malam ini aku membelah jalanan ibukota dengan tubuh menggigil. tak ada mantel hujan maupun jaket tebal yang melindungiku dari serangan hujan dan angin. sialnya, tanpa seijinku memori tentangmu berlarian menguasai setengah alam sadarku, ku-kurangi kecepatan kendaraan roda duaku, membiarkan rintik menghujamku selelahnya. aku kembali mengingat beberapa kenangan kita tentang dingin.
***
double date pertama kita, dengan karibku dan kekasihnya. kita berempat sepakat untuk menghabiskan sisa hari itu di kota tetangga. sepertinya Tuhan memang tidak menghendaki perjalanan kita hari itu, karena kita dihadang oleh petugas berseragam yang sedang beroperasi. untungnya, semua dokumenmu lengkap. tapi sungguh disayangkan, karibku dan kekasihnya harus membayar sejumlah rupiah untuk membungkam peraturan yang mereka langgar. namun kesialan tak berhenti di situ, sepulangnya kita dari petualangan hari itu, hujan lebat mengguyur sepanjang sisa perjalanan kita, kau memacu motormu jauh lebih kencang dari batas normal, alhasil kita tidak begitu kuyub, ah kau kuyub ding hihi ^^ pengalaman kedinginan pertama kita
***
perayaan anniversary pertama kita. mengingatkan kita bahwa kita telah menjalin kasih selama satu tahun. aku dan kamu memutuskan untuk pergi seharian dengan memakai kaos couple yang bertuliskan Buni di kaosmu dan Huni di kaosku. Langitpun seakan cemburu, dia mengutus pasukan hujan untuk menghambat perjalanan pulang kita. ditambah dengan ban bocor, seakan melengkapi penderitaan kita hari itu. kau mendorong motormu, mencari tukang tambal ban di pinggir jalan. dingin yang menyelimutipun menambah berat langkah kakimu. sore itu, aku ingin mempunyai kekuatan yang bisa menyerap lelahmu hanya melalui sorot mata.
***
malam minggu sangat identik dengan muda-mudi yang memadu kasih. anehnya kita jarang bertemu saat malam minggu, alasan utamanya adalah sulitnya ijin dari orang tuaku. tapi malam itu, akhirnya kita bisa menjadi pasangan yang bermalam minggu. seperti kasus sebelumnya, ban bocor mewarnai kencan kita. untung saja kita menemukan tempat tambal ban yang tak begitu jauh. aku lupa bulan apa tepatnya, yang pasti malam itu angin bertiup cukup kencang, dan konstan bulu-bulu tanganku berdiri menandakan bahwa aku mulai kedinginan. dan kamu, cowok cuek yang kadang peka atau pura-pura ga peka, melepas jaket yang kau kenakan dan memakaikannya padaku, lalu mengecup keningku. ahh sungguh manis :') entah mengapa, kecupan di kening selalu lebih bisa membuat mataku terpejam seakan menikmati tiap kasih sayang yang sedang kau transfer hihi :D
***
Entah itu bulan februari atau maret, yang pasti penyakit asmamu sedang kambuh bulan itu. cuaca memang sedang tidak bersahabat, angin kerap bertiup sangat kencang dan udara malam menjadi teramat dingin. sebagai kekasih yang mencintaimu, aku berniat untuk merawatmu selama 3 hari. sungguh aku tak tahu bagaimana cara merawat orang sakit asma, karena itu adalah pengalaman pertamaku, mungkin lebih tepatnya menjaga, karena yang aku lakukan tidak ada hubungannya dengan rawat-merawat. aku hanya bisa memastikan kamu tidur dengan nyaman, pola makan teratur serta jadwal minum obat. kau tahu apa yang paling kuinginkan selepas menjaga? aku berharap bisa merawatmu tiap hari, bahkan dalam keadaan sehat.
***
kenangan terbaru kita tentang dingin adalah saat kita menghabiskan sepertiga malam di kota Apel. malam itu, kita sepakat untuk pergi ke Alun-Alun, tempat dimana kita bisa menikmati gemerlap lampu tengah kota di atas ferris wheel. aku sungguh menikmati saat itu, kemerlip lampu kota Malang yang bisa kita nikmati di kota Batu, hangatnya genggamanmu, dan tiap jepret kenangan yang kita abadikan. kota Batu memang akrab dengan dingin yang menusuk hingga ke tulang. aku yang rentan dingin, berusaha mencari kehangatan dengan cara apapun yang bisa kulakukan, hingga pada akhirnya kau menawarkanku untuk menyembunyikan kedua telapak tanganku di balik kaosmu saat perjalanan pulang, dan benar saja, kehangatan mulai menjalar. terima kasih, kau memang yang terbaik..
*****
bunyi klakson mobil yang sedang buru-buru mengembalikanku kesadaranku secara utuh, aku kembali menambah laju motorku ditemani dengan sisa rintik yang ikut merayakan kerinduanku padamu. kau tahu? bahkan, kini hatimu lebih dingin daripada malam ini.
No comments:
Post a Comment