Monday, 20 April 2015

Peron Dua (Part 1)

23:51 0 Comments


Stasiun dilambangkan sebagai simbol sebuah perpisahan, permulaan atau pertemuan dua insan yang saling merindu. Ada yang menangis saat harus melepas kepergian orang terkasih, ada pula tangisan haru karena bertemu dengan yang lama terpisah jauh, dan ada yang tak sengaja bertatap muka, saling tersenyum lalu bertukar nama.
Belakangan kuketahui, bahwa stasiun juga merupakan simbol sebuah penantian--- sebuah kedatangan yang tak kunjung menampak.
Sekitar pukul 3 sore, saat terik telah menyingsingkan sebagian silaunya, sesosok gadis kan memasuki stasiun, membeli sebotol air, lalu duduk di peron 2. Saban hari dia kan duduk di sana, hingga malam. Tak ada yang tahu apa yang dia tunggu. Petugas stasiun yang telah akrab dengan kehadiran gadis itu kan membiarkannya duduk tanpa bertanya kereta tujuan mana yang ia tunggu, atau siapa yang ia nanti kedatangannya.
Tapi aku mengetahui segala kisah yang terjadi di stasiun ini, segala yang melintas dan menetap di peron 2. Amelia, nama gadis itu. Pertama kali aku mengenalnya dia tak semurung itu, tak ada duka tersimpan di matanya. Dia selalu penuh semangat membawa ransel dan barang bawaannya saat libur semester kuliahnya tiba. Ayahnya kan melambaikan tangan saat menemukan putrinya tengah kebingungan di antara kerumunan.

********************************
5 tahun lalu ....
Selamat datang di Stasiun Gubeng, penumpang yang hendak turun diharap memperhatikan barang bawaannya. Jangan sampai tertinggal, terjatuh atau tertukar. Kereta tujuan Malang akan berangkat 30 menit lagi. Para penumpang yang hendak naik diharapkan mendahulukan penumpang yang turun” ujar operator stasiun.
Amelia turun di peron 4, dengan carrier bag di punggung dan sebuah travel bag yang berisi oleh-oleh untuk sanak saudara di rumah. Dia menelongok jauh ke depan, mencari sosok ayahnya.
Lia.. Lia.. Ayah di sini, Nak!” teriak ayahnya.
“Ayaaaaaaaahhh ...” Amelia langsung menghambur dalam pelukan sang ayah.
“Ayah uda lama? Ibu mana? Ibu pasti lagi masak ya? Ibu masak apa, Yah?”
Ayahnya hanya tersenyum mendengar rentetan pertanyaan dan ocehan Lia. Mereka berjalan beriringan menuju mobil Kijang. Tak lama setelah mobil melaju, Lia terlelap.
Sesampainya di rumah, Ibu telah menunggu Lia di pintu depan, beliau memeluk putri semata wayangnya. Mengecup pipinya berkali-kali lalu mengantarnya ke meja makan. Aroma tempe penyet sambel ijo beserta kemangi menggugah nafsu makan Lia yang memang sedang meraung untuk dipuaskan.
Selesai bersantap, Lia berbenah barang-barangnya dan membagikan cindera mata berupa cemilan untuk tetangga sekitar rumah. Dia tidak lupa mampir di warung es degan favoritnya sejak SMP dan memesan segelas es degan madu untuk ditenggaknya. Lia tidak menyadari bahwa seorang pemuda di depannya telah menghabiskan 3 gelas es degan madu di saat Lia hanya menenggak setengah gelas. Lia baru tersadar saat pemuda itu memesan satu gelas lagi.
doyan, laper atau maniak degan, Mas?” begitu tanya Lia
Pemuda itu menjawab Lia dengan nada bangga, “ini perayaan untuk diriku sendiri atas diterimanya diriku bekerja di Bangka
Wah, selamat ya! Aku juga mau dong bersulang satu gelas es degan untuk keberhasilanmu”, ujar Lia sembari mengharap mendapat segelas es degan.
Boleh, monggo-monggo. Yadi”, ucap pemuda itu sembari mengulurkan tangan
Lia.

Segelas es degan mendekatkan mereka berdua. Dari cerita Yadi, Lia mengetahui bahwa Yadi bukanlah penduduk asli Surabaya, dia baru beberapa bulan pindah dari Kalimantan.

Wednesday, 1 April 2015

Pelukan Hujan Sore

23:08 0 Comments
Kau berdalih bahwa akulah yang kau cinta, namun kutemukan dirinya di matamu.
Kau remukkan gelisahku dalam rengkuh, kau tebarkan benih asa dalam benakku, kau lambungkan mimpi kita terdahulu.
Aku membodohi hati dan segenap diri. Aku membohongi prasangka yang mawujud. Aku tetap bersikeras bahwa kita kan kembali, melangkah dalam harmoni.
Aku sadar bahwa aku menapaki sebuah kisah semu, namun kutepis segala cambuk ragu dan kutetap melangkah maju ke dalam delusiku.
Aku meluruhkan harapan dalam tiap pukulan keras butiran hujan.
Ya, aku menerjang hujan sore ini dengan kecepatan 80 – 100 kilometer per jam.
Kurasakan tiap butirnya memukulku, menusuk kulitku yang terbuka.
Setelan abu-abu yang kukenakan tak luput dari tetesnya. Aku kuyup dibuatnya.
Angin kehampaan berhembus, hujan sore masih memelukku.
Menggigilkah aku? Tidak. Aku seperti ditampar dan dilecut untuk memacu lebih kencang.
Kulepaskan segala sakit dalam sakitnya tusukan tiap tetes air hujan.
Pelukan hujan sore, begitu aku menyebutnya.

Terima kasih untuk kesediaanmu membasahi tanah nuraniku.

KEPITING #Latepost

22:55 0 Comments
If you read this post and expect the type of crabs, you're in the wrong blog. sorry :p

Pagi ini tetiba aku teringat kamu saat tengah asik menghancurkan cangkang kepiting. Ya, sarapanku kali ini bermenu kepiting kuah yang amat sangat sedap. Kamu tahu kenapa aku mengingatmu saat itu juga? Karena mencintaimu tidak beda jauh dengan makan kepiting. Tanya lagi kenapa? Hahaha
Mari kujelaskan perlahan, duduklah di dekatku agar kau dapat menyimakku tanpa terdistorsi.
Kamu adalah kepiting. Kepiting adalah kamu. Keras di luar, lembut di dalam. Bisa kau bayangkan betapa kerasnya cangkang kepiting? Nah begitulah sifatmu, keras, tak tersentuh, dingin, kasar, dan kadang menyakitkan.
Nah sekarang coba bayangkan lembutnya daging kepiting. Hahaha pasti kamu menelan ludah kan? Padahal itulah dirimu yang sebenarnya, lembut dan penuh kasih sayang. Mau mengelak atas dirimu yang sebenarnya? Silahkan. Tapi begitulah adanya dirimu, lembut sekali. Saking lembutnya ingin kucomot berkali-kali hahaha :p
Sekarang pejamkan matamu dan berimajinasilah bawah kau sedang menyantap kepiting kuah yang amat sedap. Apa yang akan kau lakukan pertama kali saat melihat kepiting kuah? Kau pasti ngin segera membuka cangkang badannya kan? Menghancurkan cangkang kaki-kakinya juga? Lalu menyesap habis segala kelembutan yang ditawarkan si kepiting. *Dilap dulu ilernya*

Jadi kurang lebih begitulah dirimu. Aku ingin menembus sifatmu yang keras, bertahan saat acuhmu mulai menyakitiku perlahan. Aku ingin mendapatkan kelembutan yang kau tawarkan saat masa lalu masih berkuasa. Perhatianmu, pengertianmu, tatapan sayumu, senyummu, aaaaah~ aku mulai keluar dari jalur lagi. Hahaha
Selamat menikmati menu kepitingmu, gaes!

Source: buperesto.files.wordpress.com

Monday, 26 January 2015

Jika Ini Sebuah Dongeng

18:23 0 Comments


Jika ini sebuah dongeng, kan kukisahkan dengan alur yang indah, sesuai kehendakku. Aku dan kamu menjadi satu tentu saja. Aku dan kamu selalu bersama, tertawa dan menua. Kamu yang muda, menggamit tanganku, mengujungi tempat-tempat yang bahkan tak pernah terpikir sebelumnya. Kamu yang setengah baya, menggenggam tanganku erat menjelang proses bersalin, meyakinkan bahwa semuanya kan baik saja, membisikkan kalimat penyemangat. Kamu yang setengah baya, menggendong buah hati kita, menggodanya hingga terbahak, mengantarnya ke sekolah. Kamu yang mulai menua, memberi nasihat pada buah hati kita tentang kehidupan, mengantarkannya ke bangku kuliah, menangis haru saat akhirnya dia menjadi sarjana. Kamu yang menua, akan tersenyum saat cucu-cucu kita datang berkunjung.
Jika ini sebuah dongeng, kupastikan aku, kamu, kita di tiap lembarnya. Sayangnya, ini adalah kisah pahit yang tak kunjung terasa legit.
Pagi itu terasa biasa saja, aku bebenah rumah, menyiapkan sarapan untuk diriku sendiri, lalu membaca beberapa bab sebuah novel romansa. Sebelum membersihkan diri, kusempatkan untuk menengok handphone dan hanya chat scrolling untuk sekedar mengetahui apa yang terjadi di room--- tempat kita saling mengenal. Lalu mataku menangkap sebuah kalimat dari seorang teman yang memintamu untuk segera sampai di tempat yang telah dijanjikan. Meet up untuk hunting foto bareng di salah satu furnishing store. Segera ku kirim personal message ke salah satu dari mereka dan menanyakan tentang kepastian tempat. Siang itu sebenarnya terlalu terik untuk keluar rumah, tapi aku ingin melihatmu, bertemu walau tak kan ada sapa yang tertukar. Setelah mandi kilat dan melakukan sedikit touch up, aku memesan taksi untuk menujumu, menuju senyummu.
Tidak ada tanda-tanda sapaan hangat kan keluar dari bibir mungilmu. Kau pria dambaanku hanya memandang sekilas saat aku datang. Setelah perjalanan yang sarat akan kepadatan yang merayap, aku berharap kan ada sebuah sapa yang hangat, senyum yang bersahabat. Kau seakan menjauh, entah aku yang terlalu perasa atau memang kau sedang menghindar. Betapa inginku bercengkarama panjang lebar dan tertawa karena leluconmu. Tapi semua pupus.
Aku mengitari gedung itu sendirian, terkadang mengekor di belakang seorang teman. Kulihat layar handphonemu berkedip ketika menjepret sebuah objek. Kau terlihat begitu serius, berjalan lurus ke depan tanpa menoleh ke arahku. Terkadang kau memindahkan sesuatu, sekedar untuk mendapatkan objek sesuai inginmu. Tak jarang pula kilirik matamu menelisik ke tiap sudut bilik hanya untuk memastikan ada sesuatu yang bisa kau abadikan.
Deg..deg..degdeg..deg. Aku harap kau tidak mendengar degup jantungku yang terlalu kencang saat di dekatmu. Ingatkah kau saat kita duduk berhimpitan? Lengan kita bersinggungan. Jantungku serasa akan melompat dari tempatnya ketika aku menggamit tangan kanan seorang bocah, dan kau menggamit tangan kirinya.


Jika ini sebuah dongeng, handphoneku kan berdering tiap pagi dan kudapati namamu dilayar, lalu kita bertukar selfie. Entah kenapa kita memutuskan untuk bertukar selfie setelah bangun tidur. Ah andai kau tahu betapa aku menggilai mimik mukamu yang masih setengah sadar dan tersenyum ke layar kaca yang menghubungan kita berdua. Semakin hari aku semakin mencandumu, kegilaanku menjadi-jadi. Aku merindukan senyum itu, sapaanmu, dan beberapa hal di luar nalarku.
Kita memang bukan sepasang kekasih yang bertukar janji, saling terhubung sepanjang hari. Cukup dengan secuil sapaanmu dari sekian panjang hari, aku kan merasakan kupu-kupu menari di perutku.
Kau akan menghilang seharian setelah pagi menjelang siang. Kadang tak kan ada namamu di layar handphoneku seharian penuh, lalu esok atau dua hari kemudian kau akan muncul dengan sticker line yang menggemaskan. Pernah setelah beberapa hari kita tak berkabar, tetiba kau mengirim chat line dengan ejaan alay, “anen aneedd”. Ahh andai aku berharap bahwa itu bukanlah chatmu yang sekedar iseng. Aku tahu aku hanyalah debu yang tak sengaja hinggap di hidupmu yang penuh petualangan, ibaratnya aku hanyalah seseorang yang tak sengaja bertatap muka denganmu saat kau sedang dalam perjalanan.


Jika ini sebuah dongeng, setelah kepulanganmu dari pulau antah berantah kita akan menghabiskan banyak hari berdua. Menertawakan hal yang sama, menjajal setiap masakan lokal, atau sekedar menikmati senja berdua. Tanganmu kan menggenggam tanganku erat, bibirmu kan melengkung saat kita bertukar tatap.
Bzbzbzbzbzbz, namamu tertera di handphoneku setelah 7 hari, “hai, udah aku unblock” begitu tulismu. 7 hari kulalui tanpa sapamu, bahkan sapaku pun tak mungkin kau baca, ntah apa yang terjadi, entah apa salahku, setelah videocall pagi itu, tetiba pesanku tak kau baca. Belakangan kuketahui bahwa kau menambahkan kontakku dalam block list.
Jika ini sebuah dongeng, aku tak kan mengenalmu, aku hanya sekedar mengetahui namamu tanpa harus terlibat beberapa obrolan. Aku akan dengan senang hati tenggelam dalam genangan masa lalu.
Aku menggenggam handphoneku, mendapati beberapa pesan masuk, sekedar chat scrolling  dan menyapa grup. Kudapati namamu, menjadikan Pitung sebagai name account dan gambarnya untuk profile picture. Kusadari kau hadir dengan berbagai ilusi yang kau ciptakan, menjauh dengan cara yang kau ciptakan.