Rintik gerimis yang mengetuk atap
selalu menjadi irama favoritku. Ketukan demi ketukan yang bergerumbul dan tak
bernada, pula tak teratur, tetap menyamankan kedua daun telinga yang bosan
dengan kebisingan ibukota. Gesekan batang pohon yang membelai tembok tinggi
dengan daunnya juga merupakan alunan kesukaanku. Banyak yang bilang suara
gesekan itu terdengar menyeramkan sekaligus menegangkan, aku tetap bersikukuh
bahwa pohon rindu pulang, pohon ingin mempunyai tempat yang bisa ia sebut
rumah, lengkap dengan atap dan tembok, namun tanpa lantai.
Kutarik kursi belajar mendekati
jendela yang kubiarkan sedikit terbuka. Aku cinta petrichor –aroma hujan yang membasahi tanah-, aku betah duduk diam
berlama-lama di sini, menikmati sepaket hadiah Tuhan dalam bungkusan hujan. Kutatap
lekat bulir-bulir air yang serupa embun di balik jendela, jemariku mulai
menulis sesuatu, namaku dan namamu, lalu ada gambar sederhana sepasang lelaki
dan perempuan dengan hati di antara mereka.
Kenangan itu menjamah lagi,
menelanjangi tiap lara yang telah aku permak sedemikian rupa.
“hari itu, 4 November 2009 , ada
janji cinta terucap di antara kita. Lebih tepatnya, sebuah kesepakatan. Hari itu
tak ada kebahagiaan berlebih, karena aku masih menyimpan rasa terhadap lelaki
terdahulu. Semua terasa biasa saja, tak ada yang istimewa, hanya sebuah
kesepakatan bahwa kita saling memiliki. Namun entah sejak kapan, aku mulai
mencandumu. Aku akan menangis jika tahu ada wanita yang lain yang dekat
denganmu, ada rasa tak ingin berbagi dan cemburu yang meluap-luap. Hubungan
kita tak manis, jarak adalah bumerang utama. Kita jarang bersama, kau selalu
bisa menghiraukanku, ya aku tahu acuh adalah sifatmu. Ah tapi tak adil jika aku
membahas keacuhanmu terhadapku, karena banyak hal indah terselip di antara
kita. Hal manis yang tak ingin kubagi dengan siapapun, sekalipun dengan hujan
yang sedang kutatap saat ini. Baiklah, akan kukisahkan secuil saja, hmm aku
akan ingin detik berhenti berdetak saat kau mencium keningku dan memelukku
erat, mencium kening sekali lagi, lalu memeluk lebih erat. Aku tahu kisah kita
jauh dari kata sempurna, jauh dari sebuah harapan tentang hubungan yang manis
dan penuh rindu. Kita –terutama aku- sering dirasuki cemburu, menyulut
pertengkaran yang berakhir dengan sebuah pelukan. Ketika emosi tak lagi
tertahan dan air mata mulai mengalir, kau akan dengan sigap memelukku, begitu
erat, lalu kau hapus air mataku, memelukku sekali lagi dan tak lupa mencium
keningku, begitu lama, begitu nyaman.”
Lamunanku buyar, ibu mengetuk
pintu kamarku dan membawakan segelas teh hangat, lengkap dengan biskuit
kesukaanku.
“Melamun lagi?”
“Nggak bu”
“Udah ndak usah dipikir, kalau jodoh ndak
bakal kemana. Toh yang ngejar-ngejar kamu ndak cuman satu. Tuh
ada si Viktor, Galih sama Fadil, trus ada juga yang sering maketin buku tuh siapa namanya?”
”Praja, bu”
“oh iyaa Praja, Ibu sampai lupa.
Udah pokoknya kamu ndak usah
liat-liat ke belakang. Ingat kata-kata Ibu, jodoh ndak bakal kemana, Nduk”
“Iya bu. Terima kasih”
Tak berapa lama setelah Ibu
keluar, handphoneku berdering, nomor
tak dikenal ini lagi kembali menelfonku. Entah aku harus menganggapnya teror
atau iseng, nomor ini kerap sekali menghubungiku, tiap kali kuangkat selalu
dimatikan. Sempat terfikir untuk memblokir nomor tersebut, namun selalu
kuurungkan. Seperti ada yang berbisik bahwa suatu saat nomor itu akan membawa
rindunya pulang padaku.
---Di Ujung Telefon---
Apalah aku sekarang ini,
ingatanku tentangmu kerap kabur entah kemana. Seringkali aku mengingatmu, lalu
kemudian melupakanmu begitu saja. Sesekali aku ingat ada seseorang berpakaian
putih yang mengatakan bahwa aku mempunyai penghapus di otakku, yang disebut
Alzheimer. Tiap kali ingatan tentangmu datang, aku akan mengambil telefon dan
menekan nomormu yang dulu kuhafal di luar kepala, dan saat suaramu terdengar,
yang bisa kulakukan hanya meletakkan kembali gagang telefon, tersenyum bahagia
lalu lupa apa yang kulakukan sebelumnya. Beginilah aku sekarang, Sayang.
Kuingin kau mengerti satu hal bahwa bukan inginku melupakanmu. Maafkan aku.
No comments:
Post a Comment