Pagi terakhir di bulan Desember
harus rela diguyur hujan yang tak kunjung berhenti dari malam. Aku yang
biasanya ke kampus dengan menggunakan motor, sedikit malas dengan situasi
hujan. Dan seperti biasa, jika tidak ke kampus dengan motor, aku akan
menggunakan kereta sebagai alternatifnya. Tapi ke stasiunnya juga merupakan PR
saat hujan di pagi hari, bisa dipastikan jalanan becek dan angkot akan jarang
yang lewat. Untungnya, om dan tanteku berbaik hati mengantarku ke stasiun, jadi
aku bebas dari basah hehehe. Aku sudah menyiapkan pakaian ganti untuk mengikuti
agenda malam tahun baru bersama om dan tante. Sebenarnya aku sedikit takut naik
kereta pasca kecelakaan maut di Bintaro, tapi kan mati hidup orang nggak ada
yang tahu. Selain itu aku ingin merasakan sensasi naik kereta di gerbong khusus
wanita, bukannya ingin cari mati atau apa, aku hanya ingin merasakan apa yang
dirasakan korban kecelakaan itu sebelum keretanya menabrak truk tangki
pertamina. Selama di perjalanan, aku chatting
dengan teman sekelasku dan mengajaknya untuk sarapan Gudeg di Jogja. Jangan kira
aku terbang dari Tangerang ke Jogja ya, Jogja yang aku maksud di sini adalah
sebuah warung hehehe :p
Malam terakhir di tahun ini
sungguh berbeda dengan malam-malam sebelumnya, hari ini aku harus rela
menghabiskan hari terakhir di 2013 dengan mengerjakan soal ujian Business
Accounting yang sangat menguras otak. Di jadwal Ujian Akhir Semester, tertulis
waktu pengerjaannya selama 2 jam, tapi ternyata hanya 1 jam 30 menit. Selain itu
menurutku soal ujiannya cukup rumit dengan waktu pengerjaan yang terlalu
singkat, sangat tidak mungkin bagiku menyelesaikan soal-soal itu dengan keadaan
panik dan bingung. Dan ternyata benar, aku tidak bisa mengerjakan keseluruhan
soal ujian hari ini. nomor 1 tentang perpetual, yah lumayan 90% mungkin. Soal nomor
2 tentang adjustment, hanya 30%. Dan soal terakhir tentang correcting entries,
favoritku! Sudah cukup dengan keluhan tentang ujian di penghujung tahun.
Sekarang aku akan menceritakan tentang pengalaman malam pergantian tahun
2013-2014 pertamaku di kota perantauanku, Tangerang.
Awalnya aku mengira malam tahun
baru kali ini would be very gloomy karena
beberapa alasan mellow (akan kubahas
pada post berikutnya). Tapi dugaanku salah, I
had a very great night! Untuk pertama kalinya, aku merayakan tahun baru di
pinggir pantai, Tanjung Pasir, itu nama pantainya. Ya meskipun tidak sekeren
cerita teman-teman tentang Pantai Anyer, Pantai Carita, dsb, aku tetap menikmati
Pantai Tanjung Pasir dengan deretan pedagang kaki lima, suasananya seperti ada
pasar malam di pinggir pantai. Ternyata om-ku telah menyiapkan tenda kecil
lengkap dengan bantal guling, seperti akan berkemah. Dan kita memang berkemah,
tenda kita rakit tidak jauh dari bibir pantai, lalu kita menggelar tikar kecil
di depan pintu tenda agar kita bisa duduk-duduk di luar menikmati suasana
pantai di malam hari. Aku yang telah lama tidak menghirup aroma pasir pantai,
langsung mengubur telapak tanganku sendiri dengan pasir pantai, hahaha. Sebenarnya
aku sangat ingin bermain air, tapi kulihat pantainya kotor, selain itu aku
memakai kemeja putih (aku tidak berganti baju setelah pulang ujian) jadi aku
mengurungkan niatku dan lebih memilih duduk di pintu tenda sembari mengunyah
cemilan. Tepat pukul 00:00 orang-orang mulai menyalakan kembang api, rasanya
seperti bermandikan percikan cahaya, karena kembang api meletup tepat di atas
kami, sungguh indah. Aku tidak berhenti mendongakkan kepalaku ke atas,
menikmati semburat kembang api. Setelah puas menangkap keindahan dengan mata,
aku mengabadikannya dengan menggunakan kamera handphone, berikut adalah video
kembang api di Tanjung Pasir dengan durasi 2:00.
No comments:
Post a Comment