Monday, 20 April 2015

Peron Dua (Part 1)



Stasiun dilambangkan sebagai simbol sebuah perpisahan, permulaan atau pertemuan dua insan yang saling merindu. Ada yang menangis saat harus melepas kepergian orang terkasih, ada pula tangisan haru karena bertemu dengan yang lama terpisah jauh, dan ada yang tak sengaja bertatap muka, saling tersenyum lalu bertukar nama.
Belakangan kuketahui, bahwa stasiun juga merupakan simbol sebuah penantian--- sebuah kedatangan yang tak kunjung menampak.
Sekitar pukul 3 sore, saat terik telah menyingsingkan sebagian silaunya, sesosok gadis kan memasuki stasiun, membeli sebotol air, lalu duduk di peron 2. Saban hari dia kan duduk di sana, hingga malam. Tak ada yang tahu apa yang dia tunggu. Petugas stasiun yang telah akrab dengan kehadiran gadis itu kan membiarkannya duduk tanpa bertanya kereta tujuan mana yang ia tunggu, atau siapa yang ia nanti kedatangannya.
Tapi aku mengetahui segala kisah yang terjadi di stasiun ini, segala yang melintas dan menetap di peron 2. Amelia, nama gadis itu. Pertama kali aku mengenalnya dia tak semurung itu, tak ada duka tersimpan di matanya. Dia selalu penuh semangat membawa ransel dan barang bawaannya saat libur semester kuliahnya tiba. Ayahnya kan melambaikan tangan saat menemukan putrinya tengah kebingungan di antara kerumunan.

********************************
5 tahun lalu ....
Selamat datang di Stasiun Gubeng, penumpang yang hendak turun diharap memperhatikan barang bawaannya. Jangan sampai tertinggal, terjatuh atau tertukar. Kereta tujuan Malang akan berangkat 30 menit lagi. Para penumpang yang hendak naik diharapkan mendahulukan penumpang yang turun” ujar operator stasiun.
Amelia turun di peron 4, dengan carrier bag di punggung dan sebuah travel bag yang berisi oleh-oleh untuk sanak saudara di rumah. Dia menelongok jauh ke depan, mencari sosok ayahnya.
Lia.. Lia.. Ayah di sini, Nak!” teriak ayahnya.
“Ayaaaaaaaahhh ...” Amelia langsung menghambur dalam pelukan sang ayah.
“Ayah uda lama? Ibu mana? Ibu pasti lagi masak ya? Ibu masak apa, Yah?”
Ayahnya hanya tersenyum mendengar rentetan pertanyaan dan ocehan Lia. Mereka berjalan beriringan menuju mobil Kijang. Tak lama setelah mobil melaju, Lia terlelap.
Sesampainya di rumah, Ibu telah menunggu Lia di pintu depan, beliau memeluk putri semata wayangnya. Mengecup pipinya berkali-kali lalu mengantarnya ke meja makan. Aroma tempe penyet sambel ijo beserta kemangi menggugah nafsu makan Lia yang memang sedang meraung untuk dipuaskan.
Selesai bersantap, Lia berbenah barang-barangnya dan membagikan cindera mata berupa cemilan untuk tetangga sekitar rumah. Dia tidak lupa mampir di warung es degan favoritnya sejak SMP dan memesan segelas es degan madu untuk ditenggaknya. Lia tidak menyadari bahwa seorang pemuda di depannya telah menghabiskan 3 gelas es degan madu di saat Lia hanya menenggak setengah gelas. Lia baru tersadar saat pemuda itu memesan satu gelas lagi.
doyan, laper atau maniak degan, Mas?” begitu tanya Lia
Pemuda itu menjawab Lia dengan nada bangga, “ini perayaan untuk diriku sendiri atas diterimanya diriku bekerja di Bangka
Wah, selamat ya! Aku juga mau dong bersulang satu gelas es degan untuk keberhasilanmu”, ujar Lia sembari mengharap mendapat segelas es degan.
Boleh, monggo-monggo. Yadi”, ucap pemuda itu sembari mengulurkan tangan
Lia.

Segelas es degan mendekatkan mereka berdua. Dari cerita Yadi, Lia mengetahui bahwa Yadi bukanlah penduduk asli Surabaya, dia baru beberapa bulan pindah dari Kalimantan.

No comments:

Post a Comment