Aku mengenangmu dengan caraku,
menulis entah di secarik kertas atau di atas keyboard. Aku merindumu dengan
caraku, entah dengan menangis atau merenung. Seperti yang aku lakukan mala mini,
aku mengenang deretan 31 desember kita. Untuk pertama kalinya selama 4 kali
pergantian tahun, aku merayakannya tanpamu.
31 Desember 2009
Pergantian tahun yang kurayakan
pertama kali bersamamu, dan sahabatku di Puncak Kota kita. Aku sungguh gembira
malam itu, karena untuk kali pertamanya aku melihat kembang api meletup-letup
dari segala penjuru.
31 Desember 2010
Aku lupa apa yang kita lakukan di
tahun itu. Seingatku kau pergi bersama keluargamu ke Alun-Alun Sidoarjo.
31 Desember 2011
Kita memutuskan untuk pergi ke
Payung, dan macet sungguh tak terelakkan malam itu. Tapi kamu menerjangnya, dan
aku hanya bisa mengoceh di belakangmu. Malam itu kita tidak mendapatkan tempat
yang pas untuk menonton kembang api, tapi aku tetap senang bisa menghabiskan
malam itu bersamamu.
31 Desember 2012
Malam itu kita merayakannya
bersama keluargaku, kebahagiaanku berada di puncaknya. Kamu berada di tengah
keluargaku, sungguh malam yang sempurna. Aku ingat bagaimana ekspresi dan
tawamu saat bermain remi 41 dengan sepupuku yang paling kecil, Thomas. Kamu menginap
di rumah utiku, dan sebelum tidur kita main remi dengan taruhan konyol hahaha. Pagi
sebelum kamu pulang, kita berkeliling kota kecil kita, lalu kembali ke rumah
sejenak. Dan sebelum kamu berpamitan dengan utiku, kamu mengecup keningku
beberapa kali di ruang tamu. Aku menyebutnya secuil kisah kita di ruang tamu.