Tuesday, 24 December 2013

aku ingin menulis tentang rindu dan kenangan :|

22:44 1 Comments
Malam ini instingku terusik untuk menulis tentang rindu dan kenangan. namun aku terikat perjanjian yang tidak mengijinkanku jatuh cinta, merindu dan segala tetek bengek yang berhubungan dengan cinta, karena aku dan seluruh hidupku telah menjadi miliknya. sebenarnya ada 5 opsi yang dia tawarkan, tapi menurutku kelima opsi itu sangat tidak mungkin untuk kupenuhi di usiaku yang belum beranjak dari 20tahun.
jemariku gatal, ingin menuangkan segala yang aku rasa dalam bentuk tulisan acak adul. tapi janji adalah ikrar yang harus aku tepati, aku tak ingin dicap sebagai pengkhianat atau pengingkar janji oleh semesta.

4tune - Miss You Lyrics

22:25 0 Comments
Miss you
When I close my eyes, 
That's when you're near... 
I kiss you, 
But I know that I'm dreamin'
Girl, it's unfair
And I can't help but cry every night, 
When I'm weak & you're not by my side

Girl I just wanna hold you, in my arms
I think of you each day now we're apart
And I just want things back the way they were
Find a way back to your heart

Without you, 
I don't feel the same
Since you went away... 
I need you
And I just want you back, 
Here with me
And I can't help but cry every night, 
When I'm weak & you're not by my side

And I just wanna hold you, in my arms
Think of you each day now we're apart
And I just want things back the way they were
Find a way back to your heart.

And I just wanna hold you in my arms
Think of you each day now we're apart
And I just want things back the way they were
Find a way back to your heart... 

I miss you...

Thursday, 19 December 2013

Aku Tak Butuh Mainan Lagi

20:57 0 Comments
jarak selalu memisahkan kita tapi tak pernah berhasil memutuskan cinta. kita berjarak selama 4 tahun dan menganggapnya sebagai rintangan tersulit, tapi kita tak pernah benar-benar berpisah lalu saling melupakan, kita selalu ingat bahwa kita punya cinta yang tumbuh subur tersiram rindu karena jarak.

tidakkah kau tahu, terkadang jarak juga amat menyiksa, dia menghujaniku dengan rindu dan badai galau. keacuhanmu merunyamkan segalanya, aku makin terpojok dan butuh sebuah benteng. aku butuh benteng yang dapat melindungiku dari segala perasaan kalut, aku butuh benteng yang dengan rela menjadi pelampiasan amarahku.

aku memang mempunyai beberapa benteng, dan selalu ada penyeleksian sebelum menentukan. tapi sekuat apapun benteng itu, tak pernah ada yang bisa menahan serangan cintaku padamu, ntah kenapa cintaku tidak mau diam terlindungi dalam benteng.

kau tahu aku selalu berpulang padamu, bahkan ketika mainan terakhir yang amat kusayang mengkhianatiku, padamu. namun, pintumu telah tertutup rapat. kau tak mengijinkanku masuk lagi. beribu kata sesal terucap, tetes air matapun tak mengembalikanmu padaku. kau telah membenciku. aku sungguh menyesal, seandainya kesempatan itu masih ada. akan kujaga, akan kurawat, takkan kubiarkan diriku dihinggapi bosan, aku tak butuh mainan lagi, aku ingin kamu.






(Draft yang tersimpan sejak 30 Mei 2013 dan hanya bertambah satu paragraf sebelum dipublish)

hujan sore ini

20:49 0 Comments
Kali ini aku menulis dengan jemari kisut yang gemetaran. 2 jam yang lalu aku mengendarai kendaraan roda duaku dari kampus dengan hujan dan sapuan angin. Jangan tanya betapa menggigilnya aku, aku sungguh kedinginan, seperti hampir membeku, gigiku bergemelatuk, dan jantungku berdetak jauh lebih cepat. Tapi yang ada di benakku hanyalah hangatnya rumah dan buliran air hangat yang akan menormalkan temperature tubuhku. Setelah satu jam perjalanan dengan hujan yang tak kunjung mereda, aku tiba di depan pagar rumah. Kuketuk berkali-kali pagar bergembok itu, tak ada suara, semua seperti bergeming, tak seperti hujan dan petir yang sedang berpesta riang. Seluruh pakaianku tak luput dari air, tak ada se-milimeter-pun yang luput dari hujan sore ini. Kucoba menghubungi penghuni rumah melalui mediator karena kredit pulsaku ternyata tidak cukup untuk melakukan panggilan. Dan kabar yang kudapat adalah ternyata mereka sedang pergi. Ahh aku harus bagaimana, badanku basah, tubuhku menggigil. Kulihat rumah tak berpenghuni di ujung gang, tanpa menunggu lama aku memberanikan diri untuk menumpang berlindung dari hujan sore ini. Rumah ini mempunyai teras cukup luas, dengan beberapa anak tangga di depan pintu utamanya. Aku duduk di anak tangga paling rendah, menekuk kedua lututku, berharap sedikit kehangatan akan membelai kulitku yang mulai memucat. Beberapa menit kemudian, handphoneku bordering, isi percakapan di antara hujan membuat hatiku membuncah dan sedikit memberi kehangatan yang ditransfer melalui pembuluh nadi. Bagaimana tidak, tanteku berbaik hati akan membelikanku novel-novel yang sedang kuinginkan. Telfon berakhir dengan lengkung senyum yang bertahan agak lama, hingga kusadari hujan mulai mereda, namun penghuni rumah masih dalam perjalanan menujuku. Satu jam berlalu, jemariku makin kisut, tubuhku kian menggigil, aku harus mensugesti diriku sendiri untuk kuat dan tidak tumbang melawan dingin karena angin semakin kencang berhembus, menerpaku yang mengenakan kain-kain basah, seakan ingin membekukanku. Hampir dua jam aku menunggu, lalu kudengar kuda bermesin itu menderu, mendekat. Akhirnya mereka datang, Alhamdulillah Ya Allah.

Berhitung

20:49 0 Comments
Berhitung, aktifitas yang dibenci sebagian orang. Namun entah mengapa, berhitung seakan menjadi dasar dari setiap mata pelajaran dalam sekolah atau perkuliahan. Fisika, matematika, akutansi, bahkan dalam Bahasa Indonesia-pun kadang kita harus menghitung, entah menghitung bait atau menghitung kata saat akan membuat sebuah tulisan.


Pagi ini aku harus memulai hari dengan berhitung. Aku belum sepenuhnya membuka mata saat anak-anak matahari menelisik di lipatan kelambu, tapi aku harus menghitung berapa kata syukur yang harus kuucap tatkala kudapati sapaan mentari melalu jendela. Setelah sepenuhhnya tersada, aku harus menghitung dan memilah apa-apa saja dari hari kemarin yang harus kulanjutkan dan kutanggalkan di gantungan lemari masa lalu.
Dengan kantuk yang masih menggelantungi kelopak mata, aku menjejakkan telapak kaki di kamar mandi, kubiarkan bulir-bulir air dingin itu membekukan separuh mimpi semalam, lalu kudiamkan beberapa kenangan kelam dan masalah mengalir bersama air menuju selokan. Jangan suruh aku menghitung bulir air yang mencumbuku, aku belum gila!
Aku telah siap berperang dengan hari terakhir di weekday. Tapi sebentar, ada yang kurang. Aku belum menghitung jumlah rupiah yang tertata rapi di selipan dompet, aku harus berhemat dan benar-benar perhitungan terhadap pengularan. Karena kebutuhan dan harga yang terus meningkat, dengan pemasukan yang tetap, mau tidak mau aku harus mengeratkan ikat pinggang.
Kulihat jam yang melingkar di pergelangan tangan sebelum melajukan motorku, masih pagi. Kuhitung kira-kira pukul berapa aku tiba di kampus dengan kecepatan 40-60km/jam, mungkin kurang dari 45menit jika aku berangkat sekarang, macet belum meliuk sepagi ini.
Tepat seperti dugaanku, aku tiba di kampus 40menit kemudian. Kuparkir motor sesuka hati karena tempat parkir yang masih luas, dengan langkah ringan aku menuju lounge. Dan benar saja, mahasiswa yang datang sepagi ini bisa dihitung dengan jari, tak kurang dari 5 orang yang kutemui sepanjang koridor lantai 5.

Masih 30 menit lagi sebelum kelas pagi dimulai, tapi aku sudah lelah berhitung. Lalu aku mulai membuka novel dan membuka halaman dengan pembatas di selanya, lalu ku balik ke halaman paling belakang, tanpa sadar aku menghitung berapa jumlah halaman yang masih harus kubaca. Ah sial! Aku berhitung lagi.

Sunday, 15 December 2013

Esok yang Tak Berujung

20:09 4 Comments
Lelaki itu… entah turun dari planet mana, dia serupa malaikat pelindung. Badannya tinggi dan tegap, dadanya bidang; aku seperti bisa tenggelam di dalamnya, bahunya kerap menggodaku untuk merebahkan kepenatan. Pagi itu seperti biasanya, aku pergi ke kampus menggunakan kereta. Dan layaknya aktifitas sibuk pagi hari, banyak orang berdesakkan, berusaha menyelipkan badan mereka ke dalam gerbong yang telah penuh sesak. Badanku yang tergolong kecil terdorong ke depan saat akan masuk, rupanya ada seorang bapak paruh baya yang tanpa rasa bersalah hamper menjatuhkanku. Sontak, aku kaget dan hamper mencium lantai gerbong, tapi laki-laki itu menangkapku, entah bagaimana asal mulanya dia berada di depanku dan menyelamatkanku dari insiden “morning kiss”.

***** 

Gadis itu… pertama kulihat turun dari angkot, dia layaknya bidadari. Yayayaya, aku tahu bidadari turun dari kahyangan, namun dia serupa jelmaan bidadari yang turun dari angkot. Mulanya, kukira dia akan seperti gadis lain yang acuh terhadap sekitar. Namun dia berbeda, dugaanku salah. Dia mengucapkan terima kasih dengan senyum tulus kepada petugas loket, bahkan aku juga melihat gerak bibirnya saat mengucap terima kasih kepada supir angkot. Dia seperti melahap situasi di peron dengan mata bulatnya, setelah puas dengan itu semua, dia akan memasang earphone, dan merogoh sesuatu dari ranselnya, berbentuk seperti buku. Awalnya kupikir itu novel roman picisan atau teenlit yang sedang marak, ternuata itu adalah buku kumpulan dongeng, lengkap dengan gambar lucu seorang kakek botak dan katak di atas kepalanya. Ahh gadis itu… dia mencuri sebagian diriku untuk menikmati tiap detail gerakannya. Saat kereta datang, tubuh mungilnya berusaha menyelisip ke dalam himpitan manusia dalam gerbong, namun ada lelaki buncit paruh baya yang dengan sengaja mendorongnya, dia hampir saja terjerembab, untung saja aku telah bersiap di depannya, dan dengan sigap aku menangkap tubuh mungil itu lalu membantunya berdiri. Dengan muka pucat dia mengucap terima kasih dan ia tak lupa memberiku seulas senyum. Aku sungguh hidup hari ini!

*****

Lelaki itu.. akhirnya aku dapat mencium aroma badannya saat mengantri di loket. Aroma lelaki yang memacu adrenalinku untuk memproduksi hormon yang mengacaukan sistem saraf otak. Karena terhipnotis oleh aromanya, aku salah meletakkan sisi e-ticket­ pada tap-pad, dan dia tepat berada di belakangku, memperhatikan sejenak lalu membuang muka, aaakk ekspresi yang sungguh tidak kuharapkan. Sesaat setelah automatic gate terbuka, aku langsung menghambur ke dalam gerombolan manusia, menyeberangi rel untuk mencapai peron 2.

*****

Gadis itu.. masih dengan sejuta magnetnyaa, menarikku lebih jauh untuk menyelami matanya. Hari ini aku sengaja mengantri loket tepat di belakangnya. Aku bisa menebak parfum apa yang dia semprotkan ke badannya, bukan Bulgaria atau parfum wanita lainnya, aku mencium aroma bayi menyeruak dari tubuh mungilnya, sungguh segar. Tingkah lucunya pagi ini benar-benar menghidupkan hariku, dia meletakkan sisi e-ticket terbalik pada tap-pad, dan wajahnya merah padam saat menoleh ke arahku, aku pura-pura membuang muka karena aku takut dia memergokiku yang tak pernah bisa lepas dari pikatnya.

*****

Hari ini aku harus membenamkan diri ke dalam selimut. Demam menyerang, ini pasti karena semalam aku sengaja menikmati hujan lebih lama. Ada dentuman kecil dalam dada saat aku menyadari bahwa hari ini akan terlewati tanpa memandang lelaki itu. Semoga demam segera pergi, karena sesungguhnya rindu ini jauh lebih menyiksa.

*****

Pagi ini tak kutemui dia dengan senyumnya. Pada antrian loket, deretan bangku di peron, tak bisa kudapat sosok mungilnya. Bahkan sampai kereta terakhir pagi ini, tetap tak kulihat mata bulat itu. Dimana gerangan dia? Apa dia sakit? Atau dia mengalami kecelakaan saat menuju stasiun? Tuhan, jangan biarkan sugesti negatifku terjadi padanya. Semangatku hari ini melayang. Aku tak bisa lagi menghirup aroma tubuhnya, atau mencuri pandang ke tiap detail dirinya.

*****

Hari ini aku harus kuliah. Ah tidak, sebenarnya hari ini aku harus bertemu lelaki itu, mungkin saja hanya dengan menghirup aroma tubuhnya, demam sialan ini enggan untuk menetap. Dan di sinilah aku, di depan loket mengantri dengan balutan sweater dan syal, semoga rona merah di wajahku tak tertutupi oleh pucat. Kudapati lelaki itu di salah satu tiang depan loket, memandang ke arah jalan, lalu pandangannya menusuk tepat ke arahku, apa ini hanya perasaanku saja. Ah tidak, pandangannya benar-benar ke arahku. Semoga ada kata sapa terucap dari bibirnya, aku sungguh ingin mendengar suaranya.

*****

Akankah kutemui gadis itu pagi ini? Sehari tanpa melihat tingkah konyol dan aroma bayi khas dirinya, seperti ada yang hilang. Ah bukan itu, terlalu berlebihan. Mungkin seperti ada yang kurang. Kupacu kuda bermesinku lebih pagi dari biasanya, sekedar untuk memastikan bahwa aku tak akan ketinggalan gadis itu. Aku berjanji dalam hati, pagi ini akan kuberanikan menanyakan namanya atau minimal tersenyum.
Aku berdiri di salah satu tiang depan loket, mataku tak lepas memandang ke tempat para sopir angkot menurunkan penumpangnya. Dan beberapa saat kemudian, kulihat gadis itu turun. Dia memakan sweater yang lumayan tebal dengan balutan syal di lehernya, wajahnya agak pucak, perangainya sedikit lebih lemas, sepertinya dia sedang sakit. Namun senyum memikat itu masih mampu menyihir siapapun yang menatapnya. Aroma bayi yang menyeruak dari tubuhnya saat melintas di depanku membuatku ingin mendekapnya dan menghirup aroma tubuhnya lebih lama. Bagaimana bisa aku menyapa, jika tersenyum saja bibirku serasa kaku. Dia menghipnotisku tanpa perlu melakukan apa-apa.

*****

Terhitung mulai pagi ini papa akan mengantarku ke kampus tiap pagi. Tak akan ada lagi suara operator yang mengumumkan datangnya kereta, tak akan ada lagi aktifitas mengantri di loket, tak akan ada lagi sosok itu, sosok lelaki yang bahkan suaranya pun tak pernah kudengar, namun bisa membuatku rindu sedemikian rupa. Selamat tinggal, kamu.

*****

Semalaman aku memikirkan bagaimana cara untuk berkenalan dengan gadis itu, berbagai frasa telah kurangkai sekedar untuk mendapatkan kalimat yang pas tanpa terkesan picisan. Beberapa topik telah kususun seandainya aku kehabisan bahan pembicaraan, salah satunya tentang dongeng yang kerap ia baca. Aku siap untuk menyapamu, gadis. Pagi ini aku mematut diri di cermin sedikit lebih lama, memastikan tak ada sisa makanan di sela gigi dan rambut yang berantakan, aku harus terlihat memukau di depannya. Dengan percaya diri, kutunggu dia di depan loket. Sejam, dua jam, hingga jam ke-6 berlalu, tak kudapati parasnya. Mungkin hari ini dia sakit lagi, karena kemarin kulihat dia belum begitu pulih untuk menantang dunia.

Esoknya aku kembali menunggu, namun lagi-lagi tak kudapati sosoknya. Esok, esok, dan esok seterusnya aku tetap menanti di loket dan bangku peron 2. Menanti ia yang tak pasti, yang mungkin tak akan kutemui lagi.

Dia

18:16 0 Comments
Dia..
Sosok yang tak jauh dari frasa sempurna.
Senyumnya membius gundah yang melanda.
Binar matanya menghipnotisku untuk tidak berkata iya.
Titahnya seakan tak pernah terdengar salah.

Dia..
Rela menantang sang pekat untuk menjagaku.
Rela berpeluh di bawah terik untuk menghidupiku.
Rela menerjang hujan untuk menjemputku.
Rela bertahan walau lapar sekedar agar perutku penuh.

Berjuta terima kasih tak kan bisa membayarnya.
Bermilyar rupiah tak kan cukup melunasi hutangku padanya.

Dia..
Seorang yang kupanggil Ibu
Serupa malaikat mewujud manusia

Wednesday, 4 December 2013

secuil pagi di bulan Desember

00:50 0 Comments
jauh sebelum matahari menyelisip di balik tirai jendela, aku telah membuka mata dan mengucap beberapa doa pada Sang Maha Kuasa. pagi ini adalah senin pertama di bulan desember. bulan yang menutup lengkapnya 12bulan dalam setahun. hari ini tak seperti biasanya yang kuisi dengan keruwetan ala weekday di pagi hari. aku dengan santai mengawali hari dengan sit-up (yang tak pernah kulakukan), lalu pergi ke kamar mandi, melunturkan sisa-sisa mimpi semalam, mimpi tentang kenangan dan angan tentangnya. ah iya, sebelum mandi, kusempatkan menuju dapur untuk menggoreng sebutir telur untuk menyumpal perutku yang berteriak ingin disupply. setelah semua ritual pagi selesai, aku mematut diriku di cermin. sebenarnya beberapa hari belakangan, terbesit hasrat untuk melepas hijab yang hampir setahun aku kenakan, namun aku harus belajar berkomitmen dengan keputusanku untuk berhijab, jadi aku tetap mengenakannya.

pukul 05.15, aku telah siap untuk berangkat. terlalu pagi memang, jadi kuputuskan untuk menengok lemari bukuku dan memilih buku apa yang akan kubaca hari ini. karena hari ini aku pergi dengan menggunakan transportasi umum menuju kampus (aku mengendarai motor pada hari biasanya), aku harus menyiapkan bacaan yang bisa kubaca dan kupotong seenaknya, pilihanku jatuh kepada sebuah kumpulan cerpen. jam di dinding ruang keluarga tepat menunjukkan pukul 05.30, kuputuskan untuk bergegas, mengingat padatnya jalanan ibukota di jam berangkat kantor.

awalnya aku ingin mendengar percakapan orang-orang sebelum memulai aktifitas mereka, namun yang kudengar hanya keluhan tentang harga-harga bahan pangan kian menjulang, ada juga bibir yang memilih untuk terkatup entah karena alasan apa, dan suara bisingnya kendaraan yang saling menyalip, seakan terbirit-birit dari kejaran serigala. kuputuskan untuk memasang earphone di telingaku, lagu-lagu sendu mulai mengalun, aku mengutuk diriku sendiri yang terlalu malas meng-update playlist handphoneku.

menurutku, kereta akan menjadi solusi terbaik untuk menjauhkanku dari kata terlambat atau terlalu siang. jadi, aku berpindah dari satu angkot, ke angkot lainnya untuk mencapai stasiun. sesampainya di stasiun, banyak orang telah menunggu kereta di tiap peron, bapak ibu yang siap berangkat ke kantor, atau murid berseragam putih-putih, setahuku dulu murid SMA berseragam putih- abu-abu. rupanya kebijakan pemerintah berubah. bahkan pemerintahpun bisa labil, hahahaha, seharusnya kebiasaan baik tetap dijaga, apa salahnya mengawali awal minggu dengan seragam kebanggaan anak SMA, putih-abu-abu. ah sudahlah, terlalu pagi untuk mengutuk kebijakan pemerintah yang tak bijak. kukeluarkan kumpulan cerpen yang tadi aku selamatkan dari pengapnya lemari buku, kubuka cerita favoritku, aku sudah akrab dengan kertas dan aroma buku ini, dengan mudah jari dan mataku menemukan halaman cerita pendek yang kumau. kubunuh waktu dengan membaca tiap frasa yang tertulis di atas kertas, tanpa terasa, pengumuman dengan denting khas stasiun membuyarkan konsentrasiku, aku harus berdesakkan dan menyelipkan badan mungilku di antara badan-badan tegap dan penuh hasrat menyesakki tiap gerbong kereta pagi ini. tak butuh lebih dari 10 menit untuk mencapai stasiun yang kutuju. seperti halnya saat akan menaikki gerbong ini, turunpun butuh usaha lebih keras, ada banyak orang egois yang masih berdiam di tempatnya tanpa mengindahkan aku yang ingin turun, dan di depan pintu gerbong kudapati orang yang sama egoisnya, mereka tetap menjejalkan diri mereka ke dalam gerbong tanpa mempedulikan orang-orang yang ingin keluar dari himpitan manusia dalam gerbong itu.

Setelah usaha (ekstra) keras aku keluar dari gerbong itu dan menuju pintu keluar, menunggu angkot yang mengarah ke kampus. beberapa saat berlalu, angkot itu datang dengan beberapa penumpang di dalamnya, untung tak ada acara ngetem seperti kebanyakan kebiasaan angkot pada umumnya. jangan ditanya tentang jalan yang aku lewati, karena macet sudah pasti kutemui bahkan di jalan tikus sekalipun. macet panjang mulai membuatku gundah, dan aku memilih untuk membuka kembali kumpulan cerpen dan tenggelam di dalamnya. entah berapa lama aku menyelam, tiba-tiba kudengar suara si supir menyuruhku dan satu penumpang lainnya untuk pindah (oper) ke angkot lainnya. dengan langkah ogah-ogahan aku turun dari angkot dan menuju angkot yang ditunjukkan oleh supir tadi. aku sengaja memilih duduk di bangku depan, sekedar untuk mengedarkan pandanganku ke pemandangan pagi khas ibukota, sembari menerka apa yang ada di dalam pikiran sang pengemudi mobil yang hanya berisi dirinya, dan membiarkan raga serta waktunya terjebak macetnya ibukota, terlintas juga di benakku tentang pengendara motor yang mengklakson dengan serta merta, kemana mata mereka? sudah jelas kemacetan terhampar sepanjang jalan. "Good time flies fast", begitulah filosofi dari dosen Accountingku, dan filosofi itu benar adanya. tanpa terasa pengamatanku tentang macetnya ibukota pagi ini harus berakhir dan berganti dengan aktifitas khas mahasiswa. Terima kasih Tuhan, telah mengijinkanku menyicipi secuil pagi di bulan Desember :)

Sunday, 1 December 2013

23 hari 3 jam 11 menit (repost)

00:13 0 Comments

23 hari 3 jam 11 menit

February 21, 2011 at 9:49pm (facebook)


ketika jariku menari di atas keyboard ini, aku bener-bener gatau mau ngetik apa.
yang ada di otakku cuman ujian dan kamu. yaah, 3/4 otakku emang cuman dipenuhi kamu.
kamu kamu kamu dan kamu.
sederet kejadian setelah kamu pergi.
mulai dari kangen biasa, sampe kangen yang bener-bener kangen, trus sampe kangennya gak bisa diungkapin. uda semua.
sekarang kangen yang berlapis-lapis itu harus dilapisi selembar lagi, tapi kali ini sakit yang jadi lapisan terakhirnya.
aku jadi malu sama temen-temenku, terutama diriku sendiri. waktu aku ngasi nasehat ke sobatku tentang apa yang harus dia lakuin ke depan. dan sekarang aku, aku tersandung di masalah yang sama. gatau harus ngapain. cuman bisa nangis sampe air mata kering, nangis sampe sarung bantal basah, nangis sambil sesenggukan dan mengutuk diri sendiri, mengolok diri sendiri.
hmm, may I call you "golia"?
well, golia ini sekarang uda berubah. sebelum dia pergi aku uda nebak pasti ini bakal terjadi, pasti wes. tapi dia dengan seribu alasannya bisa bikin aku percaya. tapi namanya juga omongan, bukan hitam di atas putih. pasti banyak yang diingkarin. huhu :(
dont you know dear? aku sakit, sakit ngerasain kamu yang sekarang. kamu skg uda jauh, jauh jarak jauh hati :( kamu jutek, cuek .. awalnya aku mikir mungkin ini karena kamu kecapekan ato apalah. tapi kok sering banget .. huhu TT kenapa kamu harus berubah kyk skg?

aku kangen kamu, buni. kangen :'(

2thn = 2bln (repost)

00:12 0 Comments

2thn = 2bln

April 22, 2011 at 11:11pm (facebook)


malem ini keusilanku bikin aku tau sesuatu yg dianggep remeh tapi bisa nyakitin segini sakit.
well, aku akuin aku lancang buka akunmu. soalnya kalo bukan aku sendiri yg cari tau, kmu ga bakal cerita #ngeles
awalnya aku cuman pengen tau gimana rasanya online pake akun orang, tapi saraf usilku nyuruh aku buat buka page message.
gausa babibu langsung deh aku klik page itu. pas uda kebuka full. wuii, jujur otakku loading bentar, "buset, ni orang kurang kerjaan banget ngemessage cewek segini banyak".
trus saraf ingin tauku yang bekerja, nyuruh aku buat ngebuka salah satu message yang dia kirim.
awalnya cuman tanya babibubebo, sampe akhirnya menjurus ke satu pertanyaan yang bikin aku nyesek saat itu juga
"kamu mau gak jadi cewekku?
yups, bener banget! pertanyaan itu yg bikin aku nyesek seketika. berasa disamber gledek, atiku langsung wuss wuss.
aku pikir cuman satu yang dia tanyain kyk gtu. tapi ternyata ada 2.
tanpa disuruh ni air mata langsung ngalir deres banget, setan dgn mudah ngeracuni pikiranku. ditambah lagi tingkah lakunya yg suka ngilang akhir2 ini. jadi bikin susah buat mikir positif kalo ada di sikon kyk gtu.
langsung aku ambil hp jadulku, aku pencet tutitutitt berharap smsku gak pending.
gak lama setelah itu dia bls smsku dgn polosnya "maksudnya apa hun?" wuss, langsung tambah naik ni darah. "uda salah, masi aja sok polos", pikirku tadi.
gak puas cuman smsan, aku telfon dia. apa maksudnya dia ngomong gtu ke cewek lain, dan sekali lagi tanpa rasa bersalah dia bilang "itu game di kaskus, kyk berani berani-beranian gitu"
aku diem, ga bisa jawab apa apa. cuman diem sambil mikir, "ya Alloh, ni cowok yang aku sayang malah main game kyk gtu tanpa peduliin perasaanku"
aku sampe gatau apa yang aku rasain pas dia ngomong gtu.
akhirnya aku putusin aja buat akhirin semuanya malem ini, tapi dia dan sms maafnya bikin aku bimbang.
"maaf sayangku ;-(", itu sms terakhir dia di  inboxku.
aku bingung, gatau harus ngapain. kalo dimaafin, akunya yg sakit. kalo gak dimaafin, aku gak tega.
ottuke? what should I do? Aku kudu lapo?

Rindu (repost)

00:11 0 Comments

r i n d u

November 17, 2012 at 12:54pm (Facebook)

ntah berapa detik yg kulewati tanpamu. aku lelah menghitungnya. 
ntah berapa malam yg terlewat tanpamu. aku telah membeku dalam rindu 
ntah berapa pagi yg kulewati tanpa binar senyummu. karena aku gontai melalui sisa hari-hari itu. 
ntah berapa jauh ku melangkah tanpamu. hingga aku rasa aku tersesat. 
ntah berapa kali aku menyebut namamu. tapi kau tak kunjung datang. 
ntah berapa lama kita tidak seperti dahulu.. 


sayang... 
tangan ini mati rasa. seperti terkurung dalam bongkahan es. 
tidakkah kau ingin menggenggamnya seperti dahulu? 

tubuh ini berpeluh rindu. lemas tak bertenaga. 
tidakkah kau ingin menopangku dalam peluk? 

kepala ini enggan menunduk. 
hanya menunduk saat kau akan mencium keningku. 
tidakkah kau ingin melakukan itu lagi? 


aku rindu mengelilingi kota itu di atas motormu. 
menghirup oksigen yang sama, melalui hujan dan panas bersama, 

aku rindu menikmati segarnya es oyen di desamu. 
aku rindu menikmati jagung bakar di taman kota. 
aku rindu menikmati ketan legenda di kota Apel. 
aku rindu menikmati rujak buah dan es kelapa muda di pinggir Jalan SoeHat. 
aku rindu menikmati tiap hal sederhana bersamamu. 
bahkan aku rindu tiap pertengkaran kecil kita. 

aku terperangkap dalam labirin rindu yang kita buat, sayang

masih tentangmu

00:06 0 Comments
Detik terus berputar, menit membentuk jam, dan hari terus berganti.
waktu tetap berjalan tanpa mempedulikan hati yang masih terseok.
kau yang tak kutahu lagi kabarnya telah menghilang,
menguburku jauh ke dalam penyesalan dan rindu.

ada sesak mengguncang batin,
dan tangis yang membuncah tiap malamnya.
ada hati yang rindu untuk kaucinta. 
ada telinga yang rindu untuk kau sapa. 
ada mata yang rindu untuk memandanmgimu. 
ada bibir yang rindu untuk berbicang denganmu. 
ada kening yang rindu untuk kecup. 
dan ada raga yang rindu untuk kaurengkuh. 
setiap detail diriku merindumu, Tuan.

semua yang kuingat, masih tentangmu.
semua yang kupikir, masih tentangmu.
semua yang kukenang, masih tentangmu.
bahkan semua yang ingin kulakukan, masih tentangmu.

Saturday, 30 November 2013

Trilogi Inkheart

23:26 0 Comments
The Inkheart trilogi adalah serangkaian tiga novel fantasi yang ditulis oleh penulis Jerman Cornelia Funke, yang terdiri dari Inkheart (2003), Inkspell (2005), dan Inkdeath (2007). Buku-buku berisi petualangan remaja Meggie Folchart yang hidupnya berubah secara dramatis ketika dia menyadari bahwa dia dan ayahnya, seorang penjilid buku bernama Mo, memiliki kemampuan yang tidak biasa untuk membawa karakter dari buku-buku ke dunia nyata ketika membaca dengan suara keras. 

Awalnya saya tidak tahu-menahu tentang trilogi Inkheart. Hingga pada suatu sore, teman-teman di klub buku ingin mengadakan bedah buku, dan ada beberapa di antara mereka yang mengusulkan Novel Inkheart lalu mereka juga mengungkapkan alasan mereka menyukai buku itu. kontan saya yang menyukai novel fantasi langsung mencari review tentang novel Inkheart. sesaat setelah membaca review itu saya langsung jatuh cinta dan memutuskan untuk menabung. namun apa daya, list novel yang harus saya beli masih banyak, jadi terpaksa saya harus memendam hasrat saya.

tapi rejeki memang tak ada yang tahu datangnya. ada salah satu teman saya yang berbaik hati mau membelikan saya trilogi inkheart. saya sungguh berterima kasih kepada teman saya yang satu itu, dia sungguh baik hati. sering-sering saja beliin saya novel hehehehe *just kidding*

Hadiah Buku


teruntukmu

22:52 0 Comments
teruntukmu yang tak pernah kudengar suaranya namun selalu kuperbincangkan dengan hati.
aku menyimpan sejuta bayangan tentang obrolan kita di sebuah taman sekedar untuk menikmati senja.

teruntukmu yang tak pernah kulihat rupanya namun selalu mengusik pikiran.
aku memimpikan tentang dirimu yang memimpinku kala menghadap Tuhan.

teruntukmu yang selalu menutup diri dan tak memberiku celah.
aku berangan tentang dirimu yang menceritakan segalanya bahkan hal terkecil yang tak pernah kau bagi dengan orang lain

teruntukmu yang memproklamirkan diri sebagai penggemarku.
aku beruntung mengenalmu yang dengan baik hati memberi kejutan.

teruntukmu yang sedang sariawan dan terluka hatinya.
semoga kau cepat sembuh dan tertawa kembali :)

Wednesday, 27 November 2013

random (lagi)

21:40 0 Comments
Rasa ini tak terdefinisi,
Menggumpal satu dengan banyak arti.
Hadirkan gundah dalam diri,
pula asa terucap walau lirih.

kehadiranmu di sini,
peluk dan kecup di kening,
ternyata bagian dari memori.
lagi-lagi aku berilusi

seandainya tak ada delusi
mungkin kita masih berbagi kasih
mengucap rindu sebelum bersua dalam mimpi
namun semua tlah membeku, mati.

Tuesday, 26 November 2013

Dia

21:12 0 Comments
dia hidup dalam imaji
menyentuh tiap sudut hati
membangkitkan hasrat berilusi
membayangi hidup yang kosong tak terisi

dia serupa langkah kaki
berderap mengikuti irama hati
kadang menghentak, kadang sunyi.
bisikan lirihpun tak terdengar, laksana mati.

dia, dia, dia.
pembunuh setiap asa.
pula pengobat lara
dialah sang tersangka atas segala gundah

pelukmu

00:07 0 Comments
bintang tak kunjung menampakkan pendarnya, bulan pun bersembunyi di balik selimut sang awan. sungguh berbeda dengan malam-malam sebelumnya, bintang terhampar seperti gula yang tercecer di taplak meja. pemandangan di atas genteng rumah memang sungguh indah, aku senang menghabiskan sepotong kecil malamku di sana, berbagi kisah dengan angin, atau menitipkan rindu pada penghuni langit.

ada satu kisah yang selalu kubagi dengan malam, kisah ini selalu mempunyai subjek yang sama, kamu. dengan setting tempat, waktu dan objek yang berbeda, aku menceritakan tentang bagaimana rinduku yang beranak pinak dan dirimu yang telah beranjak. celotehanku tak pernah berhenti hingga aku sesak nafas karena sesenggukan yang kian menjadi. ya, akhir-akhir ini air mata sering mewarnai sesi curhatku dengan malam. bagaimana bisa aku menahan air di pelupuk mata jika rindu dan pikiran tentangmu masih membayang.

aku menyesal, sungguh. jika bisa ku berlari pada masa lalu, kan kukejar saat aku masih bisa dengan bebas bergalayut di lenganmu. tak pernah bisa kulupa bagaimana hangatnya pelukanmu dan manisnya ciuman yang mendarat di keningku. pelukmu menyimpan segala tentang kita, tentang bagaimana aku bisa menghabiskan seharian terlelap dalam pelukmu, tentang bagaimana aku bisa berlari dari kejamnya realita dan bersembunyi dalam pelukmu, tentang bagaimana aku lelah menghadapi kemunafikan dan memilih untuk terbenam dalam pelukmu, tentang bagaimana kita berbagi mimpi, dan berjuta tentang yang kita urai bersama dalam pelukmu.

sayang, jikalau kau ijinkan. sekali saja, berikan aku kesempatan untuk kembali. kembali menjadi wanita yang kau idamkan, kembali menjadi wanita yang selalu kau tunggu kepulangannya.

sayang, jika kau hitung jumlah bintang malam ini, mungkin sebanyak itulah rintik yang membasahi pipiku saat berbagi kisah denganmu pada malam.

Sunday, 24 November 2013

[ASSIGNMENT] Research Methodology

21:43 0 Comments
The background to the research: What prompted it?
The relevance of the research: What is the objective?
The research question in its definitive formulation

RESEARCH PROPOSAL FOR HAIR SHIELD CREAM

Background
In the first time, our company produced a shampoo for woman with a tight competition in market. As the time goes by, we see the demand of woman’s needs to make the hair smoother and help the shampoo’s function. Then we decided to launched a hair conditioner to the market.
But we still found a problem, shampoo and conditioner could not keep the hair smoothness for a long time. Women need a thing that could keep their hair beautiful, smooth and shining for a longer time. Sometimes women must go to Hair Salon to do a hair mask, this hair mask could keep the hair beautiful for a longer time. Then we consider to produced a hair mask and put it into one package with shampoo and hair conditioner for each type. So, women don’t need to go to Hair Salon for hair treatment, especially hair masking.
Market Scenario
15% women are using shampoo only, 50% are using shampoo & conditioner, and the rest are using shampoo, conditioner & hair mask.
·         The retailers do not push any particular brand of shampoo as they receive only 10% commission from shampoo sales
·         Nowadays women looking for a practically, efficient and effective things for anything, especially hair treatment.
Target Market
·         Rural market & urban market
·         Women, 17 – 45 years old
·         Women with a tight schedule (career women, student, backpacker, etc)

Objective
To prepare a solution for helping women’s hair performance stay beautiful all day long in practical way.
Methodology
Ø  Quantitative
Ø  Survey by questionnaire

Segmentation:
·         Women, 17 – 45 years old
·         Income and purchasing power
·         Scalp i.e. dry, oily, rough
·         Geographical area
·         Climate conditions i.e. tropical, temperate
Sample Unit:
·         Women visiting mall
·         Women visiting retail outlets
·         Women visiting hair salon
·         Students, girls only (school & college)
·         Our website
Sample Size:
Sample size depends on:
·         Research cost
·         Accuracy
·         Type of survey
·         We will take sample size of 5000 consumers and 100 retailers
Data Collection
·         Face to face
·         Social Media
·         Website

Solution
We produced a Hair Shield Cream, a cream that can be used anywhere and anytime without wash. This cream will keep the hair to stay smooth and beautiful all day long. Hair Shield Cream is a product that very suitable for women with a tight schedule who need a good hair performance in every activity.


hasil suntuk ngerjain tugas presentasi

21:11 0 Comments
secangkir teh dan beberapa keping biskuit menemani senjaku yang kelabu. hujan mengguyur kotaku dari pagi, seakan tak memberikan ijin untuk mentari menghangatkan makhluk bumi. senja dan hujan bukanlah kombinasi yang pas untuk menghabiskan sore, tapi kali ini berbeda, aku menikmatinya. ada kenangan tentang kita di tiap rintik yang jatuh mengetuk tanah dan membasahi kaca jendela.

jujur, aku tak sanggup mengingat tentang kita tanpa menitikkan air mata. jadi di sinilah aku, di antara jutaan titik air dari langit yang membasahiku, isak tangis yang tersamarkan oleh suara angin dan air mata yang menyatu dengan hujan.

Wednesday, 20 November 2013

selamat tinggal

19:34 0 Comments
*backsound : 4tune - Last Goodbye

hai sayang...
bagaimana kabarmu di sana?
kudengar hujan kerap menyapa kotamu.
kota kenangan kita :)
jangan sampai hujan mendatangkan petaka untukmu.
aku tak ingin mendengar kabar kau kesulitan bernafas. 
jaga kesahatan ya sayang..

masih bolehkah aku memanggilmu sayang?
kulihat kebencian telah mengakar di nadimu.
aku sedih, sayang.
hatiku tersayat kala mengetahuinya.
air mata ini mengucur kala membaca umpatan kasarmu..

masih adakah secuil tentangku di hatimu?
tolong katakan iya, karena aku akan terus berjuang.

sayang..
apakah wanita itu penggantiku?
wanita yang kau banggakan..
wanita yang sepikiran denganmu
wanita yang bisa menemanimu kala gundah..
apakah wanita itu, sayang?
apa kau begitu mencintanya hingga memilih tuk membenciku?
apa kau begitu tak ingin kehilangannya hingga mengusirku?

sayang..
masih ingatkah kau dengan kenangan manis yang melengkungkan senyummu?
masih adakah kenangan pahit yang menguatkan cintamu?
jangan bilang kau telah mati rasa.
jangan..

inginku berlari, melangkahkan kaki selelahku..
menjauhkan diri dari realita pahit
masih ku harap semua luka ini semu
namun tak begitu adanya, sakit ini tetap sakit

apa kau begitu menginginkanku pergi?
bagaimana jika aku masih ingin berdiri di sini?
bagaimana jika aku masih ingin menanti rasamu yang tlah mati?

sayang..
sungguh ku tak ingin mengucap selamat tinggal.
jika aku menghilang dari kehidupanmu belakangan ini,
bukan berarti aku melupamu..
aku hanya tak ingin membangunkan amarahmu..
jika ada hasratmu tuk kembali,
maka pelukku akan senang menyambutmu..

"selamat tinggal" sayang,
aku tak pergi, aku tetap di sini.
memandangimu yang kian menjauh..
jika aku boleh meminta,
tolong kembali sayang, aku tak sanggup merayakan kehilangan

Tuesday, 12 November 2013

apa yang kuingat tentang dingin dan kita?

22:19 0 Comments
malam ini aku membelah jalanan ibukota dengan tubuh menggigil. tak ada mantel hujan maupun jaket tebal yang melindungiku dari serangan hujan dan angin. sialnya, tanpa seijinku memori tentangmu berlarian menguasai setengah alam sadarku, ku-kurangi kecepatan kendaraan roda duaku, membiarkan rintik menghujamku selelahnya. aku kembali mengingat beberapa kenangan kita tentang dingin.

***

double date pertama kita, dengan karibku dan kekasihnya. kita berempat sepakat untuk menghabiskan sisa hari itu di kota tetangga. sepertinya Tuhan memang tidak menghendaki perjalanan kita hari itu, karena kita dihadang oleh petugas berseragam yang sedang beroperasi. untungnya, semua dokumenmu lengkap. tapi sungguh disayangkan, karibku dan kekasihnya harus membayar sejumlah rupiah untuk membungkam peraturan yang mereka langgar. namun kesialan tak berhenti di situ, sepulangnya kita dari petualangan hari itu, hujan lebat mengguyur sepanjang sisa perjalanan kita, kau memacu motormu jauh lebih kencang dari batas normal, alhasil kita tidak begitu kuyub, ah kau kuyub ding hihi ^^ pengalaman kedinginan pertama kita

***

perayaan anniversary pertama kita. mengingatkan kita bahwa kita telah menjalin kasih selama satu tahun. aku dan kamu memutuskan untuk pergi seharian dengan memakai kaos couple yang bertuliskan Buni di kaosmu dan Huni di kaosku. Langitpun seakan cemburu, dia mengutus pasukan hujan untuk menghambat perjalanan pulang kita. ditambah dengan ban bocor, seakan melengkapi penderitaan kita hari itu. kau mendorong motormu, mencari tukang tambal ban di pinggir jalan. dingin yang menyelimutipun menambah berat langkah kakimu. sore itu, aku ingin mempunyai kekuatan yang bisa menyerap lelahmu hanya melalui sorot mata.

***

malam minggu sangat identik dengan muda-mudi yang memadu kasih. anehnya kita jarang bertemu saat malam minggu, alasan utamanya adalah sulitnya ijin dari orang tuaku. tapi malam itu, akhirnya kita bisa menjadi pasangan yang bermalam minggu. seperti kasus sebelumnya, ban bocor mewarnai kencan kita. untung saja kita menemukan tempat tambal ban yang tak begitu jauh. aku lupa bulan apa tepatnya, yang pasti malam itu angin bertiup cukup kencang, dan konstan bulu-bulu tanganku berdiri menandakan bahwa aku mulai kedinginan. dan kamu, cowok cuek yang kadang peka atau pura-pura ga peka, melepas jaket yang kau kenakan dan memakaikannya padaku, lalu mengecup keningku. ahh sungguh manis :') entah mengapa, kecupan di kening selalu lebih bisa membuat mataku terpejam seakan menikmati tiap kasih sayang yang sedang kau transfer hihi :D

***

Entah itu bulan februari atau maret, yang pasti penyakit asmamu sedang kambuh bulan itu. cuaca memang sedang tidak bersahabat, angin kerap bertiup sangat kencang dan udara malam menjadi teramat dingin. sebagai kekasih yang mencintaimu, aku berniat untuk merawatmu selama 3 hari. sungguh aku tak tahu bagaimana cara merawat orang sakit asma, karena itu adalah pengalaman pertamaku, mungkin lebih tepatnya menjaga, karena yang aku lakukan tidak ada hubungannya dengan rawat-merawat. aku hanya bisa memastikan kamu tidur dengan nyaman, pola makan teratur serta jadwal minum obat. kau tahu apa yang paling kuinginkan selepas menjaga? aku berharap bisa merawatmu tiap hari, bahkan dalam keadaan sehat.

***

kenangan terbaru kita tentang dingin adalah saat kita menghabiskan sepertiga malam di kota Apel. malam itu, kita sepakat untuk pergi ke Alun-Alun, tempat dimana kita bisa menikmati gemerlap lampu tengah kota di atas ferris wheel. aku sungguh menikmati saat itu, kemerlip lampu kota Malang yang bisa kita nikmati di kota Batu, hangatnya genggamanmu, dan tiap jepret kenangan yang kita abadikan. kota Batu memang akrab dengan dingin yang menusuk hingga ke tulang. aku yang rentan dingin, berusaha mencari kehangatan dengan cara apapun yang bisa kulakukan, hingga pada akhirnya kau menawarkanku untuk menyembunyikan kedua telapak tanganku di balik kaosmu saat perjalanan pulang, dan benar saja, kehangatan mulai menjalar. terima kasih, kau memang yang terbaik..

*****

bunyi klakson mobil yang sedang buru-buru mengembalikanku kesadaranku secara utuh, aku kembali menambah laju motorku ditemani dengan sisa rintik yang ikut merayakan kerinduanku padamu. kau tahu? bahkan, kini hatimu lebih dingin daripada malam ini.

Entah.

10:11 0 Comments
Rasa ini, entah apa namanya. rasa takut kehilangan dan tergantikan oleh wanita yang kini kerap tersenyum manis di hadapanmu.

kau tahu apa hal paling bodoh yang aku lakukan? bukan, bukan mencintaimu, tetap mencintaimu bukanlah suatu kebodohan, memutuskan untuk meninggalkanmu demi dirinya yang ternyata pecundang adalah kebodohan terbodoh yang pernah aku lakukan.

penyesalan ini serupa dengan penyesalan lainnya, selalu datang terlambat, ia tiba di saat aku menyadari tiap detail kekhilafanku dan ingin kembali padamu. sesal sukses membuatku terobsesi untuk memutar detak jarum jam ke saat aku dan kamu masih menjadi kita.

kau tahu, terkadang keingintahuankupun menusuk kian dalam, jauh ke dalam relung kasih yang dulunya menjadi tempat rinduku bersemi. kau bilang wanita itu teman lamamu yang lama tak bersua dan bertukar sapa. ada perih dan isak lirih saat kau mengatakan bahwa kau nyaman dengannya, dan mulai menaruh harap, pula cinta. ada jutaan panah api lara menghancurkan asaku saat kau membenarkan rasa yang kaupun belum mengetahui rasa itu, yang diikuti dengan rasa takut akan kehilangannya. ada senyum yang terpaksa melengkung dengan erangan lara saat aku mengucap semoga kalian segera bersama.

Dinding : "Aku saksi kebodohanmu"

09:30 0 Comments
backsound : Glenn Fredly - Sedih Tak Berujung

2 tahun yang lalu, gadis itu resmi menjadi penghuni ruangan yang bersekat diriku. Chrysant, begitu orang memanggilnya, mulai beberes pakaian dan menatanya di lemari, beberapa barangnya terjejer rapi di atas meja. tapi ada satu benda yang sepertinya dia tak ingin orang lain tau, benda itu dia sembunyikan rapi di laci kecil di sudut.

tiap malam, dia mengeluarkan benda itu dari persembunyiannya lalu menulis beberapa baris kalimat, kadang dia menulis sambil menangis, tersenyum bahkan tak jarang dengan ekspresi rasa bersalah. ternyata benda itu adalah buku harian, pemberian dari kekasihnya yang terpisah oleh ratusan ribu kilometer. rupanya dia telah berjanji pada kekasihnya untuk menulis apa yang dia rasakan dan alami sepanjang hari. sungguh manis :)

entah sejak kapan dia mulai mengacuhkan buku harian itu, chrysant sering bersembunyi di balik bantal dengan suara isak yang memilukan, sungguh aku tak tega. dia merindukan kekasihnya, kekasih yang mulai melupakan dirinya. kekasih yang selalu dinanti sapaannya di ujung telfon. kekasih yang selalu bisa membuatnya tersenyum bahkan saat larut.

dan entah sejak kapan pula, chrysant terbiasa dengan sikap acuh kekasihnya. dia lebih sering tersenyum menatap layar handphone dan membaca pesan singkat yang entah dari siapa, menghabiskan sepanjang malam mengobrol dengan earphone tertancap di telinga dan suara lirih seakan takut membangunkanku yang tak pernah terpejam. chrysant mulai berani bermain dengan hati dan komitmennya. sungguh bodon.

Lelaki pertama yang kutahu hanya kekasih selingannya adalah teman satu kampusnya. entah bagaimana awal mulanya, yang kutahu chrysant mulai jatuh hati pada lelaki itu, lelaki yang menggeser posisi sang empunya hati. Sang kekasih yang mencium gelagat aneh chrysant memilih untuk mundur. entah apa yang ada di pikiran chrysant, dia menangis. untuk apa dia menangis, bukankah dia memiliki kekasih baru? sungguh aku tak mengerti apa yang ada di pikirannya. dan kalian tahu? pertengkaran hebat terjadi antara chrysant dan kekasih barunya. tak perlu kalian tanya apa yang terjadi selanjutnya, chrysant kembali kepada kekasih jauhnya, rumah hatinya. sekarang aku mengerti apa arti sebuah rumah hati, ia adalah tempat untuk kembali seberapa burukpun kekhilafan kita.

waktu kian berjalan, hari bernaung pada bulan. chrysant mulai jenuh terhadap acuh kekasihnya yang tak berkesudahan. rupanya dia menemukan tambatan baru, ahh bukan hanya tambatan, rupanya chrysant telah memutuskan untuk berlabuh. sungguh bodoh, dia mempertaruhkan komitmennya dan tantangan yang jarak berikan. chrysant dan kekasihnya benar-benar berpisah. tak perlu waktu lama untuk menemukan sesal di rona mukanya, pengkhianatan chrysant terhadap mantan kekasihnya terbayar lunas dengan pengkhianatan kekasih barunya.

namun, tak ada lagi rumah hati tempatnya kembali setelah puas bermain. mantan kekasihnya tlah mematahkan segala asa yang pernah mereka impikan bersama. kebodohan chrysant benar-benar membuatnya tersungkur. penyeselan tiada ujung pun menjadi tolak ukur.

kau sungguh bodoh, chrysant. kau tersesat dalam labirin yang kau buat sendiri. di sini aku hanya menjadi dinding, penyekatmu dengan dunia luar dan tempatmu kembali. jangan samakan dia dengan aku yang hanya bisa diam menanggapi kebodohanmu. dia berhati dan aku dingin. dia punya hati yang harus kau jaga, dan aku mempunyai dirimu yang harus kujaga. aku hanyalah dinding yang menjadi saksi bisu tiap kebodohanmu

Wednesday, 30 October 2013

Wish-list

21:38 0 Comments
Before you read this post, I'd like to ask you something. In your opinion what the meaning of wish is? because on my own, wishes is a wants, and it doesnt mean that Im not grateful with what I have. what are your wishes? because this time, Im gonna tell you my wishes. so I have some simple wishes for this coming next year.

1. Study abroad
I want to gain my experiences and my knowledge, I never go to overseas before :( I want to have a job with a good position & great salary and I also want to have some businesses.

2. Novels
I love to read romance novels, and I do need a recommendation.

3. Netbook
why? because my laptop is getting old and cant do something rapidly again, so it's really hard for me to finish my assignments when I need to open a lot of files or applications. beside that, netbook is not as heavy as notebook and so much easier than tablet. I have one tablet, I love to use it when Im outside, but still, table couldnt replace the function of netbook.

4. Handphone
nowadays, android became the smartphone market leader. and I want to have one of those smartphones.

It's enough for tonight, maybe someday I'll add more wishes on my wishlist ;)

Tuesday, 22 October 2013

Boyce Avenue - Change Your Mind

19:42 0 Comments
Akhir-akhir ini aku suka banget dengerin lagunya Boyce Avenue - Change Your Mind, awalnya aku cuman suka lagunya tanpa tahu liriknya :D

There you are with your perfect way
You've got this little shine in your eyes
To hear one word would make my day
But there's no room for me in your life
Ohhhh
You've got me down on my knees
Ohhhh
And in my mind I can see
How perfect everything could be
But you won't give us a try

[Chorus]
But if I could change your mind
How would you want me
Would you say you need me
'Cause I need you now
[ Lyrics from: http://www.lyricsty.com/boyce-avenue-change-your-mind-lyrics.html ]
I try to move on but your perfect way
Has got a little child asking why
But this world keeps spinning
As my heart stops beating
Is there still no room inside
Ohhhh
You've got me down on my knees
Ohhhh
And in my mind I can see
How perfect everything could be
But you won't give us a try

[Chorus]
But if I could change your mind
How would you want me
Would you say you need me
'Cause I need you now
If I could change your mind
(Please tell me I'm not the only one)
(Please help me believe I'm not the only one)
If I could change your mind

[Chorus]
But if I could change your mind
How would you want me
Would you say you need me
'Cause I need you now

[Chorus]
And if I could change your mind
How would you hold me
Would you stay forever
Or just leave me here to drown

And if I could change your mind
(Change your mind)
If I could change your mind
(Change your mind)