Seorang wanita yang diteriaki
lelakinya hanya memutar bola mata sembari memoles blush on pada pipi tirusnya.
Badannya yang ramping, dibalut oleh gaun anggun berwarna nila sepanjang lutut
dengan kalung mutiara melingkari lehernya, beralaskan kaki sebuah wedges
berwarna silver, penampilan wanita ini sungguh mempesona.
Setelah mematut diri sekali lagi
dan merasa yakin dengan penampilannya. Wanita itu keluar dari kamarnya dan
memegang dengan halus pundak lelaki itu. “yuk berangkat”, begitu ujarnya.
Mungkin sang lelaki terlalu terbiasa dengan pesona wanita itu, sehingga dia
merasa tidak ada yang istimewa dengan penampilan wanita itu hari ini.
Sang lelaki bernama Suryo yang
beristrikan Nephy, gadis blasteran Indonesia – Rusia. Perbedaan usia pasangan
suami istri itu terpaut cukup jauh, sekitar 22 tahun. Awal mula mereka bertemu
di sebuah perhelatan akbar acara fashion show yang dihadiri oleh model-model
ternama. Suryo yang merupakan investor salah satu designer, tertarik pada Nephy
yang tak lain adalah model dari designer yang ditanami modal oleh Suryo. Tak
sulit bagi mereka untuk saling mengenal karena sang designer berkenan membantu
proses penumbuhan benih cinta mereka. Tak perlu waktu lama bagi Nephy untuk
mendapat sebuah lamaran pernikahan dari Suryo, dan beberapa minggu kemudian
mereka mengadakan sebuah acara pernikahan khidmat namun elegan di sebuah taman
di kawasan Bogor.
Siang ini mereka akan menghadiri
acara launching sebuah hotel mewah di bilangan Kemang. Suryo yang merupakan
salah satu stakeholder terkuat di hotel tersebut mendapatkan undangan VIP.
Sejak memasuki lobi hotel, Suryo banyak mendapat sambutan sapaan, berbagi salam
tangan dengan tiap orang yang ditemuinya. Nephy seperti boneka yang hanya
mengekor Suryo dan melempar senyum manis berkharisma pada tiap orang yang menyapanya
sebagai Nyonya Suryo.
Acara siang itu berlangsung
meriah dan sesuai dengan rundown yang tertulis. Saat Suryo memberikan pidato di
depan, Nephy beralih ke belakang untuk mengambil minum dan cemilannya. Nephy
benci berada di tempat ramai tanpa ada siapapun di sampingnya, Nephy benci di
nomor duakan, termasuk oleh bisnis yang dikelola suaminya.
Saat hendak mengambil cemilan,
ada seorang wanita paruh baya yang kebetulan mengambil cemilan yang sama.
Mereka saling bertukar senyum sesaat, sembari Nephy mempersilahkan wanita itu
untuk mengambil terlebih dahulu.Dalam perjalanan pulang, Nephy hanya diam, dia
merasa kesal karena sikap Suryo yang tak menganggap dirinya ada. Namun Suryo
tak mengindahkan sikap diam Nephy, dan itu membuat Nephy makin kesal.
Sesampainya di rumah, ketika
Suryo minta disiapkan air hangat untuk mandi, Nephy tak menjawab. Dia hanya
berjalan ke kamar mandi, memutar kran air ke panah berwarna merah, yang
menandakan air hangat akan mengucur dari kran tersebut. Saat Suryo sedang
menikmati aromateraphy lavender berpadu dengan air hangat, ponsel Nephy
berbunyi dan menampilkan sebuah pesan singkat.
“Apa kabar kau di sana? Selalu
jaga ayahmu, ya nak”

No comments:
Post a Comment