Monday, 26 January 2015

Jika Ini Sebuah Dongeng

18:23 0 Comments


Jika ini sebuah dongeng, kan kukisahkan dengan alur yang indah, sesuai kehendakku. Aku dan kamu menjadi satu tentu saja. Aku dan kamu selalu bersama, tertawa dan menua. Kamu yang muda, menggamit tanganku, mengujungi tempat-tempat yang bahkan tak pernah terpikir sebelumnya. Kamu yang setengah baya, menggenggam tanganku erat menjelang proses bersalin, meyakinkan bahwa semuanya kan baik saja, membisikkan kalimat penyemangat. Kamu yang setengah baya, menggendong buah hati kita, menggodanya hingga terbahak, mengantarnya ke sekolah. Kamu yang mulai menua, memberi nasihat pada buah hati kita tentang kehidupan, mengantarkannya ke bangku kuliah, menangis haru saat akhirnya dia menjadi sarjana. Kamu yang menua, akan tersenyum saat cucu-cucu kita datang berkunjung.
Jika ini sebuah dongeng, kupastikan aku, kamu, kita di tiap lembarnya. Sayangnya, ini adalah kisah pahit yang tak kunjung terasa legit.
Pagi itu terasa biasa saja, aku bebenah rumah, menyiapkan sarapan untuk diriku sendiri, lalu membaca beberapa bab sebuah novel romansa. Sebelum membersihkan diri, kusempatkan untuk menengok handphone dan hanya chat scrolling untuk sekedar mengetahui apa yang terjadi di room--- tempat kita saling mengenal. Lalu mataku menangkap sebuah kalimat dari seorang teman yang memintamu untuk segera sampai di tempat yang telah dijanjikan. Meet up untuk hunting foto bareng di salah satu furnishing store. Segera ku kirim personal message ke salah satu dari mereka dan menanyakan tentang kepastian tempat. Siang itu sebenarnya terlalu terik untuk keluar rumah, tapi aku ingin melihatmu, bertemu walau tak kan ada sapa yang tertukar. Setelah mandi kilat dan melakukan sedikit touch up, aku memesan taksi untuk menujumu, menuju senyummu.
Tidak ada tanda-tanda sapaan hangat kan keluar dari bibir mungilmu. Kau pria dambaanku hanya memandang sekilas saat aku datang. Setelah perjalanan yang sarat akan kepadatan yang merayap, aku berharap kan ada sebuah sapa yang hangat, senyum yang bersahabat. Kau seakan menjauh, entah aku yang terlalu perasa atau memang kau sedang menghindar. Betapa inginku bercengkarama panjang lebar dan tertawa karena leluconmu. Tapi semua pupus.
Aku mengitari gedung itu sendirian, terkadang mengekor di belakang seorang teman. Kulihat layar handphonemu berkedip ketika menjepret sebuah objek. Kau terlihat begitu serius, berjalan lurus ke depan tanpa menoleh ke arahku. Terkadang kau memindahkan sesuatu, sekedar untuk mendapatkan objek sesuai inginmu. Tak jarang pula kilirik matamu menelisik ke tiap sudut bilik hanya untuk memastikan ada sesuatu yang bisa kau abadikan.
Deg..deg..degdeg..deg. Aku harap kau tidak mendengar degup jantungku yang terlalu kencang saat di dekatmu. Ingatkah kau saat kita duduk berhimpitan? Lengan kita bersinggungan. Jantungku serasa akan melompat dari tempatnya ketika aku menggamit tangan kanan seorang bocah, dan kau menggamit tangan kirinya.


Jika ini sebuah dongeng, handphoneku kan berdering tiap pagi dan kudapati namamu dilayar, lalu kita bertukar selfie. Entah kenapa kita memutuskan untuk bertukar selfie setelah bangun tidur. Ah andai kau tahu betapa aku menggilai mimik mukamu yang masih setengah sadar dan tersenyum ke layar kaca yang menghubungan kita berdua. Semakin hari aku semakin mencandumu, kegilaanku menjadi-jadi. Aku merindukan senyum itu, sapaanmu, dan beberapa hal di luar nalarku.
Kita memang bukan sepasang kekasih yang bertukar janji, saling terhubung sepanjang hari. Cukup dengan secuil sapaanmu dari sekian panjang hari, aku kan merasakan kupu-kupu menari di perutku.
Kau akan menghilang seharian setelah pagi menjelang siang. Kadang tak kan ada namamu di layar handphoneku seharian penuh, lalu esok atau dua hari kemudian kau akan muncul dengan sticker line yang menggemaskan. Pernah setelah beberapa hari kita tak berkabar, tetiba kau mengirim chat line dengan ejaan alay, “anen aneedd”. Ahh andai aku berharap bahwa itu bukanlah chatmu yang sekedar iseng. Aku tahu aku hanyalah debu yang tak sengaja hinggap di hidupmu yang penuh petualangan, ibaratnya aku hanyalah seseorang yang tak sengaja bertatap muka denganmu saat kau sedang dalam perjalanan.


Jika ini sebuah dongeng, setelah kepulanganmu dari pulau antah berantah kita akan menghabiskan banyak hari berdua. Menertawakan hal yang sama, menjajal setiap masakan lokal, atau sekedar menikmati senja berdua. Tanganmu kan menggenggam tanganku erat, bibirmu kan melengkung saat kita bertukar tatap.
Bzbzbzbzbzbz, namamu tertera di handphoneku setelah 7 hari, “hai, udah aku unblock” begitu tulismu. 7 hari kulalui tanpa sapamu, bahkan sapaku pun tak mungkin kau baca, ntah apa yang terjadi, entah apa salahku, setelah videocall pagi itu, tetiba pesanku tak kau baca. Belakangan kuketahui bahwa kau menambahkan kontakku dalam block list.
Jika ini sebuah dongeng, aku tak kan mengenalmu, aku hanya sekedar mengetahui namamu tanpa harus terlibat beberapa obrolan. Aku akan dengan senang hati tenggelam dalam genangan masa lalu.
Aku menggenggam handphoneku, mendapati beberapa pesan masuk, sekedar chat scrolling  dan menyapa grup. Kudapati namamu, menjadikan Pitung sebagai name account dan gambarnya untuk profile picture. Kusadari kau hadir dengan berbagai ilusi yang kau ciptakan, menjauh dengan cara yang kau ciptakan.