Saturday, 28 September 2013

Senja bukan lagi milik kita

senja kali ini berbeda, tak biasanya aku bersedih kala menyambutnya. seringkali aku menengadah menatap senja, bermandikan rona jingga, menghirup sisa aroma terik, merasakan hembus angin menjelang malam, tapi tidak untuk hari ini, aku merunduk saat senja menyapa, tak ada daya menengadah. mimpiku tersayat, aku bersimbah luka. senja hari ini membawa kabar duka, M.H.C.W. bukan lagi komandanku. komandanku harus melepas lencananya.

komandan,
tidakkah kau ingat taman senja dan kartun dengan karakter kuning yang menggemaskan itu? aku tak bisa melupakan bagaimana kau tertawa lepas saat para minions bertingkah lucu. masih kuingat hari itu, 7 Juli 2013, kita menghabiskan hari berdua, menertawakan hal yang sama, bertukar canda, menghirup oksigen yang sama, memandang senja yang sama. ingatkah kau tentang keinginanmu menyantap sesuatu di McD sekedar untuk mendapatkan souvenir minions? senja di taman senja, masih ingatkah kau dengan taman kecil itu? masih ingatkah kau dengan rencana kita untuk mengunjunginya lagi? semuanya berakhir, tak ada lanjut. buntu. senja bukan lagi milik kita.

komandan,
masih ingatkah kau dengan tiap kalimat manis yang kau kirimkan padaku? karena aku masih mengingat dengan jelas inti dari kalimat-kalimatmu. tak adakah niat dari lubuk hatimu yang terdalam untuk mewujudkannya? karena aku sungguh menaruh harap pada tiap hal yang kau ucapkan. tolong beri tahu aku, janji mana yang ingin kau tepati? skets bunga chrysant atau nyanyian dari hati? ahh, janji untuk memelukku siang itu saja kau mengingkarinya. bolehkah aku menaruh asa pada tiap janji dan ucapanmu? bolehkah aku mengirimkan angan pada senja tentang kita yang telah menjadi aku dan kamu? aku tau senja bukan lagi milik kita, tapi tolong ijinkan aku untuk mengandai.

komandan,
masih ingatkah kau tentang jutaan detik yang kita habiskan di ujung telfon? bertukar cerita hari ini, hari kemarin, rencana hari esok atau lelucon kecil. masih ingatkah bagaimana kita bertukar rindu melalui udara? adakah sedikit rasa menyesal saat kita berpisah? tidakkah kau ingat tentang ratusan kata kangen selama 2bulan tak bersua? bagaimana bisa kau mencampakkan aku saat aku kembali dekat denganmu? masih ingatkah kau tentang puisi tengah malam yang kau bacakan? apa puisi itu benar-benar untukku? bisakah sekali lagi kita menikmati senja berdua? sekali saja, meski ku tau senja bukan lagi milik kita.

komandan,
masih ingatkah kau tentang senja pertama kita di danau? aku menemui sahabatmu terlebih dahulu sebelum akhirnya bertemu denganmu. masih berbekaskah tiap senja yang kita lewati setelahnya? degup jantungmu masih kurasa saat kau merengkuhku dari belakang, masih kuingat jelas tiap debarnya. masih ingatkah bagaimana kau menggenggam tanganku erat saat menyusuri jalanan? bagaimana kau menjagaku saat akan menyeberang jalan? masih ingatkah kau tentang semua yang kita lalui bersama? masihkah?

komandan,
aku tersayat, anganku bersimbah pengkhianatan. bagaimana bisa kau menyembunyikannya? bagaimana bisa kau menjadikan dia kekasihmu tepat sehari setelah kita mengucap cinta? tolong beritahu dimana letak salahku jika aku menaruh curiga. aku bukan tidak percaya, aku juga tidak menuduh. aku selalu berusaha berfikir positif tentangmu. tapi semua bukti selalu menjurus dan aku masih percaya padamu berharap kebenaran yang kutemukan hanya delusi semata. namun kebenaran yang kutemukan haqiqih nyatanya. aku sakit, komandan. hatiku terisi lara. anganku menghangus. asaku menguap. bahkan senja tak dapat menyembuhkan sakitku. senja tak lagi dapat menghangatkan hatiku, karena senja bukan lagi milik kita.

komandan,
tidakkah kau tahu? aku hancur, berpuing, lebih kecil dari keping. tak ada yang bisa kupilah maupun kupilih, kebenaran itu meledakkan semuanya. semuanya. mimpi, impian, harap, asa bahkan angan.
masih kuingat tiap rencana kecil kita, tentang keinginanmu untuk merayakan tahun baru di Kota Gudeg, tentang rencanamu mengunjungi kampung halamanku, tentang rencanamu membawaku ke kota asalmu. semua masih terekam, amat jelas. aku seperti menonton film kala mengingatnya. beberapa hari yang lalu aku masih tersenyum saat mengingat semua, tapi tidak untuk kali ini. ahh bukankah aku berjanji untuk tidak menangis? maaf, aku harus mengingkarinya. sekali saja, biarkan aku ingkar. biarkan aku mengingat setiap memori yang pernah kita tabur, setiap inci kehangatan yang kau rengkuhkan, setiap tautan jemari kita yang menggenggam, ijinkan aku mengenangnya, malam ini saja. besok tak akan ada lagi air mata.

senja pertama yang kunikmati denganmu, tepat sehari sebelum aku kembali ke pangkuan ibu. dan senja terakhir kita dirundung duka, tanpa air mata, kita berpisah. berpisah tepat sehari setelah aku kembali ke kota. tak ada lagi senja kita, karena senja bukan lagi milik kita.

jika kau tanya aku apa yang kutahu tentang kehilangan, maka aku akan menjawab "Kita, yang telah menjadi kau dan aku"

No comments:

Post a Comment