Friday, 29 March 2013

boneka bodoh


Untuk kesekian kalinya aku menjadi boneka cinta berbagai adam. Dan ini malam kesekian (terpaksa) kuijinkan kau memasuki teritorialku. Kau tau? Kau adalah lelaki pertama yang bisa bebas masuk menikmati dekorasi kamarku. Bagaimana aku bisa menolak. Kau terlalu beradi daya dan aku tak kuasa kala ancamanmu mulai terucap. Dinding setia menjadi saksi bisu cucuran peluhku. Kubiarkan kau menari di atas tubuhku, dan tanganmu tak akan segan menamparku jika aku tak merespon nafsumu. Aku merasa jijik pada diriku sendiri. Betapa percayanya diriku pada rayuanmu hingga kubiarkan dirimu merenggut kesucianku. Atau mungkin lebih tepatnya betapa bodohnya diriku merelakan mahkota yang telah kujaga bertahun-tahun direnggut hanya dalam waktu sekian detik oleh pria sepertimu. Aku masih ingat bagaimana kau meragukan kesungguhanku hanya karena tak ada bercak darah yang membekas di seprei.

Malam seperti malam pertama selalu berulang. Kau akan mengamuk jika aku menolak. Kau akan mendaratkan tamparan jika aku beralasan. Inikah cinta yang kau maksud untukku? Aku tak mendapati makna cintamu. Sungguh. Aku hanya mendapati kilatan nafsu di matamu kala kubiarkan kau menari di atas tubuhku. Aku hanya mendapati kilatan amarah jika aku tak memberi kepuasan yang kau mau.

Beberapa temanku mulai khawatir dengan kita, lebih tepatnya dengan keadaanku. Mereka selalu menghujat betapa bodohnya aku dan betapa jahatnya kamu. Mereka memaksaku untuk mengakhiri hubungan cinta denganmu. Tapi aku (tetap) dengan bodohnya berharap bahwa kau akan berubah, bahwa aku akan bisa melihat sinar cinta terpancar dari matamu.

Tapi ternyata emosiku malam itu mengalahkan segala harapanku untukmu. Aku menolak dan seperti biasa kau mulai marah, berteriak. Hingga ku katakan bahwa lebih baik kita berpisah dan kau menyetujuinya. Tapi sebuah statement menyakitkan terucap dari bibirmu, kau masih meragukan kesungguhan malam pertamaku saat itu hanya karena tak ada bercak darah sebagai bukti bahwa mahkotaku telah telah terenggut olehmu. Sungguh aku kecewa, aku merasa jijik pada diriku sendiri. Jika ada mesin pengembali kesucian, mungkin aku akan rela mengantre demi mendapatkannya.

Dua tahun berlalu dan rasa traumaku mulai lenyap. Ada sosok lain yang mulai menggelayuti benakku. Sosok yang aku harapkan selama ini. Betapa bahagianya aku saat kudapati kau juga menyimpan hati padaku. Waktu berputar, dan hati kita telat bertaut. Kau selalu bisa membuatku tersenyum, hingga suatu malam saat kau mengantarku sampai gerbang rumah, kau meminta ijin untuk sejenak melepas penat. Akupun tak kuasa menolak pintamu, kuijinkan kau masuk. Kau duduk di ruang tamu dan tak lama kemudian kusuguhkan segelas pelenyap dahaga. Setelah beberapa saat menemani bertukar obrolan, aku meminta ijin untuk berganti pakaian, kau mengangguk tanda setuju. Tapi tanpa kusadari kau mengendap, mengikutiku dari belakang, lalu memelukku dengan erat. Tapi kali ini bukan pelukan penuh kasih, pelukan ini terlalu erat, ada yang aneh dengan pelukanmu. Lalu kau putar badanku menghadap ke arahmu, kau lumat bibirku tanpa ampun. Dan setelah sekian lama, aku mendapati (lagi) kilatan mata penuh nafsu dengan pemilik mata yang berbeda. Rasa takut itu muncul lagi. Ku lepaskan bibirku dari lumatanmu lalu kutampar wajahmu. Seakan tersadar dari setan yang merasukimu, kau meminta maaf. Tapi aku tak bisa, aku tak bisa memberi maaf malam ini. Perlakuanmu sungguh biadab.

Aku butuh waktu untuk kembali hidup normal, mencintai lelaki dgn cinta normal tanpa ada embel-embel nafsu dibalik semua janji manis yang terucap.


Mulai bosan dengan peperangan tanpa henti melawan tugas dari dosen

No comments:

Post a Comment