Aku menemukannya saat aku
tertikam oleh seorang yang kuanggap sebagai teman baik. Aku bersandar padanya
lebih dari yang aku tahu, aku menikmatinya, dan mungkin diapun juga begitu.
Dia, sosok penuh canda dengan misteri berkabut di hatinya. Dia, sekokoh karang
dengan kepekaan di rongganya. Dia, sungai yang terus mengalir tanpa muara. Dia,
menenangkanku tanpa pelukan. Dia, orang
pertama yang mengenalkanku pada dunia abu-abu dengan goresan warna memukau.
Dia, tak sanggup kuungkap dengan berjuta kata. Aku mencandunya.
Sore itu cerah, anak-anak senja
berlarian menebar jingga. Dia menjemputku dengan vespa lawas miliknya. Kami
memutuskan untuk tidak langsung berangkat karena aku yang masih lusuh. Kami
duduk di beranda, tenggelam dalam pikiran masing-masing sambil sesekali
bertukar tanya. Diam masih menjadi penguasa, hingga dia membisikkan sebuah
rahasia sore itu, “aku baru bangun tidur
langsung cuci muka, bersiap lalu meluncur ke sini”. Setelah mendengar itu
akupun mengikuti idenya untuk sekedar berganti pakaian dan berdandan ala
kadarnya. Mungkin dia tidak menyadari bahwa aku menyukai tiap celetukan
gilanya. Tak menunggu waktu lama bagi dia untuk menyalakan vespanya dan
memboncengku berkeliling kota. Kedai es krim menjadi satu-satunya tujuan kami
saat itu.
Ini kali pertama kita menjejakkan
kaki di kedai eskrim itu. Iya, karena kedai itu masih tergolong baru, selain
itu, kami memang susah move on dari kedai favorit kami di seberang taman kota.
Setelah memesan cemilan dan es krim tentunya, kami mulai (lagi-lagi) berbagi
kisah tentang hidup dan cinta, diselingi tawa, walau terkadang helaan juga
kerap menjadi pengungkap ekspresi. Kami tak menyapa senja sore itu, dan tanpa
kusadari semburat ungu telah memenuhi angkasa. Lampu – lampu kecil di kedai itu
berkelap – kelip menebar warna di tiap sudut. Aku dan dia masih tenggelam dalam
kisah lalu, sembari menertawakan hal yang sama.
Dia mengajakku untuk menginap di
rumahnya. Dengan cepat aku mengiyakan, bagaimana aku bisa menolak, aku
merindunya. Amat merindunya, aku ingin terlelap di sampingnya (lagi). Malam itu
kami habiskan bersama. Menonton film dengan durasi yang dipercepat karena
membosankan, mengkritik sang aktor utama yang kami rasa kurang pas untuk
memerankan tokoh utama. Aku memeriksa folder film miliknya, dan seleranya masih
tak berubah, dia masih mencintai film yang penuh dengan darah (yang menurutku
tak patut untuk ditonton). Setelah merasa tak ada film yang bisa untuk
kutonton, kami memutuskan untuk menghabiskan malam di kamar. Aku dan dia tidur
seranjang berdua, saling mengoceh dengan suara parau, hingga lelap mulai
menenggelamkan kami dalam ketenangan. Malam itu aku bahagia, terima kasih teruntukmu.
Tidak banyak hari yang kulewati
hanya berdua dengannya, tapi aku masih bersyukur bisa menemukan senyum itu. Aku
berharap bisa menemukan senyumnya untuk yang terakhir kali, tapi sepertinya
Tuhan mengajariku untuk tidak serakah. Pagi itu aku menyusulnya ke stasiun, dan
sang masinis menjalankan kereta tepat saat aku tiba di tempat parkir. Persis seperti
rekayasa FTV, tapi memang begitu adanya. Aku (masih) akan selalu merindukanmu,
sahabat.
No comments:
Post a Comment