Pada senja yang biasa, Pada
guratan merah jingga yang terpapar, dan pada langit keemasan sore. Aku
menunggumu di sini, di bangku taman bercat putih, tepat di bawah sebuah pohon
mungil yang tak kuketahui namanya. Sudah ratusan puisi tercipta, ribuan sajak tercecer
dan puluhan cerita pendek yang berisi angan dan imajiku tentangmu, tentang
kita. Puisi, sajak, dan cerita pendek selalu terjadi begitu saja, kala ku
mengingatmu setiap bulir kata mengalir tanpa henti, menghipnotis jemariku untuk
menulis tanpa jeda, dan hanya akan berhenti di sebuah akhir yang aku kehendaki;
kau dan aku menjadi satu. Dalam tiap carik lembar
Dua bulan belakangan hujan dan
gemuruh petir sering menggoda senja, senja terlalu takut untuk menghadapi
mereka, ia hanya bisa bersembunyi di balik mendung. Sesekali mengintip dengan
cahaya oranye, lalu kembali meringkuk di balik bahu awan. Aku ingin menepati
janjiku untuk menunggumu tiap senja di bangku taman yang sama, tapi hujan dan
kawannya begitu tega. Dia tak pernah biarkanku menginjak tanah kering saat
sore, senjapun tak merona seperti biasanya.
Setelah beberapa hari melewati
sore tanpa sesuatu yang berarti, kuputuskan untuk menjadikan kamarku sebagai
wahana bermain untuk kenangan dan angan. Kutata ulang kamarku, tempat tidur
berpindah ke sisi yang berlawanan dari tempat asalnya, meja rias dan lemari
kini berdampingan, rak buku tepat di samping jendela, lalu sebuah kursi nyaman
dan empuk kuletakkan di balik jendela.
“Aku siap menyambutmu, datanglah
segera”, begitu batinku, menantang hujan yang selalu membasahi sore. Tepat
seperti dugaanku dan peramal cuaca di sebuah stasiun televisi, hujan kembali
menjajah sore, memaksa senja untuk bersembunyi dan meringkuk di balik mendung.
Tapi kali ini aku siap melawan kebosanan dan kegelisahan yang dibawa hujan.
Lalu aku mulai mencoret kaca yang berembun, kutulis namamu, kugambar wajahmu,
dan kubuat sebuah rumah sederhana beserta anak-anak kita. Aku tersenyum puas,
kuseruput cokelat hangat yang mulai dingin. Hujan reda, tapi kamu tetap tak
datang.
Sore berikutnya menyapa, kali ini
tak ada mendung, apalagi hujan. Senja begitu cerah, aku siap menunggumu di
bangku taman. Lalu aku bersiap, memakai rok berenda dan blouse merah jambu,
rambut kukuncir separuh, kupatut sekali lagi diriku di cermin. Sempurna, aku cantik.
Kusambar tas yang berisi sebuah buku catatan untuk menulis beragam angan dan
mendulang kenangan. Aku benar-benar siap berangkat, ketika tetiba aroma itu
mengganggu indera penciumanku. Parfummu, iya parfummu, aku hafal betul baunya.
Aku berlari menuruni tangga, dan benar saja, kutemui dirimu di ruang tamu,
bersama seorang wanita yang kukenal betul senyumnya, dan kau bawa pula seorang
lelaki dengan uban yang menggantikan rambut hitamnya namun itulah yang membuat
beliau lebih bijaksana. Kau membawa serta ayah dan ibumu, lalu kau berucap,
"aku tlah siap, sayang. Bagaimana denganmu?", aku terharu dan
berhambur ke pelukanmu sembari berkata, "haruskah kujawab itu, sayang?
Bahkan alasan untuk menolakpun aku tak punya"
No comments:
Post a Comment