Kali ini aku menulis dengan
jemari kisut yang gemetaran. 2 jam yang lalu aku mengendarai kendaraan roda
duaku dari kampus dengan hujan dan sapuan angin. Jangan tanya betapa
menggigilnya aku, aku sungguh kedinginan, seperti hampir membeku, gigiku
bergemelatuk, dan jantungku berdetak jauh lebih cepat. Tapi yang ada di benakku
hanyalah hangatnya rumah dan buliran air hangat yang akan menormalkan temperature
tubuhku. Setelah satu jam perjalanan dengan hujan yang tak kunjung mereda, aku
tiba di depan pagar rumah. Kuketuk berkali-kali pagar bergembok itu, tak ada
suara, semua seperti bergeming, tak seperti hujan dan petir yang sedang
berpesta riang. Seluruh pakaianku tak luput dari air, tak ada se-milimeter-pun yang luput dari hujan sore
ini. Kucoba menghubungi penghuni rumah melalui mediator karena kredit pulsaku
ternyata tidak cukup untuk melakukan panggilan. Dan kabar yang kudapat adalah
ternyata mereka sedang pergi. Ahh aku harus bagaimana, badanku basah, tubuhku
menggigil. Kulihat rumah tak berpenghuni di ujung gang, tanpa menunggu lama aku
memberanikan diri untuk menumpang berlindung dari hujan sore ini. Rumah ini
mempunyai teras cukup luas, dengan beberapa anak tangga di depan pintu
utamanya. Aku duduk di anak tangga paling rendah, menekuk kedua lututku,
berharap sedikit kehangatan akan membelai kulitku yang mulai memucat. Beberapa menit
kemudian, handphoneku bordering, isi percakapan di antara hujan membuat hatiku
membuncah dan sedikit memberi kehangatan yang ditransfer melalui pembuluh nadi.
Bagaimana tidak, tanteku berbaik hati akan membelikanku novel-novel yang sedang
kuinginkan. Telfon berakhir dengan lengkung senyum yang bertahan agak lama,
hingga kusadari hujan mulai mereda, namun penghuni rumah masih dalam perjalanan
menujuku. Satu jam berlalu, jemariku makin kisut, tubuhku kian menggigil, aku
harus mensugesti diriku sendiri untuk kuat dan tidak tumbang melawan dingin
karena angin semakin kencang berhembus, menerpaku yang mengenakan kain-kain
basah, seakan ingin membekukanku. Hampir dua jam aku menunggu, lalu kudengar
kuda bermesin itu menderu, mendekat. Akhirnya mereka datang, Alhamdulillah Ya
Allah.
Thursday, 19 December 2013
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment