Jika ini sebuah dongeng, kan kukisahkan dengan alur yang indah, sesuai
kehendakku. Aku dan kamu menjadi satu tentu saja. Aku dan kamu selalu bersama,
tertawa dan menua. Kamu yang muda, menggamit tanganku, mengujungi tempat-tempat
yang bahkan tak pernah terpikir sebelumnya. Kamu yang setengah baya,
menggenggam tanganku erat menjelang proses bersalin, meyakinkan bahwa semuanya
kan baik saja, membisikkan kalimat penyemangat. Kamu yang setengah baya,
menggendong buah hati kita, menggodanya hingga terbahak, mengantarnya ke
sekolah. Kamu yang mulai menua, memberi nasihat pada buah hati kita tentang
kehidupan, mengantarkannya ke bangku kuliah, menangis haru saat akhirnya dia menjadi
sarjana. Kamu yang menua, akan tersenyum saat cucu-cucu kita datang berkunjung.
Jika ini sebuah dongeng, kupastikan aku, kamu, kita di tiap lembarnya.
Sayangnya, ini adalah kisah pahit yang tak kunjung terasa legit.
Pagi itu terasa biasa saja, aku bebenah rumah, menyiapkan sarapan untuk
diriku sendiri, lalu membaca beberapa bab sebuah novel romansa. Sebelum
membersihkan diri, kusempatkan untuk menengok handphone dan hanya chat
scrolling untuk sekedar mengetahui apa yang terjadi di room--- tempat kita saling mengenal. Lalu mataku menangkap sebuah
kalimat dari seorang teman yang memintamu untuk segera sampai di tempat yang
telah dijanjikan. Meet up untuk
hunting foto bareng di salah satu furnishing store. Segera ku kirim personal message ke salah satu dari
mereka dan menanyakan tentang kepastian tempat. Siang itu sebenarnya terlalu
terik untuk keluar rumah, tapi aku ingin melihatmu, bertemu walau tak kan ada
sapa yang tertukar. Setelah mandi kilat dan melakukan sedikit touch up, aku memesan taksi untuk menujumu,
menuju senyummu.
Tidak ada tanda-tanda sapaan hangat kan keluar dari bibir mungilmu. Kau
pria dambaanku hanya memandang sekilas saat aku datang. Setelah perjalanan yang
sarat akan kepadatan yang merayap, aku berharap kan ada sebuah sapa yang
hangat, senyum yang bersahabat. Kau seakan menjauh, entah aku yang terlalu
perasa atau memang kau sedang menghindar. Betapa inginku bercengkarama panjang
lebar dan tertawa karena leluconmu. Tapi semua pupus.
Aku mengitari gedung itu sendirian, terkadang mengekor di belakang seorang
teman. Kulihat layar handphonemu
berkedip ketika menjepret sebuah objek. Kau terlihat begitu serius, berjalan
lurus ke depan tanpa menoleh ke arahku. Terkadang kau memindahkan sesuatu,
sekedar untuk mendapatkan objek sesuai inginmu. Tak jarang pula kilirik matamu
menelisik ke tiap sudut bilik hanya untuk memastikan ada sesuatu yang bisa kau
abadikan.
Deg..deg..degdeg..deg. Aku harap kau tidak mendengar degup jantungku yang
terlalu kencang saat di dekatmu. Ingatkah kau saat kita duduk berhimpitan?
Lengan kita bersinggungan. Jantungku serasa akan melompat dari tempatnya ketika
aku menggamit tangan kanan seorang bocah, dan kau menggamit tangan kirinya.
Jika ini sebuah dongeng, handphoneku kan berdering tiap pagi dan kudapati
namamu dilayar, lalu kita bertukar selfie.
Entah kenapa kita memutuskan untuk bertukar selfie
setelah bangun tidur. Ah andai kau tahu betapa aku menggilai mimik mukamu yang
masih setengah sadar dan tersenyum ke layar kaca yang menghubungan kita berdua.
Semakin hari aku semakin mencandumu, kegilaanku menjadi-jadi. Aku merindukan
senyum itu, sapaanmu, dan beberapa hal di luar nalarku.
Kita memang bukan sepasang kekasih yang bertukar janji, saling terhubung
sepanjang hari. Cukup dengan secuil sapaanmu dari sekian panjang hari, aku kan
merasakan kupu-kupu menari di perutku.
Kau akan menghilang seharian setelah pagi menjelang siang. Kadang tak kan
ada namamu di layar handphoneku seharian penuh, lalu esok atau dua hari
kemudian kau akan muncul dengan sticker
line yang menggemaskan. Pernah setelah beberapa hari kita tak berkabar,
tetiba kau mengirim chat line dengan
ejaan alay, “anen aneedd”. Ahh andai
aku berharap bahwa itu bukanlah chatmu yang sekedar iseng. Aku tahu aku
hanyalah debu yang tak sengaja hinggap di hidupmu yang penuh petualangan,
ibaratnya aku hanyalah seseorang yang tak sengaja bertatap muka denganmu saat
kau sedang dalam perjalanan.
Jika ini sebuah dongeng, setelah kepulanganmu dari pulau antah berantah
kita akan menghabiskan banyak hari berdua. Menertawakan hal yang sama, menjajal
setiap masakan lokal, atau sekedar menikmati senja berdua. Tanganmu kan
menggenggam tanganku erat, bibirmu kan melengkung saat kita bertukar tatap.
Bzbzbzbzbzbz, namamu tertera di handphoneku setelah 7 hari, “hai, udah aku unblock” begitu tulismu. 7
hari kulalui tanpa sapamu, bahkan sapaku pun tak mungkin kau baca, ntah apa
yang terjadi, entah apa salahku, setelah videocall pagi itu, tetiba pesanku tak
kau baca. Belakangan kuketahui bahwa kau menambahkan kontakku dalam block list.
Jika ini sebuah dongeng, aku tak kan mengenalmu, aku hanya sekedar
mengetahui namamu tanpa harus terlibat beberapa obrolan. Aku akan dengan senang
hati tenggelam dalam genangan masa lalu.
Aku menggenggam handphoneku, mendapati beberapa pesan masuk, sekedar chat scrolling dan menyapa grup. Kudapati namamu, menjadikan Pitung
sebagai name account dan gambarnya
untuk profile picture. Kusadari kau
hadir dengan berbagai ilusi yang kau ciptakan, menjauh dengan cara yang kau
ciptakan.