aku ingin mencari dimana sekiranya otakku bisa berhenti tanpa menabrak tiang atau pohon di ruas jalan. aku tak tahu apa yang ada di dalam, dia dengan tegas menabrakkan logika pada sebuah penyesalan. penyesalan yang membuatku sesak. yang memenjarakanku dalam sebuah kesedihan.
3 bulan yang lalu, saat logika masih berkuasa, aku benar-benar menolak seorang lelaki yang mendekatiku dengan susah payah, lelaki yang rela melakukan apa saja untuk melengkungkan pelangi di wajahku, lelaki yang akan setia menunggu demi kata "iya" keluar dari bibirku.
kucoba berbagai cara agar dia menjauh, tapi seperti tertarik gaya gravitasi, dia selalu mendekat bahkan berusaha lebih keras agar semakin lekat. ahh ini sungguh mengganggu, kuciptakan beberapa skenario agar dia enggan, tapi dia tetap ada.
hingga pada suatu malam yang hening, aku bosan. bosan pada rutinitas dan menginginkannya untuk menggangguku, tapi dia tak ada. mungkin larut telah melelapkannya. hari-hari berikutnya aku masih menginginkannya, namun dia pergi dan berjanji akan menemuiku minggu depan. bosanku tak bisa menunggu sampai minggu depan. aku membutuhkan sedikit hentakan.
aku mengenal komandan senja sebelum minggu depan, dia menyapu segala bosan. aku tenang, iya tenang, hmm tapi seperti ada yang hilang. pengganggu itu... kemana dia?
sore ini, ketika perasaan melankolis menguasai tahta. aku merindukannya, merindukan lelaki yang saat itu kuanggap sebagai pengganggu.
kucoba berbagai cara agar dia menjauh, tapi seperti tertarik gaya gravitasi, dia selalu mendekat bahkan berusaha lebih keras agar semakin lekat. ahh ini sungguh mengganggu, kuciptakan beberapa skenario agar dia enggan, tapi dia tetap ada.
hingga pada suatu malam yang hening, aku bosan. bosan pada rutinitas dan menginginkannya untuk menggangguku, tapi dia tak ada. mungkin larut telah melelapkannya. hari-hari berikutnya aku masih menginginkannya, namun dia pergi dan berjanji akan menemuiku minggu depan. bosanku tak bisa menunggu sampai minggu depan. aku membutuhkan sedikit hentakan.
aku mengenal komandan senja sebelum minggu depan, dia menyapu segala bosan. aku tenang, iya tenang, hmm tapi seperti ada yang hilang. pengganggu itu... kemana dia?
sore ini, ketika perasaan melankolis menguasai tahta. aku merindukannya, merindukan lelaki yang saat itu kuanggap sebagai pengganggu.
No comments:
Post a Comment