilihanku jatuh kepada sebuah kumpulan cerpen. jam di dinding ruang keluarga tepat menunjukkan pukul 05.30, kuputuskan untuk bergegas, mengingat padatnya jalanan ibukota di jam berangkat kantor.

awalnya aku ingin mendengar percakapan orang-orang sebelum memulai aktifitas mereka, namun yang kudengar hanya keluhan tentang harga-harga bahan pangan kian menjulang, ada juga bibir yang memilih untuk terkatup entah karena alasan apa, dan suara bisingnya kendaraan yang saling menyalip, seakan terbirit-birit dari kejaran serigala. kuputuskan untuk memasang earphone di telingaku, lagu-lagu sendu mulai mengalun, aku mengutuk diriku sendiri yang terlalu malas meng-update playlist handphoneku.

menurutku, kereta akan menjadi solusi terbaik untuk menjauhkanku dari kata terlambat atau terlalu siang. jadi, aku berpindah dari satu angkot, ke angkot lainnya untuk mencapai stasiun. sesampainya di stasiun, banyak orang telah menunggu kereta di tiap peron, bapak ibu yang siap berangkat ke kantor, atau murid berseragam putih-putih, setahuku dulu murid SMA berseragam putih- abu-abu. rupanya kebijakan pemerintah berubah. bahkan pemerintahpun bisa labil, hahahaha, seharusnya kebiasaan baik tetap dijaga, apa salahnya mengawali awal minggu dengan seragam kebanggaan anak SMA, putih-abu-abu. ah sudahlah, terlalu pagi untuk mengutuk kebijakan pemerintah yang tak bijak. kukeluarkan kumpulan cerpen yang tadi aku selamatkan dari pengapnya lemari buku, kubuka cerita favoritku, aku sudah akrab dengan kertas dan aroma buku ini, dengan mudah jari dan mataku menemukan halaman cerita pendek yang kumau. kubunuh waktu dengan membaca tiap frasa yang tertulis di atas kertas, tanpa terasa, pengumuman dengan denting khas stasiun membuyarkan konsentrasiku, aku harus berdesakkan dan menyelipkan badan mungilku di antara badan-badan tegap dan penuh hasrat menyesakki tiap gerbong kereta pagi ini. tak butuh lebih dari 10 menit untuk mencapai stasiun yang kutuju. seperti halnya saat akan menaikki gerbong ini, turunpun butuh usaha lebih keras, ada banyak orang egois yang masih berdiam di tempatnya tanpa mengindahkan aku yang ingin turun, dan di depan pintu gerbong kudapati orang yang sama egoisnya, mereka tetap menjejalkan diri mereka ke dalam gerbong tanpa mempedulikan orang-orang yang ingin keluar dari himpitan manusia dalam gerbong itu.

Setelah usaha (ekstra) keras aku keluar dari gerbong itu dan menuju pintu keluar, menunggu angkot yang mengarah ke kampus. beberapa saat berlalu, angkot itu datang dengan beberapa penumpang di dalamnya, untung tak ada acara ngetem seperti kebanyakan kebiasaan angkot pada umumnya. jangan ditanya tentang jalan yang aku lewati, karena macet sudah pasti kutemui bahkan di jalan tikus sekalipun. macet panjang mulai membuatku gundah, dan aku memilih untuk membuka kembali kumpulan cerpen dan tenggelam di dalamnya. entah berapa lama aku menyelam, tiba-tiba kudengar suara si supir menyuruhku dan satu penumpang lainnya untuk pindah (oper) ke angkot lainnya. dengan langkah ogah-ogahan aku turun dari angkot dan menuju angkot yang ditunjukkan oleh supir tadi. aku sengaja memilih duduk di bangku depan, sekedar untuk mengedarkan pandanganku ke pemandangan pagi khas ibukota, sembari menerka apa yang ada di dalam pikiran sang pengemudi mobil yang hanya berisi dirinya, dan membiarkan raga serta waktunya terjebak macetnya ibukota, terlintas juga di benakku tentang pengendara motor yang mengklakson dengan serta merta, kemana mata mereka? sudah jelas kemacetan terhampar sepanjang jalan. "Good time flies fast", begitulah filosofi dari dosen Accountingku, dan filosofi itu benar adanya. tanpa terasa pengamatanku tentang macetnya ibukota pagi ini harus berakhir dan berganti dengan aktifitas khas mahasiswa. Terima kasih Tuhan, telah mengijinkanku menyicipi secuil pagi di bulan Desember :)

Sunday, 1 December 2013

23 hari 3 jam 11 menit (repost)

00:13 0 Comments

23 hari 3 jam 11 menit

February 21, 2011 at 9:49pm (facebook)


ketika jariku menari di atas keyboard ini, aku bener-bener gatau mau ngetik apa.
yang ada di otakku cuman ujian dan kamu. yaah, 3/4 otakku emang cuman dipenuhi kamu.
kamu kamu kamu dan kamu.
sederet kejadian setelah kamu pergi.
mulai dari kangen biasa, sampe kangen yang bener-bener kangen, trus sampe kangennya gak bisa diungkapin. uda semua.
sekarang kangen yang berlapis-lapis itu harus dilapisi selembar lagi, tapi kali ini sakit yang jadi lapisan terakhirnya.
aku jadi malu sama temen-temenku, terutama diriku sendiri. waktu aku ngasi nasehat ke sobatku tentang apa yang harus dia lakuin ke depan. dan sekarang aku, aku tersandung di masalah yang sama. gatau harus ngapain. cuman bisa nangis sampe air mata kering, nangis sampe sarung bantal basah, nangis sambil sesenggukan dan mengutuk diri sendiri, mengolok diri sendiri.
hmm, may I call you "golia"?
well, golia ini sekarang uda berubah. sebelum dia pergi aku uda nebak pasti ini bakal terjadi, pasti wes. tapi dia dengan seribu alasannya bisa bikin aku percaya. tapi namanya juga omongan, bukan hitam di atas putih. pasti banyak yang diingkarin. huhu :(
dont you know dear? aku sakit, sakit ngerasain kamu yang sekarang. kamu skg uda jauh, jauh jarak jauh hati :( kamu jutek, cuek .. awalnya aku mikir mungkin ini karena kamu kecapekan ato apalah. tapi kok sering banget .. huhu TT kenapa kamu harus berubah kyk skg?

aku kangen kamu, buni. kangen :'(

2thn = 2bln (repost)

00:12 0 Comments

2thn = 2bln

April 22, 2011 at 11:11pm (facebook)


malem ini keusilanku bikin aku tau sesuatu yg dianggep remeh tapi bisa nyakitin segini sakit.
well, aku akuin aku lancang buka akunmu. soalnya kalo bukan aku sendiri yg cari tau, kmu ga bakal cerita #ngeles
awalnya aku cuman pengen tau gimana rasanya online pake akun orang, tapi saraf usilku nyuruh aku buat buka page message.
gausa babibu langsung deh aku klik page itu. pas uda kebuka full. wuii, jujur otakku loading bentar, "buset, ni orang kurang kerjaan banget ngemessage cewek segini banyak".
trus saraf ingin tauku yang bekerja, nyuruh aku buat ngebuka salah satu message yang dia kirim.
awalnya cuman tanya babibubebo, sampe akhirnya menjurus ke satu pertanyaan yang bikin aku nyesek saat itu juga
"kamu mau gak jadi cewekku?
yups, bener banget! pertanyaan itu yg bikin aku nyesek seketika. berasa disamber gledek, atiku langsung wuss wuss.
aku pikir cuman satu yang dia tanyain kyk gtu. tapi ternyata ada 2.
tanpa disuruh ni air mata langsung ngalir deres banget, setan dgn mudah ngeracuni pikiranku. ditambah lagi tingkah lakunya yg suka ngilang akhir2 ini. jadi bikin susah buat mikir positif kalo ada di sikon kyk gtu.
langsung aku ambil hp jadulku, aku pencet tutitutitt berharap smsku gak pending.
gak lama setelah itu dia bls smsku dgn polosnya "maksudnya apa hun?" wuss, langsung tambah naik ni darah. "uda salah, masi aja sok polos", pikirku tadi.
gak puas cuman smsan, aku telfon dia. apa maksudnya dia ngomong gtu ke cewek lain, dan sekali lagi tanpa rasa bersalah dia bilang "itu game di kaskus, kyk berani berani-beranian gitu"
aku diem, ga bisa jawab apa apa. cuman diem sambil mikir, "ya Alloh, ni cowok yang aku sayang malah main game kyk gtu tanpa peduliin perasaanku"
aku sampe gatau apa yang aku rasain pas dia ngomong gtu.
akhirnya aku putusin aja buat akhirin semuanya malem ini, tapi dia dan sms maafnya bikin aku bimbang.
"maaf sayangku ;-(", itu sms terakhir dia di  inboxku.
aku bingung, gatau harus ngapain. kalo dimaafin, akunya yg sakit. kalo gak dimaafin, aku gak tega.
ottuke? what should I do? Aku kudu lapo?

Rindu (repost)

00:11 0 Comments

r i n d u

November 17, 2012 at 12:54pm (Facebook)

ntah berapa detik yg kulewati tanpamu. aku lelah menghitungnya. 
ntah berapa malam yg terlewat tanpamu. aku telah membeku dalam rindu 
ntah berapa pagi yg kulewati tanpa binar senyummu. karena aku gontai melalui sisa hari-hari itu. 
ntah berapa jauh ku melangkah tanpamu. hingga aku rasa aku tersesat. 
ntah berapa kali aku menyebut namamu. tapi kau tak kunjung datang. 
ntah berapa lama kita tidak seperti dahulu.. 


sayang... 
tangan ini mati rasa. seperti terkurung dalam bongkahan es. 
tidakkah kau ingin menggenggamnya seperti dahulu? 

tubuh ini berpeluh rindu. lemas tak bertenaga. 
tidakkah kau ingin menopangku dalam peluk? 

kepala ini enggan menunduk. 
hanya menunduk saat kau akan mencium keningku. 
tidakkah kau ingin melakukan itu lagi? 


aku rindu mengelilingi kota itu di atas motormu. 
menghirup oksigen yang sama, melalui hujan dan panas bersama, 

aku rindu menikmati segarnya es oyen di desamu. 
aku rindu menikmati jagung bakar di taman kota. 
aku rindu menikmati ketan legenda di kota Apel. 
aku rindu menikmati rujak buah dan es kelapa muda di pinggir Jalan SoeHat. 
aku rindu menikmati tiap hal sederhana bersamamu. 
bahkan aku rindu tiap pertengkaran kecil kita. 

aku terperangkap dalam labirin rindu yang kita buat, sayang

masih tentangmu

00:06 0 Comments
Detik terus berputar, menit membentuk jam, dan hari terus berganti.
waktu tetap berjalan tanpa mempedulikan hati yang masih terseok.
kau yang tak kutahu lagi kabarnya telah menghilang,
menguburku jauh ke dalam penyesalan dan rindu.

ada sesak mengguncang batin,
dan tangis yang membuncah tiap malamnya.
ada hati yang rindu untuk kaucinta. 
ada telinga yang rindu untuk kau sapa. 
ada mata yang rindu untuk memandanmgimu. 
ada bibir yang rindu untuk berbicang denganmu. 
ada kening yang rindu untuk kecup. 
dan ada raga yang rindu untuk kaurengkuh. 
setiap detail diriku merindumu, Tuan.

semua yang kuingat, masih tentangmu.
semua yang kupikir, masih tentangmu.
semua yang kukenang, masih tentangmu.
bahkan semua yang ingin kulakukan, masih tentangmu.