Wednesday, 4 December 2013

secuil pagi di bulan Desember

jauh sebelum matahari menyelisip di balik tirai jendela, aku telah membuka mata dan mengucap beberapa doa pada Sang Maha Kuasa. pagi ini adalah senin pertama di bulan desember. bulan yang menutup lengkapnya 12bulan dalam setahun. hari ini tak seperti biasanya yang kuisi dengan keruwetan ala weekday di pagi hari. aku dengan santai mengawali hari dengan sit-up (yang tak pernah kulakukan), lalu pergi ke kamar mandi, melunturkan sisa-sisa mimpi semalam, mimpi tentang kenangan dan angan tentangnya. ah iya, sebelum mandi, kusempatkan menuju dapur untuk menggoreng sebutir telur untuk menyumpal perutku yang berteriak ingin disupply. setelah semua ritual pagi selesai, aku mematut diriku di cermin. sebenarnya beberapa hari belakangan, terbesit hasrat untuk melepas hijab yang hampir setahun aku kenakan, namun aku harus belajar berkomitmen dengan keputusanku untuk berhijab, jadi aku tetap mengenakannya.

pukul 05.15, aku telah siap untuk berangkat. terlalu pagi memang, jadi kuputuskan untuk menengok lemari bukuku dan memilih buku apa yang akan kubaca hari ini. karena hari ini aku pergi dengan menggunakan transportasi umum menuju kampus (aku mengendarai motor pada hari biasanya), aku harus menyiapkan bacaan yang bisa kubaca dan kupotong seenaknya, pilihanku jatuh kepada sebuah kumpulan cerpen. jam di dinding ruang keluarga tepat menunjukkan pukul 05.30, kuputuskan untuk bergegas, mengingat padatnya jalanan ibukota di jam berangkat kantor.

awalnya aku ingin mendengar percakapan orang-orang sebelum memulai aktifitas mereka, namun yang kudengar hanya keluhan tentang harga-harga bahan pangan kian menjulang, ada juga bibir yang memilih untuk terkatup entah karena alasan apa, dan suara bisingnya kendaraan yang saling menyalip, seakan terbirit-birit dari kejaran serigala. kuputuskan untuk memasang earphone di telingaku, lagu-lagu sendu mulai mengalun, aku mengutuk diriku sendiri yang terlalu malas meng-update playlist handphoneku.

menurutku, kereta akan menjadi solusi terbaik untuk menjauhkanku dari kata terlambat atau terlalu siang. jadi, aku berpindah dari satu angkot, ke angkot lainnya untuk mencapai stasiun. sesampainya di stasiun, banyak orang telah menunggu kereta di tiap peron, bapak ibu yang siap berangkat ke kantor, atau murid berseragam putih-putih, setahuku dulu murid SMA berseragam putih- abu-abu. rupanya kebijakan pemerintah berubah. bahkan pemerintahpun bisa labil, hahahaha, seharusnya kebiasaan baik tetap dijaga, apa salahnya mengawali awal minggu dengan seragam kebanggaan anak SMA, putih-abu-abu. ah sudahlah, terlalu pagi untuk mengutuk kebijakan pemerintah yang tak bijak. kukeluarkan kumpulan cerpen yang tadi aku selamatkan dari pengapnya lemari buku, kubuka cerita favoritku, aku sudah akrab dengan kertas dan aroma buku ini, dengan mudah jari dan mataku menemukan halaman cerita pendek yang kumau. kubunuh waktu dengan membaca tiap frasa yang tertulis di atas kertas, tanpa terasa, pengumuman dengan denting khas stasiun membuyarkan konsentrasiku, aku harus berdesakkan dan menyelipkan badan mungilku di antara badan-badan tegap dan penuh hasrat menyesakki tiap gerbong kereta pagi ini. tak butuh lebih dari 10 menit untuk mencapai stasiun yang kutuju. seperti halnya saat akan menaikki gerbong ini, turunpun butuh usaha lebih keras, ada banyak orang egois yang masih berdiam di tempatnya tanpa mengindahkan aku yang ingin turun, dan di depan pintu gerbong kudapati orang yang sama egoisnya, mereka tetap menjejalkan diri mereka ke dalam gerbong tanpa mempedulikan orang-orang yang ingin keluar dari himpitan manusia dalam gerbong itu.

Setelah usaha (ekstra) keras aku keluar dari gerbong itu dan menuju pintu keluar, menunggu angkot yang mengarah ke kampus. beberapa saat berlalu, angkot itu datang dengan beberapa penumpang di dalamnya, untung tak ada acara ngetem seperti kebanyakan kebiasaan angkot pada umumnya. jangan ditanya tentang jalan yang aku lewati, karena macet sudah pasti kutemui bahkan di jalan tikus sekalipun. macet panjang mulai membuatku gundah, dan aku memilih untuk membuka kembali kumpulan cerpen dan tenggelam di dalamnya. entah berapa lama aku menyelam, tiba-tiba kudengar suara si supir menyuruhku dan satu penumpang lainnya untuk pindah (oper) ke angkot lainnya. dengan langkah ogah-ogahan aku turun dari angkot dan menuju angkot yang ditunjukkan oleh supir tadi. aku sengaja memilih duduk di bangku depan, sekedar untuk mengedarkan pandanganku ke pemandangan pagi khas ibukota, sembari menerka apa yang ada di dalam pikiran sang pengemudi mobil yang hanya berisi dirinya, dan membiarkan raga serta waktunya terjebak macetnya ibukota, terlintas juga di benakku tentang pengendara motor yang mengklakson dengan serta merta, kemana mata mereka? sudah jelas kemacetan terhampar sepanjang jalan. "Good time flies fast", begitulah filosofi dari dosen Accountingku, dan filosofi itu benar adanya. tanpa terasa pengamatanku tentang macetnya ibukota pagi ini harus berakhir dan berganti dengan aktifitas khas mahasiswa. Terima kasih Tuhan, telah mengijinkanku menyicipi secuil pagi di bulan Desember :)

No comments:

Post a Comment