Wednesday, 1 April 2015

Pelukan Hujan Sore

Kau berdalih bahwa akulah yang kau cinta, namun kutemukan dirinya di matamu.
Kau remukkan gelisahku dalam rengkuh, kau tebarkan benih asa dalam benakku, kau lambungkan mimpi kita terdahulu.
Aku membodohi hati dan segenap diri. Aku membohongi prasangka yang mawujud. Aku tetap bersikeras bahwa kita kan kembali, melangkah dalam harmoni.
Aku sadar bahwa aku menapaki sebuah kisah semu, namun kutepis segala cambuk ragu dan kutetap melangkah maju ke dalam delusiku.
Aku meluruhkan harapan dalam tiap pukulan keras butiran hujan.
Ya, aku menerjang hujan sore ini dengan kecepatan 80 – 100 kilometer per jam.
Kurasakan tiap butirnya memukulku, menusuk kulitku yang terbuka.
Setelan abu-abu yang kukenakan tak luput dari tetesnya. Aku kuyup dibuatnya.
Angin kehampaan berhembus, hujan sore masih memelukku.
Menggigilkah aku? Tidak. Aku seperti ditampar dan dilecut untuk memacu lebih kencang.
Kulepaskan segala sakit dalam sakitnya tusukan tiap tetes air hujan.
Pelukan hujan sore, begitu aku menyebutnya.

Terima kasih untuk kesediaanmu membasahi tanah nuraniku.

No comments:

Post a Comment