Thursday, 19 December 2013

hujan sore ini

Kali ini aku menulis dengan jemari kisut yang gemetaran. 2 jam yang lalu aku mengendarai kendaraan roda duaku dari kampus dengan hujan dan sapuan angin. Jangan tanya betapa menggigilnya aku, aku sungguh kedinginan, seperti hampir membeku, gigiku bergemelatuk, dan jantungku berdetak jauh lebih cepat. Tapi yang ada di benakku hanyalah hangatnya rumah dan buliran air hangat yang akan menormalkan temperature tubuhku. Setelah satu jam perjalanan dengan hujan yang tak kunjung mereda, aku tiba di depan pagar rumah. Kuketuk berkali-kali pagar bergembok itu, tak ada suara, semua seperti bergeming, tak seperti hujan dan petir yang sedang berpesta riang. Seluruh pakaianku tak luput dari air, tak ada se-milimeter-pun yang luput dari hujan sore ini. Kucoba menghubungi penghuni rumah melalui mediator karena kredit pulsaku ternyata tidak cukup untuk melakukan panggilan. Dan kabar yang kudapat adalah ternyata mereka sedang pergi. Ahh aku harus bagaimana, badanku basah, tubuhku menggigil. Kulihat rumah tak berpenghuni di ujung gang, tanpa menunggu lama aku memberanikan diri untuk menumpang berlindung dari hujan sore ini. Rumah ini mempunyai teras cukup luas, dengan beberapa anak tangga di depan pintu utamanya. Aku duduk di anak tangga paling rendah, menekuk kedua lututku, berharap sedikit kehangatan akan membelai kulitku yang mulai memucat. Beberapa menit kemudian, handphoneku bordering, isi percakapan di antara hujan membuat hatiku membuncah dan sedikit memberi kehangatan yang ditransfer melalui pembuluh nadi. Bagaimana tidak, tanteku berbaik hati akan membelikanku novel-novel yang sedang kuinginkan. Telfon berakhir dengan lengkung senyum yang bertahan agak lama, hingga kusadari hujan mulai mereda, namun penghuni rumah masih dalam perjalanan menujuku. Satu jam berlalu, jemariku makin kisut, tubuhku kian menggigil, aku harus mensugesti diriku sendiri untuk kuat dan tidak tumbang melawan dingin karena angin semakin kencang berhembus, menerpaku yang mengenakan kain-kain basah, seakan ingin membekukanku. Hampir dua jam aku menunggu, lalu kudengar kuda bermesin itu menderu, mendekat. Akhirnya mereka datang, Alhamdulillah Ya Allah.

No comments:

Post a Comment