Rasa ini, entah apa namanya. rasa takut kehilangan dan tergantikan oleh wanita yang kini kerap tersenyum manis di hadapanmu.
kau tahu apa hal paling bodoh yang aku lakukan? bukan, bukan mencintaimu, tetap mencintaimu bukanlah suatu kebodohan, memutuskan untuk meninggalkanmu demi dirinya yang ternyata pecundang adalah kebodohan terbodoh yang pernah aku lakukan.
penyesalan ini serupa dengan penyesalan lainnya, selalu datang terlambat, ia tiba di saat aku menyadari tiap detail kekhilafanku dan ingin kembali padamu. sesal sukses membuatku terobsesi untuk memutar detak jarum jam ke saat aku dan kamu masih menjadi kita.
kau tahu, terkadang keingintahuankupun menusuk kian dalam, jauh ke dalam relung kasih yang dulunya menjadi tempat rinduku bersemi. kau bilang wanita itu teman lamamu yang lama tak bersua dan bertukar sapa. ada perih dan isak lirih saat kau mengatakan bahwa kau nyaman dengannya, dan mulai menaruh harap, pula cinta. ada jutaan panah api lara menghancurkan asaku saat kau membenarkan rasa yang kaupun belum mengetahui rasa itu, yang diikuti dengan rasa takut akan kehilangannya. ada senyum yang terpaksa melengkung dengan erangan lara saat aku mengucap semoga kalian segera bersama.
No comments:
Post a Comment