Saturday, 14 October 2017

Ransel Orange, Sore dan Halte

19:54 0 Comments



Hujan kembali berderap, membasahi tanah yang belum kering karena hujan semalam. Bangunan megah itu masih terlihat kokoh, dengan lampu terang nan hangat yang menyinari tiap ruangannya, ada pula kemerlip lampu pada taman yang menambah keindahan. Seakan menghiraukan hujan, bangunan itu menawarkan kehangatan di dalamnya, dia tak peduli hujan jatuh lebih banyak atau air di saluran mengalir lebih deras. Dia menulikan diri terhadap dentuman petir yang menyambar, dia pun menutup mata dari kilatan yang menyilaukan mata layaknya blitz kamera.

Di halte yang berseberangan dengan gedung itu, terlihat seorang gadis yang selalu duduk di situ sepanjang sore. Tak peduli hujan sedang deras atau matahari menyengat, dia akan duduk di situ sembari memangku sebuah ransel orange yang mengembung dan membaca sebuah novel.

-SI GADIS-

Ah sore, harusnya kau tak semendung ini. Hujan terlalu deras untuk kulalui sendirian saja, dinginpun terlalu menusuk untuk aku yang hanya berbalut jumpsuit dan sweater tipis. Halte inipun terlalu sempit untuk melindungiku dari pantulan air hujan yang berbenturan dengan jalanan, tak jarang pula cipratan air dari mobil turut membasahi sepatu atau celanaku.

Aku selalu berteman sore dan ransel orange. Sore selalu menaungi, tak peduli ia tengah sedih atau berjingga, ia akan selalu ada. Begitu pula dengan ransel orange, tas menggembung yang berisikan benda-benda kenangan dan sebuah kotak yang kuisi dengan berbagai kebahagian mengejutkan.

Aku tak pernah lupa untuk membawa ransel orange saat keluar rumah. Isi dari ransel itupun tak pernah berubah,tak pernah kukeluarkan, karena aku takut lupa untuk memasukkannya kembali. Pernah suatu ketika, ada seorang teman menyembunyikan ransel orangeku selama 2 hari, aku seperti kehilangan sebuah pegangan, karena aku tak pernah berpisah dari ransel orange, makanpun aku enggan, aku menjalani 2 hari itu dengan tampang kusut. Mungkin ransel orangeku akan “hilang” lebih lama jika tak ada dia yang meminta temanku untuk mengembalikannya padaku. Iya, DIA! Dia membuatku lebih mencintai ransel orangeku.

Dulu, pada tiap sore yang biasa aku dan dia selalu menunggu bis di halte ini sepulang sekolah. Dia dengan jam sport di pergelangan tangan kiri dan sebuah ransel yang hanya diselempang sembarangan. Aku masih ingat bagaimana ekspresinya saat bis yang seharusnya tiba pukul 16.30 ternyata terlambat karena kemacetan saat Pak Presiden mengunjungi kota kami. Sampai saat inipun aku masih dapat mencium aroma macho tubuhnya dan cengiran khasnya saat kudapati dia sedang menjahili seseorang.

Aku masih ingat bagaimana ekspresinya saat menanyakan padaku apa arti ransel orange ini, dia mengatakan bahwa dia khawatir saat melihatku murung karena kehilangan ransel orangeku. Aku tak menjawab apa-apa, hanya tersipu dan tersenyum. Lalu di luar dugaanku, dia menyambar ransel orange yang sedang kupangku dan membawanya lari, sontak aku berteriak, dan ku dengar ia tertawa terbahak sembari berteriak “Ayo sini, susulin aku! Hahahaha”. Aku hanya diam, duduk memandanginya tanpa berusaha mengejarnya karena aku terlalu lemah untuk berlarian, saling mengejar seperti adegan-adegan film Bollywood bukanlah hobiku. Tak butuh waktu lama untuknya menyerah dan kembali lalu mengembalikan ranselku. Sama sepertimu, sore, aku yakin dia pasti kembali, tepat seperti waktu dia berlari lalu kemudian kembali.

Setelah kejadian dia membawa lari ranselku, malamnya aku membongkar isi ranselku untuk mencuci lunch box dan botol minum, tapi tetiba mataku tertuju pada sebuah amplop coklat besar yang aku ingat betul bukan milikku. Segera kuambil amplop itu, dan ada post it tertempel di satu sisi, tertulis “ini kejutan untukmu, setelah kau membaca ini, percayalah aku pasti kembali padamu, persis seperti tadi siang”. Kubuka amplop itu dan kutemukan beberapa carik kertas tentang penerimaan Mahasiswa Baru di Hz University, Belanda, ada pula kertas duplikat tiket keberangkatan. Rupanya dia berangkat besok sore, penerbangan jam 6 sore dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Air mataku beku, aku tak bisa menangis, aku hanya berteriak di balik bantal untuk meredam suaraku. Selama ini tak ada yang mau menjadi teman dekatku, tapi dia rela menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mendorong kursi rodaku di saat temannya yang lain sedang bermain bola. Masih kuingat betul kata indahnya, “Aku bersedia menjadi pengganti kakimu yang diamputasi”.

Malam telah menjemput sore. Maaf, aku harus pulang. Esok kan kutunggu dia di halte ini, tempat yang pertama kali ia tuju saat kembali

Suami Seorang Gadis

19:48 0 Comments


Hei cepatlah, kita terlambat”, teriak seorang lelaki dari balik pintu.
Seorang wanita yang diteriaki lelakinya hanya memutar bola mata sembari memoles blush on pada pipi tirusnya. Badannya yang ramping, dibalut oleh gaun anggun berwarna nila sepanjang lutut dengan kalung mutiara melingkari lehernya, beralaskan kaki sebuah wedges berwarna silver, penampilan wanita ini sungguh mempesona.
Setelah mematut diri sekali lagi dan merasa yakin dengan penampilannya. Wanita itu keluar dari kamarnya dan memegang dengan halus pundak lelaki itu. “yuk berangkat”, begitu ujarnya. Mungkin sang lelaki terlalu terbiasa dengan pesona wanita itu, sehingga dia merasa tidak ada yang istimewa dengan penampilan wanita itu hari ini.
Sang lelaki bernama Suryo yang beristrikan Nephy, gadis blasteran Indonesia – Rusia. Perbedaan usia pasangan suami istri itu terpaut cukup jauh, sekitar 22 tahun. Awal mula mereka bertemu di sebuah perhelatan akbar acara fashion show yang dihadiri oleh model-model ternama. Suryo yang merupakan investor salah satu designer, tertarik pada Nephy yang tak lain adalah model dari designer yang ditanami modal oleh Suryo. Tak sulit bagi mereka untuk saling mengenal karena sang designer berkenan membantu proses penumbuhan benih cinta mereka. Tak perlu waktu lama bagi Nephy untuk mendapat sebuah lamaran pernikahan dari Suryo, dan beberapa minggu kemudian mereka mengadakan sebuah acara pernikahan khidmat namun elegan di sebuah taman di kawasan Bogor.
Siang ini mereka akan menghadiri acara launching sebuah hotel mewah di bilangan Kemang. Suryo yang merupakan salah satu stakeholder terkuat di hotel tersebut mendapatkan undangan VIP. Sejak memasuki lobi hotel, Suryo banyak mendapat sambutan sapaan, berbagi salam tangan dengan tiap orang yang ditemuinya. Nephy seperti boneka yang hanya mengekor Suryo dan melempar senyum manis berkharisma pada tiap orang yang menyapanya sebagai Nyonya Suryo.
Acara siang itu berlangsung meriah dan sesuai dengan rundown yang tertulis. Saat Suryo memberikan pidato di depan, Nephy beralih ke belakang untuk mengambil minum dan cemilannya. Nephy benci berada di tempat ramai tanpa ada siapapun di sampingnya, Nephy benci di nomor duakan, termasuk oleh bisnis yang dikelola suaminya.
Saat hendak mengambil cemilan, ada seorang wanita paruh baya yang kebetulan mengambil cemilan yang sama. Mereka saling bertukar senyum sesaat, sembari Nephy mempersilahkan wanita itu untuk mengambil terlebih dahulu.Dalam perjalanan pulang, Nephy hanya diam, dia merasa kesal karena sikap Suryo yang tak menganggap dirinya ada. Namun Suryo tak mengindahkan sikap diam Nephy, dan itu membuat Nephy makin kesal.
Sesampainya di rumah, ketika Suryo minta disiapkan air hangat untuk mandi, Nephy tak menjawab. Dia hanya berjalan ke kamar mandi, memutar kran air ke panah berwarna merah, yang menandakan air hangat akan mengucur dari kran tersebut. Saat Suryo sedang menikmati aromateraphy lavender berpadu dengan air hangat, ponsel Nephy berbunyi dan menampilkan sebuah pesan singkat.

“Apa kabar kau di sana? Selalu jaga ayahmu, ya nak”

Monday, 20 April 2015

Peron Dua (Part 1)

23:51 0 Comments


Stasiun dilambangkan sebagai simbol sebuah perpisahan, permulaan atau pertemuan dua insan yang saling merindu. Ada yang menangis saat harus melepas kepergian orang terkasih, ada pula tangisan haru karena bertemu dengan yang lama terpisah jauh, dan ada yang tak sengaja bertatap muka, saling tersenyum lalu bertukar nama.
Belakangan kuketahui, bahwa stasiun juga merupakan simbol sebuah penantian--- sebuah kedatangan yang tak kunjung menampak.
Sekitar pukul 3 sore, saat terik telah menyingsingkan sebagian silaunya, sesosok gadis kan memasuki stasiun, membeli sebotol air, lalu duduk di peron 2. Saban hari dia kan duduk di sana, hingga malam. Tak ada yang tahu apa yang dia tunggu. Petugas stasiun yang telah akrab dengan kehadiran gadis itu kan membiarkannya duduk tanpa bertanya kereta tujuan mana yang ia tunggu, atau siapa yang ia nanti kedatangannya.
Tapi aku mengetahui segala kisah yang terjadi di stasiun ini, segala yang melintas dan menetap di peron 2. Amelia, nama gadis itu. Pertama kali aku mengenalnya dia tak semurung itu, tak ada duka tersimpan di matanya. Dia selalu penuh semangat membawa ransel dan barang bawaannya saat libur semester kuliahnya tiba. Ayahnya kan melambaikan tangan saat menemukan putrinya tengah kebingungan di antara kerumunan.

********************************
5 tahun lalu ....
Selamat datang di Stasiun Gubeng, penumpang yang hendak turun diharap memperhatikan barang bawaannya. Jangan sampai tertinggal, terjatuh atau tertukar. Kereta tujuan Malang akan berangkat 30 menit lagi. Para penumpang yang hendak naik diharapkan mendahulukan penumpang yang turun” ujar operator stasiun.
Amelia turun di peron 4, dengan carrier bag di punggung dan sebuah travel bag yang berisi oleh-oleh untuk sanak saudara di rumah. Dia menelongok jauh ke depan, mencari sosok ayahnya.
Lia.. Lia.. Ayah di sini, Nak!” teriak ayahnya.
“Ayaaaaaaaahhh ...” Amelia langsung menghambur dalam pelukan sang ayah.
“Ayah uda lama? Ibu mana? Ibu pasti lagi masak ya? Ibu masak apa, Yah?”
Ayahnya hanya tersenyum mendengar rentetan pertanyaan dan ocehan Lia. Mereka berjalan beriringan menuju mobil Kijang. Tak lama setelah mobil melaju, Lia terlelap.
Sesampainya di rumah, Ibu telah menunggu Lia di pintu depan, beliau memeluk putri semata wayangnya. Mengecup pipinya berkali-kali lalu mengantarnya ke meja makan. Aroma tempe penyet sambel ijo beserta kemangi menggugah nafsu makan Lia yang memang sedang meraung untuk dipuaskan.
Selesai bersantap, Lia berbenah barang-barangnya dan membagikan cindera mata berupa cemilan untuk tetangga sekitar rumah. Dia tidak lupa mampir di warung es degan favoritnya sejak SMP dan memesan segelas es degan madu untuk ditenggaknya. Lia tidak menyadari bahwa seorang pemuda di depannya telah menghabiskan 3 gelas es degan madu di saat Lia hanya menenggak setengah gelas. Lia baru tersadar saat pemuda itu memesan satu gelas lagi.
doyan, laper atau maniak degan, Mas?” begitu tanya Lia
Pemuda itu menjawab Lia dengan nada bangga, “ini perayaan untuk diriku sendiri atas diterimanya diriku bekerja di Bangka
Wah, selamat ya! Aku juga mau dong bersulang satu gelas es degan untuk keberhasilanmu”, ujar Lia sembari mengharap mendapat segelas es degan.
Boleh, monggo-monggo. Yadi”, ucap pemuda itu sembari mengulurkan tangan
Lia.

Segelas es degan mendekatkan mereka berdua. Dari cerita Yadi, Lia mengetahui bahwa Yadi bukanlah penduduk asli Surabaya, dia baru beberapa bulan pindah dari Kalimantan.