Berhitung,
aktifitas yang dibenci sebagian orang. Namun entah mengapa, berhitung seakan
menjadi dasar dari setiap mata pelajaran dalam sekolah atau perkuliahan. Fisika,
matematika, akutansi, bahkan dalam Bahasa Indonesia-pun kadang kita harus
menghitung, entah menghitung bait atau menghitung kata saat akan membuat sebuah
tulisan.
Pagi ini aku harus memulai hari dengan berhitung. Aku belum sepenuhnya membuka mata saat anak-anak matahari menelisik di lipatan kelambu, tapi aku harus menghitung berapa kata syukur yang harus kuucap tatkala kudapati sapaan mentari melalu jendela. Setelah sepenuhhnya tersada, aku harus menghitung dan memilah apa-apa saja dari hari kemarin yang harus kulanjutkan dan kutanggalkan di gantungan lemari masa lalu.
Dengan kantuk yang masih
menggelantungi kelopak mata, aku menjejakkan telapak kaki di kamar mandi,
kubiarkan bulir-bulir air dingin itu membekukan separuh mimpi semalam, lalu
kudiamkan beberapa kenangan kelam dan masalah mengalir bersama air menuju
selokan. Jangan suruh aku menghitung bulir air yang mencumbuku, aku belum gila!
Aku telah siap berperang dengan
hari terakhir di weekday. Tapi sebentar, ada yang kurang. Aku belum menghitung
jumlah rupiah yang tertata rapi di selipan dompet, aku harus berhemat dan
benar-benar perhitungan terhadap pengularan. Karena kebutuhan dan harga yang terus
meningkat, dengan pemasukan yang tetap, mau tidak mau aku harus mengeratkan
ikat pinggang.
Kulihat jam yang melingkar di
pergelangan tangan sebelum melajukan motorku, masih pagi. Kuhitung kira-kira
pukul berapa aku tiba di kampus dengan kecepatan 40-60km/jam, mungkin kurang
dari 45menit jika aku berangkat sekarang, macet belum meliuk sepagi ini.
Tepat seperti dugaanku, aku tiba
di kampus 40menit kemudian. Kuparkir motor sesuka hati karena tempat parkir
yang masih luas, dengan langkah ringan aku menuju lounge. Dan benar saja, mahasiswa
yang datang sepagi ini bisa dihitung dengan jari, tak kurang dari 5 orang yang
kutemui sepanjang koridor lantai 5.
Masih 30 menit lagi sebelum kelas
pagi dimulai, tapi aku sudah lelah berhitung. Lalu aku mulai membuka novel dan
membuka halaman dengan pembatas di selanya, lalu ku balik ke halaman paling
belakang, tanpa sadar aku menghitung berapa jumlah halaman yang masih harus
kubaca. Ah sial! Aku berhitung lagi.
No comments:
Post a Comment