Tuesday, 26 November 2013

pelukmu

bintang tak kunjung menampakkan pendarnya, bulan pun bersembunyi di balik selimut sang awan. sungguh berbeda dengan malam-malam sebelumnya, bintang terhampar seperti gula yang tercecer di taplak meja. pemandangan di atas genteng rumah memang sungguh indah, aku senang menghabiskan sepotong kecil malamku di sana, berbagi kisah dengan angin, atau menitipkan rindu pada penghuni langit.

ada satu kisah yang selalu kubagi dengan malam, kisah ini selalu mempunyai subjek yang sama, kamu. dengan setting tempat, waktu dan objek yang berbeda, aku menceritakan tentang bagaimana rinduku yang beranak pinak dan dirimu yang telah beranjak. celotehanku tak pernah berhenti hingga aku sesak nafas karena sesenggukan yang kian menjadi. ya, akhir-akhir ini air mata sering mewarnai sesi curhatku dengan malam. bagaimana bisa aku menahan air di pelupuk mata jika rindu dan pikiran tentangmu masih membayang.

aku menyesal, sungguh. jika bisa ku berlari pada masa lalu, kan kukejar saat aku masih bisa dengan bebas bergalayut di lenganmu. tak pernah bisa kulupa bagaimana hangatnya pelukanmu dan manisnya ciuman yang mendarat di keningku. pelukmu menyimpan segala tentang kita, tentang bagaimana aku bisa menghabiskan seharian terlelap dalam pelukmu, tentang bagaimana aku bisa berlari dari kejamnya realita dan bersembunyi dalam pelukmu, tentang bagaimana aku lelah menghadapi kemunafikan dan memilih untuk terbenam dalam pelukmu, tentang bagaimana kita berbagi mimpi, dan berjuta tentang yang kita urai bersama dalam pelukmu.

sayang, jikalau kau ijinkan. sekali saja, berikan aku kesempatan untuk kembali. kembali menjadi wanita yang kau idamkan, kembali menjadi wanita yang selalu kau tunggu kepulangannya.

sayang, jika kau hitung jumlah bintang malam ini, mungkin sebanyak itulah rintik yang membasahi pipiku saat berbagi kisah denganmu pada malam.

No comments:

Post a Comment