Stasiun dilambangkan sebagai simbol sebuah perpisahan, permulaan atau pertemuan dua insan yang saling merindu. Ada yang menangis saat harus melepas kepergian orang terkasih, ada pula tangisan haru karena bertemu dengan yang lama terpisah jauh, dan ada yang tak sengaja bertatap muka, saling tersenyum lalu bertukar nama.
Belakangan kuketahui, bahwa stasiun juga merupakan simbol sebuah
penantian--- sebuah kedatangan yang tak kunjung menampak.
Sekitar pukul 3 sore, saat terik telah menyingsingkan sebagian silaunya,
sesosok gadis kan memasuki stasiun, membeli sebotol air, lalu duduk di peron 2.
Saban hari dia kan duduk di sana, hingga malam. Tak ada yang tahu apa yang dia
tunggu. Petugas stasiun yang telah akrab dengan kehadiran gadis itu kan
membiarkannya duduk tanpa bertanya kereta tujuan mana yang ia tunggu, atau
siapa yang ia nanti kedatangannya.
Tapi aku mengetahui segala kisah yang terjadi di stasiun ini, segala yang
melintas dan menetap di peron 2. Amelia, nama gadis itu. Pertama kali aku
mengenalnya dia tak semurung itu, tak ada duka tersimpan di matanya. Dia selalu
penuh semangat membawa ransel dan barang bawaannya saat libur semester
kuliahnya tiba. Ayahnya kan melambaikan tangan saat menemukan putrinya tengah
kebingungan di antara kerumunan.
********************************
5 tahun lalu ....
“Selamat datang di Stasiun Gubeng,
penumpang yang hendak turun diharap memperhatikan barang bawaannya. Jangan
sampai tertinggal, terjatuh atau tertukar. Kereta tujuan Malang akan berangkat
30 menit lagi. Para penumpang yang hendak naik diharapkan mendahulukan
penumpang yang turun” ujar operator stasiun.
Amelia turun di peron 4, dengan carrier bag di punggung dan sebuah travel
bag yang berisi oleh-oleh untuk sanak saudara di rumah. Dia menelongok jauh ke
depan, mencari sosok ayahnya.
“Lia.. Lia.. Ayah di sini, Nak!”
teriak ayahnya.
“Ayaaaaaaaahhh ...” Amelia langsung menghambur dalam pelukan sang ayah.
“Ayah uda lama? Ibu mana? Ibu pasti lagi masak ya? Ibu masak apa, Yah?”
Ayahnya hanya tersenyum mendengar rentetan pertanyaan dan ocehan Lia.
Mereka berjalan beriringan menuju mobil Kijang. Tak lama setelah mobil melaju,
Lia terlelap.
Sesampainya di rumah, Ibu telah menunggu Lia di pintu depan, beliau memeluk
putri semata wayangnya. Mengecup pipinya berkali-kali lalu mengantarnya ke meja
makan. Aroma tempe penyet sambel ijo
beserta kemangi menggugah nafsu makan Lia yang memang sedang meraung untuk
dipuaskan.
Selesai bersantap, Lia berbenah barang-barangnya dan membagikan cindera
mata berupa cemilan untuk tetangga sekitar rumah. Dia tidak lupa mampir di
warung es degan favoritnya sejak SMP
dan memesan segelas es degan madu
untuk ditenggaknya. Lia tidak menyadari bahwa seorang pemuda di depannya telah
menghabiskan 3 gelas es degan madu di
saat Lia hanya menenggak setengah gelas. Lia baru tersadar saat pemuda itu
memesan satu gelas lagi.
”doyan, laper atau maniak degan, Mas?”
begitu tanya Lia
Pemuda itu menjawab Lia dengan nada bangga, “ini perayaan untuk diriku sendiri atas diterimanya diriku bekerja di
Bangka”
“Wah, selamat ya! Aku juga mau dong
bersulang satu gelas es degan untuk keberhasilanmu”, ujar Lia sembari
mengharap mendapat segelas es degan.
“Boleh, monggo-monggo. Yadi”,
ucap pemuda itu sembari mengulurkan tangan
“Lia.”
Segelas es degan mendekatkan mereka berdua. Dari cerita Yadi, Lia
mengetahui bahwa Yadi bukanlah penduduk asli Surabaya, dia baru beberapa bulan
pindah dari Kalimantan.

