Monday, 5 August 2013

Komandan Senja

entah cupid mana lagi yang masih berani menembakkan panah asmaranya padaku. kukira cupid akan jera setelah kegagalanku yang kesekian kalinya. cupid seperti bekerja 24 jam non-stop, dia mengarahkan panah asmaranya padamu yang berjarak ratusan kilometer dari istana kecilku. saat itu pukul 23:50, aku terserang virus bosan yang menjalar seperti penyakit akut. kuperiksa aplikasi chatting dan tak kutemukan apa-apa kecuali status online mantanku (yang mengundang dongkol untuk berpesta dengan bosan). lalu dengan iseng kubuka twitter, scrolling timeline dari 3 jam yang lalu dan tanpa sengaja mataku tertuju pada satu username yang sedang bercanda dengan seseorang, ahh aku tidak peduli siapa seseorang itu, aku sedang butuh teman untuk berbagi obrolan teks, menghabiskan sepanjang malam dengan obrolan basi. aku mengenal si empunya username, ya hanya mengenal atau bahkan mungkin aku hanya mengetahui tanpa mengenalnya.

aku kumpulkan niat untuk menyapa, tidak terlalu banyak berharap kau akan merespon karena aku tahu kau telah mengunci hatimu untuk dia yang juga telah mengunci hatinya untuk orang lain. ternyata kau membalas sapaku, balasan biasa saja tapi bisa membuat hatiku melompat kegirangan. mengingat aku butuh teman ngobrol, aku beranikan untuk meminta nomor ponselmu, dan kau memberinya tanpa babibubebo. aahhh kau begitu baik. memang sih dulu kita pernah saling bertukar ide dalam sebuah room, tapi kita juga saling acuh.

aku simpan nomormu dan me-refresh contact list di Whatsapp, kudapati namamu, tanpa pikir panjang aku langsung mengetik...
"Hai haii :)"
"Hai juga"
bermula dari hai kita mengawali obrolan ngalor ngidul, menghabiskan sisa malam dengan senyum karena membaca candaanmu. kita belum sempat bertukar cerita dan kisah lalu, kita hanya berbagi canda dan entah aku merasa sangat nyaman. obrolan malam itu berakhir dengan keluhanku yang mengantuk tetapi takut untuk terpejam, dan kau menghipnotisku melalui kata-kata bahwa ketakutan hanya sugesti semata. kau memintaku untuk mengistirahatkan tubuhku yang terlalu lelah karena sedang menghadapi ujian, dan kau menawarkan diri untuk menemaniku (lagi) jika mataku masih kuat untuk terjaga. tak menunggu waktu lama untukku terlelap dengan perasaan aman yang kau suntikkan malam itu.

seperti candu, aku mulai menyapamu lagi. tapi bedanya kali ini risau enggan menemaniku, dan aku bersyukur kaenanya. kita mulai bertukar pertanyaan basi, diselingi dengan modus khas masa kini, kau sungguh tahu bagaimana mengisi celah-celah kosong ini. obrolan kita sore itu berakhir dengan rencana pergi ke bioskop. bisa kau bayangkan betapa gembiranya aku? hari-hari berikutnya kita saling mengisi, entah hanya sekedar bertukar canda atau sapa sekilas. tanpa diduga, ternyata sekilas adalah petaka, aku lupa tentang rencana kita, rencana pergi ke bioskop yang membuatku tersenyum seharian, aku melupakannya. maafkan aku, aku sungguh menyesal. tapi kalaupun aku ingat, cuaca saat itu sedang tidak bersahabat, hujan mengguyur kota kita sehari penuh tanpa memberi celah bagi penghuninya untuk menerima sapaan hangat mentari.

tapi sepertinya cupid memang tak pernah tidur, dia membantu kita untuk bertemu, dan memutuskan Minggu sebagai hari bahagia. aku sungguh tak sabar, dan juga deg-deg-an, ahh sungguh membingungkan. bodoh amatlah, yang penting aku ketemu kamu di hari Minggu (titik). sebelum hari Minggu datang, kamu bertanya rute menuju rumahku, dan aku percayakan Google Maps untuk menjawab pertanyaanmu. Maklumlah, aku juga tidak tahu jalan, kita kan sama-sama pendatang. setelah mempelajari rute itu, kau menentukan jam kita bertemu. aku benar-benar tidak bisa tidur, aku terlalu bersemangat untuk hari Minggu.

hari yang dinantipun datang, selamat datang minggu. aku bangun seperti biasa, menyiapkan baju sesederhana mungkin agar tidak timbul kesan bahwa aku terlalu mengada-ada. lalu kubiarkan gemericik air membasahi seluruh tubuh dan melunturkan sisa kantuk. "hari ini akan indah", batinku. lalu aku memeriksa handphone dengan handuk yang masih membungkus rambutku. tak ada pesan darimu, mungkin kamu masih terlelap. kubiarkan jarum jam terus berputar tapi tak kunjung kudapati dering pesan darimu, aku mulai gelisah. aku takut rencana kita gagal (lagi). saat hampir putus asa dan memutuskan untuk menghabiskan seharian di depan televisi, handphoneku berdering tanda pesan masuk. dengan ogah-ogahan kubuka pesan itu, dan voila! kudapati kamu yang sedang bersiap menujuku. kau memperingatkanku untuk santai saja, karena jarak tempuh yang lumayan lama dan kau akan mengunjungi nenekmu yang kebetulan tempat tinggalnya searah. tak kugubris peringatanmu, aku mulai berganti pakaian dan mematut diri di cermin, memastikan tak ada sesuatu yang berlebihan. "I look good today", kataku sambil tersenyum. setelah puas bercermin, aku duduk manis di ruang tamu sembari menunggu, menikmati gejolak yang mengalir deras, entah apa itu.

detik berdetak lebih lambat di saat yang tidak tepat. aku menunggu dengan cemas, karena tak mendapati pesanmu lagi. bbzz..bbzz.. handphoneku bergetar, dengan cekatan kubuka dan aku mendapatimu telah mendekat walau sedikit tersesat. aku melangkahkan kaki ke pintu gerbang, berharap menemukanmu dengan muka kebingungan. dan ternyata benar, aku mendapatimu dengan helm full face dan sweater baseball. aku melambaikan tangan dan kau mendekat, aku mengambil tas lalu mengunci rumah, aku siap berangkat. di awal perjalanan kita kebingungan, memilih untuk berwisata alam atau menikmati sinema yang akan membuat kita terpingkal. dengan gamang kita memutuskan untuk berwisata alam, dan tidak satupun diantara kita yang tahu jalan menuju tempat tersebut. akhirnya kita memutuskan untuk berkeliling kota saja. dimulai dari Hutan Kota. jujur, aku tidak tahu kenapa disebut Hutan Kota, karena menurutku tempat itu sama sekali tidak mirip hutan. kau juga berpendapat tempat itu kurang terawat untuk disebut sebagai tempat wisata. setelah berkeliling di hutan kota, kita memutuskan untuk menghadap Allah. Mencari musholla atau masjid di tengah perumahan besar memang susah, dan karena tidak ada alternatif lain maka kau harus melakukan kewajiban 5 waktu itu di musholla sebuah Mall.

kewajiban telah ditunaikan, dan kita memutuskan untuk antre tiket, tidak susah untuk menentukan film apa yang akan ditonton, karena kita sama-sama pecinta kartun, maka pilihan kita jatuh pada film kartun. sembari menunggu film diputar, kita duduk di cafetaria, bertukar cerita. dan lagi-lagi bukan kisah kasih masa lalu. tapi aku menikmatinya, sungguh. kita tak menghiraukan panggilan operator yang memberitahukan bahwa film akan segera dimulai, kita terlalu asik berenang dalam gurauan. setelah menyadari sedikit keterlambatan, kita masuk ke teater dan mencari bangku sesuai nomor yang tertera pada tiket. sepanjang film diputar, kita tertawa lepas. tanpa kau sadari, aku sering mencuri pandang, memperhatikan tiap mimikmu. aku berharap ada slow motion saat kau tersenyum, agar aku bisa menikmatinya lebih lama. 2jam berlalu dengan sisa tawa dari film kartun hari ini.

hari masih terlalu sore untuk kembali ke rumah dan senja terlalu indah untuk dilewatkan. kuajak kau ke taman kecil di tengah himpitan gedung pencakar langit. Sebenarnya taman ini cukup indah untuk sekedar melepas penat setelah berperang dengan hiruk pikuk kota metropolitan tapi sayang taman ini terbengkalai, sampah dengan bebas mengambang di sungai dan tercecer di atas rerumputan. tapi senja jauh lebih menggoda untuk sekedar mengutuk para pembuang sampah yang tak bertanggung jawab. di taman itu, kita menikmati senja, menatap langit dengan gradasi warna yang tiada tara dengan angin sepoi yang menerpa wajah. kita kembali bertukar cerita, menertawakan hal yang sama, dan menghirup oksigen yang sama. sungguh indah, senja hari ini sempurna. terima kasih untuk hari yang tak terlupakan, komandan senja.

No comments:

Post a Comment