kali ini terik menyengat lebih hebat, hingga anginpun enggan mendekat. biasanya tempat ini selalu ramai dikunjungi oleh para siswa SMA seusai sekolah, sekedar untuk menghabiskan sisa duit jajan atau mengobrol dengan teman, tapi hari ini hanya beberapa di antara mereka yang mengunjungi taman kecil di sudut kota, tempatku menguras kenangan yang tak kunjung surut. ku seruput segelas es kelapa muda yang telah hambar karena air kelapa yang habis dan digantikan oleh es batu yang mencair. tak ada pemandangan berbeda kecuali pengurangan jumlah siswa SMA yang hobi nongkrong di sini. ya setidaknya lebih sepi lebih nyaman, aku bisa mendapati mantan kekasihku walau sebatas angan.
angin yang jarang, membuatku ingin segera pulang. walau sebenarnya aku masih ingin di sini, menghabiskan hari hingga senja, dan menyapa pengantar malam. aku berjalan mendekati penjual es kelapa muda, berniat untuk membayar dan mengucapkan terimakasih atas kesabarannya menungguku atau lebih tepatnya gelas es kelapa mudaku. hingga langkahku terhenti mendengar suara tawa yang aku hafal betul gelaknya, seketika aku menoleh. dan aku terdiam, aku mendapatinya. mantan kekasihku yang berkhianat. siapa gadis berseragam yang sedang bergelayut mesra di lengannya? mereka begitu akrab. dia yang dulu lelakiku mengusap lembut anak rambut gadis itu, lalu mengecup keningnya. ahh, pemandangan yang sungguh memuakkan. tapi mataku tak bisa berpaling untuk tidak menatapinya. hingga penjual es kelapa muda yang menyadari aku sudah berdiri hendak membayar tapi masih terdiam di tengah jalan membuyarkan sejenak tayangan langsung film menjijikkan mantan kekasihku dan pacar barunya. buru-buru aku membayar es dan tak kugubris teriakan penjual yang memanggilku karena uang kembalian yang tertinggal.
aku berjalan cepat, atau lebih tepatnya berlari kecil. entahlah mana yang benar, yang pasti aku ingin pergi jauh dari situ. tak peduli nafasku tersengal, aku tak ingin berhenti, aku terus berjalan menyusuri trotoar, menahan air mata. hingga tak kusadari ada lubang kecil lebih besar 2cm dari kakiku menjebak kaki kiriku, aku terjatuh. kakiku terkilir, sial sekali aku hari ini. aku berusaha berdiri, namun kaki tungkaiku sepertinya benar-benar terkilir, hingga meringispun tak sanggup meredakan sakitnya. dengan susah payah aku berdiri, namun selalu gagal. Lalu kamu, pria berkaca mata dengan setelan casual datang, melingkarkan lenganku pada lehernya dan membantuku berdiri. aku kaget, tapi aku hanya bisa diam. "Apa kamu kuat untuk berjalan", tanyamu. aku hanya bisa menggelengkan kepala, dan seketika itu juga kamu membopongku. aku terkejut dan bertanya setengah histeris, "kamu mau membawaku kemana? kamu siapa? enak aja main gendong anak orang", tapi kamu hanya tersenyum menanggapi tiap omelanku, hingga kita tiba di sebuah tempat pijat refleksi yang berjarak 50meter dari lubang terkutuk itu. kau menurunkanku di kursi tunggu lalu kau berbicara pada stafnya, entah apa yang kau bicarakan, yang kusadari sesekali kau berbicara sambil menoleh ke arahku. kemudian kau mendekatiku dan memberikan senyum, senyum yang begituuuuu memikat. kau menggendongku kembali dan meyakinkanku bahwa kakiku akan sembuh dalam waktu kurang dari sepuluh menit. dan ternyata benar apa yang dia katakan, meski aku berteriak kesakitan selama kurang dari 10menit, setelah itu tak lagi kurasakan nyeri atau sakit pada kakiku. saat aku keluar dari ruang eksekusi (sebut saja begitu karena kau akan berteriak setelah masuk ke dalamnya), tak kudapati dirimu di balik pintu. aku berjalan ke kasir, hendak membayar, namun petugas kasir memberitahuku bahwa kau telah mengurus segala biayaku. aku harus berterimakasih padamu, begitu fikirku. namun tak kudapati kau di ruang tunggu, aku bertanya pada staff yang berjaga di depan, dia bilang kau pergi saat aku diurut. aku sungguh merasa berhutang budi, bagaimana aku bisa mengucapkan terimakasih padamu jika namamu saja aku tak tahu? sungguh tega dirimu, menghantuiku dengan perasaan berhutang budi dan meninggalkanku dengan sebuah senyum tanpa nama.
No comments:
Post a Comment