Sunday, 1 September 2013

aku (masih) akan selalu merindumu



Aku menemukannya saat aku tertikam oleh seorang yang kuanggap sebagai teman baik. Aku bersandar padanya lebih dari yang aku tahu, aku menikmatinya, dan mungkin diapun juga begitu. Dia, sosok penuh canda dengan misteri berkabut di hatinya. Dia, sekokoh karang dengan kepekaan di rongganya. Dia, sungai yang terus mengalir tanpa muara. Dia, menenangkanku tanpa pelukan.  Dia, orang pertama yang mengenalkanku pada dunia abu-abu dengan goresan warna memukau. Dia, tak sanggup kuungkap dengan berjuta kata. Aku mencandunya.

Sore itu cerah, anak-anak senja berlarian menebar jingga. Dia menjemputku dengan vespa lawas miliknya. Kami memutuskan untuk tidak langsung berangkat karena aku yang masih lusuh. Kami duduk di beranda, tenggelam dalam pikiran masing-masing sambil sesekali bertukar tanya. Diam masih menjadi penguasa, hingga dia membisikkan sebuah rahasia sore itu, “aku baru bangun tidur langsung cuci muka, bersiap lalu meluncur ke sini”. Setelah mendengar itu akupun mengikuti idenya untuk sekedar berganti pakaian dan berdandan ala kadarnya. Mungkin dia tidak menyadari bahwa aku menyukai tiap celetukan gilanya. Tak menunggu waktu lama bagi dia untuk menyalakan vespanya dan memboncengku berkeliling kota. Kedai es krim menjadi satu-satunya tujuan kami saat itu.

Ini kali pertama kita menjejakkan kaki di kedai eskrim itu. Iya, karena kedai itu masih tergolong baru, selain itu, kami memang susah move on dari kedai favorit kami di seberang taman kota. Setelah memesan cemilan dan es krim tentunya, kami mulai (lagi-lagi) berbagi kisah tentang hidup dan cinta, diselingi tawa, walau terkadang helaan juga kerap menjadi pengungkap ekspresi. Kami tak menyapa senja sore itu, dan tanpa kusadari semburat ungu telah memenuhi angkasa. Lampu – lampu kecil di kedai itu berkelap – kelip menebar warna di tiap sudut. Aku dan dia masih tenggelam dalam kisah lalu, sembari menertawakan hal yang sama.

Dia mengajakku untuk menginap di rumahnya. Dengan cepat aku mengiyakan, bagaimana aku bisa menolak, aku merindunya. Amat merindunya, aku ingin terlelap di sampingnya (lagi). Malam itu kami habiskan bersama. Menonton film dengan durasi yang dipercepat karena membosankan, mengkritik sang aktor utama yang kami rasa kurang pas untuk memerankan tokoh utama. Aku memeriksa folder film miliknya, dan seleranya masih tak berubah, dia masih mencintai film yang penuh dengan darah (yang menurutku tak patut untuk ditonton). Setelah merasa tak ada film yang bisa untuk kutonton, kami memutuskan untuk menghabiskan malam di kamar. Aku dan dia tidur seranjang berdua, saling mengoceh dengan suara parau, hingga lelap mulai menenggelamkan kami dalam ketenangan. Malam itu aku bahagia, terima kasih teruntukmu.

Tidak banyak hari yang kulewati hanya berdua dengannya, tapi aku masih bersyukur bisa menemukan senyum itu. Aku berharap bisa menemukan senyumnya untuk yang terakhir kali, tapi sepertinya Tuhan mengajariku untuk tidak serakah. Pagi itu aku menyusulnya ke stasiun, dan sang masinis menjalankan kereta tepat saat aku tiba di tempat parkir. Persis seperti rekayasa FTV, tapi memang begitu adanya. Aku (masih) akan selalu merindukanmu, sahabat.

No comments:

Post a Comment