Hujan kembali berderap, membasahi tanah yang belum kering karena hujan semalam. Bangunan megah itu masih terlihat kokoh, dengan lampu terang nan hangat yang menyinari tiap ruangannya, ada pula kemerlip lampu pada taman yang menambah keindahan. Seakan menghiraukan hujan, bangunan itu menawarkan kehangatan di dalamnya, dia tak peduli hujan jatuh lebih banyak atau air di saluran mengalir lebih deras. Dia menulikan diri terhadap dentuman petir yang menyambar, dia pun menutup mata dari kilatan yang menyilaukan mata layaknya blitz kamera.
Di halte yang berseberangan
dengan gedung itu, terlihat seorang gadis yang selalu duduk di situ sepanjang
sore. Tak peduli hujan sedang deras atau matahari menyengat, dia akan duduk di
situ sembari memangku sebuah ransel orange yang mengembung dan membaca sebuah
novel.
-SI GADIS-
Ah sore, harusnya kau tak
semendung ini. Hujan terlalu deras untuk kulalui sendirian saja, dinginpun
terlalu menusuk untuk aku yang hanya berbalut jumpsuit dan sweater tipis. Halte
inipun terlalu sempit untuk melindungiku dari pantulan air hujan yang
berbenturan dengan jalanan, tak jarang pula cipratan air dari mobil turut
membasahi sepatu atau celanaku.
Aku selalu berteman sore dan
ransel orange. Sore selalu menaungi, tak peduli ia tengah sedih atau berjingga,
ia akan selalu ada. Begitu pula dengan ransel orange, tas menggembung yang
berisikan benda-benda kenangan dan sebuah kotak yang kuisi dengan berbagai
kebahagian mengejutkan.
Aku tak pernah lupa untuk membawa
ransel orange saat keluar rumah. Isi dari ransel itupun tak pernah berubah,tak
pernah kukeluarkan, karena aku takut lupa untuk memasukkannya kembali. Pernah
suatu ketika, ada seorang teman menyembunyikan ransel orangeku selama 2 hari,
aku seperti kehilangan sebuah pegangan, karena aku tak pernah berpisah dari
ransel orange, makanpun aku enggan, aku menjalani 2 hari itu dengan tampang
kusut. Mungkin ransel orangeku akan “hilang” lebih lama jika tak ada dia yang
meminta temanku untuk mengembalikannya padaku. Iya, DIA! Dia membuatku lebih
mencintai ransel orangeku.
Dulu, pada tiap sore yang biasa
aku dan dia selalu menunggu bis di halte ini sepulang sekolah. Dia dengan jam
sport di pergelangan tangan kiri dan sebuah ransel yang hanya diselempang
sembarangan. Aku masih ingat bagaimana ekspresinya saat bis yang seharusnya
tiba pukul 16.30 ternyata terlambat karena kemacetan saat Pak Presiden
mengunjungi kota kami. Sampai saat inipun aku masih dapat mencium aroma macho
tubuhnya dan cengiran khasnya saat kudapati dia sedang menjahili seseorang.
Aku masih ingat bagaimana
ekspresinya saat menanyakan padaku apa arti ransel orange ini, dia mengatakan
bahwa dia khawatir saat melihatku murung karena kehilangan ransel orangeku. Aku
tak menjawab apa-apa, hanya tersipu dan tersenyum. Lalu di luar dugaanku, dia
menyambar ransel orange yang sedang kupangku dan membawanya lari, sontak aku
berteriak, dan ku dengar ia tertawa terbahak sembari berteriak “Ayo sini,
susulin aku! Hahahaha”. Aku hanya diam, duduk memandanginya tanpa berusaha
mengejarnya karena aku terlalu lemah untuk berlarian, saling mengejar seperti
adegan-adegan film Bollywood bukanlah hobiku. Tak butuh waktu lama untuknya
menyerah dan kembali lalu mengembalikan ranselku. Sama sepertimu, sore, aku
yakin dia pasti kembali, tepat seperti waktu dia berlari lalu kemudian kembali.
Setelah kejadian dia membawa lari
ranselku, malamnya aku membongkar isi ranselku untuk mencuci lunch box dan
botol minum, tapi tetiba mataku tertuju pada sebuah amplop coklat besar yang
aku ingat betul bukan milikku. Segera kuambil amplop itu, dan ada post it
tertempel di satu sisi, tertulis “ini kejutan untukmu, setelah kau membaca ini,
percayalah aku pasti kembali padamu, persis seperti tadi siang”. Kubuka amplop
itu dan kutemukan beberapa carik kertas tentang penerimaan Mahasiswa Baru di Hz
University, Belanda, ada pula kertas duplikat tiket keberangkatan. Rupanya dia
berangkat besok sore, penerbangan jam 6 sore dari Bandara Internasional
Soekarno-Hatta. Air mataku beku, aku tak bisa menangis, aku hanya berteriak di
balik bantal untuk meredam suaraku. Selama ini tak ada yang mau menjadi teman
dekatku, tapi dia rela menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mendorong
kursi rodaku di saat temannya yang lain sedang bermain bola. Masih kuingat
betul kata indahnya, “Aku bersedia menjadi pengganti kakimu yang diamputasi”.
Malam telah menjemput sore. Maaf,
aku harus pulang. Esok kan kutunggu dia di halte ini, tempat yang pertama kali
ia tuju saat kembali
