Monday, 28 April 2014

Bukan Inginku Melupakanmu

09:57 0 Comments
Rintik gerimis yang mengetuk atap selalu menjadi irama favoritku. Ketukan demi ketukan yang bergerumbul dan tak bernada, pula tak teratur, tetap menyamankan kedua daun telinga yang bosan dengan kebisingan ibukota. Gesekan batang pohon yang membelai tembok tinggi dengan daunnya juga merupakan alunan kesukaanku. Banyak yang bilang suara gesekan itu terdengar menyeramkan sekaligus menegangkan, aku tetap bersikukuh bahwa pohon rindu pulang, pohon ingin mempunyai tempat yang bisa ia sebut rumah, lengkap dengan atap dan tembok, namun tanpa lantai.
Kutarik kursi belajar mendekati jendela yang kubiarkan sedikit terbuka. Aku cinta petrichor –aroma hujan yang membasahi tanah-, aku betah duduk diam berlama-lama di sini, menikmati sepaket hadiah Tuhan dalam bungkusan hujan. Kutatap lekat bulir-bulir air yang serupa embun di balik jendela, jemariku mulai menulis sesuatu, namaku dan namamu, lalu ada gambar sederhana sepasang lelaki dan perempuan dengan hati di antara mereka.
Kenangan itu menjamah lagi, menelanjangi tiap lara yang telah aku permak sedemikian rupa.
“hari itu, 4 November 2009 , ada janji cinta terucap di antara kita. Lebih tepatnya, sebuah kesepakatan. Hari itu tak ada kebahagiaan berlebih, karena aku masih menyimpan rasa terhadap lelaki terdahulu. Semua terasa biasa saja, tak ada yang istimewa, hanya sebuah kesepakatan bahwa kita saling memiliki. Namun entah sejak kapan, aku mulai mencandumu. Aku akan menangis jika tahu ada wanita yang lain yang dekat denganmu, ada rasa tak ingin berbagi dan cemburu yang meluap-luap. Hubungan kita tak manis, jarak adalah bumerang utama. Kita jarang bersama, kau selalu bisa menghiraukanku, ya aku tahu acuh adalah sifatmu. Ah tapi tak adil jika aku membahas keacuhanmu terhadapku, karena banyak hal indah terselip di antara kita. Hal manis yang tak ingin kubagi dengan siapapun, sekalipun dengan hujan yang sedang kutatap saat ini. Baiklah, akan kukisahkan secuil saja, hmm aku akan ingin detik berhenti berdetak saat kau mencium keningku dan memelukku erat, mencium kening sekali lagi, lalu memeluk lebih erat. Aku tahu kisah kita jauh dari kata sempurna, jauh dari sebuah harapan tentang hubungan yang manis dan penuh rindu. Kita –terutama aku- sering dirasuki cemburu, menyulut pertengkaran yang berakhir dengan sebuah pelukan. Ketika emosi tak lagi tertahan dan air mata mulai mengalir, kau akan dengan sigap memelukku, begitu erat, lalu kau hapus air mataku, memelukku sekali lagi dan tak lupa mencium keningku, begitu lama, begitu nyaman.”
Lamunanku buyar, ibu mengetuk pintu kamarku dan membawakan segelas teh hangat, lengkap dengan biskuit kesukaanku.
“Melamun lagi?”
“Nggak bu”
“Udah ndak usah dipikir, kalau jodoh ndak bakal kemana. Toh yang ngejar-ngejar kamu ndak cuman satu. Tuh ada si Viktor, Galih sama Fadil, trus ada juga yang sering maketin buku tuh siapa namanya?”
”Praja, bu”
“oh iyaa Praja, Ibu sampai lupa. Udah pokoknya kamu ndak usah liat-liat ke belakang. Ingat kata-kata Ibu, jodoh ndak bakal kemana, Nduk”
“Iya bu. Terima kasih”
Tak berapa lama setelah Ibu keluar, handphoneku berdering, nomor tak dikenal ini lagi kembali menelfonku. Entah aku harus menganggapnya teror atau iseng, nomor ini kerap sekali menghubungiku, tiap kali kuangkat selalu dimatikan. Sempat terfikir untuk memblokir nomor tersebut, namun selalu kuurungkan. Seperti ada yang berbisik bahwa suatu saat nomor itu akan membawa rindunya pulang padaku.

---Di Ujung Telefon---

Apalah aku sekarang ini, ingatanku tentangmu kerap kabur entah kemana. Seringkali aku mengingatmu, lalu kemudian melupakanmu begitu saja. Sesekali aku ingat ada seseorang berpakaian putih yang mengatakan bahwa aku mempunyai penghapus di otakku, yang disebut Alzheimer. Tiap kali ingatan tentangmu datang, aku akan mengambil telefon dan menekan nomormu yang dulu kuhafal di luar kepala, dan saat suaramu terdengar, yang bisa kulakukan hanya meletakkan kembali gagang telefon, tersenyum bahagia lalu lupa apa yang kulakukan sebelumnya. Beginilah aku sekarang, Sayang. Kuingin kau mengerti satu hal bahwa bukan inginku melupakanmu. Maafkan aku.

Saturday, 19 April 2014

Bahkan Alasan Untuk Menolakpun Aku Tak Punya

22:00 0 Comments


Pada senja yang biasa, Pada guratan merah jingga yang terpapar, dan pada langit keemasan sore. Aku menunggumu di sini, di bangku taman bercat putih, tepat di bawah sebuah pohon mungil yang tak kuketahui namanya. Sudah ratusan puisi tercipta, ribuan sajak tercecer dan puluhan cerita pendek yang berisi angan dan imajiku tentangmu, tentang kita. Puisi, sajak, dan cerita pendek selalu terjadi begitu saja, kala ku mengingatmu setiap bulir kata mengalir tanpa henti, menghipnotis jemariku untuk menulis tanpa jeda, dan hanya akan berhenti di sebuah akhir yang aku kehendaki; kau dan aku menjadi satu. Dalam tiap carik lembar

Dua bulan belakangan hujan dan gemuruh petir sering menggoda senja, senja terlalu takut untuk menghadapi mereka, ia hanya bisa bersembunyi di balik mendung. Sesekali mengintip dengan cahaya oranye, lalu kembali meringkuk di balik bahu awan. Aku ingin menepati janjiku untuk menunggumu tiap senja di bangku taman yang sama, tapi hujan dan kawannya begitu tega. Dia tak pernah biarkanku menginjak tanah kering saat sore, senjapun tak merona seperti biasanya.

Setelah beberapa hari melewati sore tanpa sesuatu yang berarti, kuputuskan untuk menjadikan kamarku sebagai wahana bermain untuk kenangan dan angan. Kutata ulang kamarku, tempat tidur berpindah ke sisi yang berlawanan dari tempat asalnya, meja rias dan lemari kini berdampingan, rak buku tepat di samping jendela, lalu sebuah kursi nyaman dan empuk kuletakkan di balik jendela.

“Aku siap menyambutmu, datanglah segera”, begitu batinku, menantang hujan yang selalu membasahi sore. Tepat seperti dugaanku dan peramal cuaca di sebuah stasiun televisi, hujan kembali menjajah sore, memaksa senja untuk bersembunyi dan meringkuk di balik mendung. Tapi kali ini aku siap melawan kebosanan dan kegelisahan yang dibawa hujan. Lalu aku mulai mencoret kaca yang berembun, kutulis namamu, kugambar wajahmu, dan kubuat sebuah rumah sederhana beserta anak-anak kita. Aku tersenyum puas, kuseruput cokelat hangat yang mulai dingin. Hujan reda, tapi kamu tetap tak datang.

Sore berikutnya menyapa, kali ini tak ada mendung, apalagi hujan. Senja begitu cerah, aku siap menunggumu di bangku taman. Lalu aku bersiap, memakai rok berenda dan blouse merah jambu, rambut kukuncir separuh, kupatut sekali lagi diriku di cermin. Sempurna, aku cantik. Kusambar tas yang berisi sebuah buku catatan untuk menulis beragam angan dan mendulang kenangan. Aku benar-benar siap berangkat, ketika tetiba aroma itu mengganggu indera penciumanku. Parfummu, iya parfummu, aku hafal betul baunya. Aku berlari menuruni tangga, dan benar saja, kutemui dirimu di ruang tamu, bersama seorang wanita yang kukenal betul senyumnya, dan kau bawa pula seorang lelaki dengan uban yang menggantikan rambut hitamnya namun itulah yang membuat beliau lebih bijaksana. Kau membawa serta ayah dan ibumu, lalu kau berucap, "aku tlah siap, sayang. Bagaimana denganmu?", aku terharu dan berhambur ke pelukanmu sembari berkata, "haruskah kujawab itu, sayang? Bahkan alasan untuk menolakpun aku tak punya"

Wednesday, 16 April 2014

Social Media

23:26 4 Comments
6 bulan yang lalu, saat sakit benar-benar meradang kau memutuskan untuk menghilangkan segala tentangku, kau hapus pertemanan kita dari semua media sosial yang menautkan kita. Tidakkah kau sadari, kita berteman hampir di semua jenis social media dan kau menghapus, bahkan memblokir aksesku untuk menghubungimu. Kau berkilah bahwa inilah salah satu caramu untuk melupakanku dengan cepat (aku menganggap ini caramu membuangku dari ingatanmu)

Tak ada lagi namamu berkeliaran di homepage facebookku, meskipun kau jarang mengupdate facebookmu, paling tidak aku bisa melihat dengan leluasa profil dan fotomu, atau menulis pesan sapaan pada dinding akunmu. Namun kau benar-benar mengunci akun facebookmu dan mengabaikan permintaan pertemananku. Twitter menjadi tempat sampah untuk membuang segala keluh kesah dan rindu yang tak berkesudahan, meskipun kau telah mengunfollow twitterku, setidaknya aku masih tetap menjadi followers setiamu sekedar untuk stalking atau mencari tahu apa yang sedang kau lakukan, dengan siapa kau berkencan dan untuk mengobati rasa penasaranku. Biasanya, kau mengupdate option check-in di akun Pathmu. Sejak kau mengunshare akun Pathku, aku tak bisa lagi melihat kemana kau pergi ataupun dengan siapa kau bagi senyummu. Tak ada lagi sumber info yang bisa kupakai untuk memantau aktifitas. Bahkan di instagram kau memilih untuk mengunfollowku, dulu kau sering memberi “hati” pada foto yang kuunggah, tak jarang aku membuka akun Instagrammu meski kuketahui tak kan kutemui apapun di sana bahkan fotomu sekalipun. Seandainya kau tahu betapa ini menyiksaku. Kerap kali rindu ini menumpuk lalu berubah menjadi gumpalan yang bergelindingan di dinding hati, mendobrak tiap pertahanan yang ada untuk tak mengharapkanmu.


Saat ini, meski kutahu ini bodoh tapi aku berharap kau masih memilih untuk mengacuhkan permintaan pertemanan tiap akun social mediaku, karena yang kutahu acuhmu mengartikan bahwa aku masih “hidup” jauh di dalam akar pikiranmu.