Untuk kesekian kalinya aku
menjadi boneka cinta berbagai adam. Dan ini malam kesekian (terpaksa) kuijinkan
kau memasuki teritorialku. Kau tau? Kau adalah lelaki pertama yang bisa bebas
masuk menikmati dekorasi kamarku. Bagaimana aku bisa menolak. Kau terlalu
beradi daya dan aku tak kuasa kala ancamanmu mulai terucap. Dinding setia
menjadi saksi bisu cucuran peluhku. Kubiarkan kau menari di atas tubuhku, dan
tanganmu tak akan segan menamparku jika aku tak merespon nafsumu. Aku merasa
jijik pada diriku sendiri. Betapa percayanya diriku pada rayuanmu hingga
kubiarkan dirimu merenggut kesucianku. Atau mungkin lebih tepatnya betapa
bodohnya diriku merelakan mahkota yang telah kujaga bertahun-tahun direnggut
hanya dalam waktu sekian detik oleh pria sepertimu. Aku masih ingat bagaimana
kau meragukan kesungguhanku hanya karena tak ada bercak darah yang membekas di
seprei.
Malam seperti malam pertama
selalu berulang. Kau akan mengamuk jika aku menolak. Kau akan mendaratkan
tamparan jika aku beralasan. Inikah cinta yang kau maksud untukku? Aku tak
mendapati makna cintamu. Sungguh. Aku hanya mendapati kilatan nafsu di matamu
kala kubiarkan kau menari di atas tubuhku. Aku hanya mendapati kilatan amarah
jika aku tak memberi kepuasan yang kau mau.
Beberapa temanku mulai khawatir
dengan kita, lebih tepatnya dengan keadaanku. Mereka selalu menghujat betapa
bodohnya aku dan betapa jahatnya kamu. Mereka memaksaku untuk mengakhiri
hubungan cinta denganmu. Tapi aku (tetap) dengan bodohnya berharap bahwa kau
akan berubah, bahwa aku akan bisa melihat sinar cinta terpancar dari matamu.
Tapi ternyata emosiku malam itu
mengalahkan segala harapanku untukmu. Aku menolak dan seperti biasa kau mulai
marah, berteriak. Hingga ku katakan bahwa lebih baik kita berpisah dan kau
menyetujuinya. Tapi sebuah statement menyakitkan terucap dari bibirmu, kau
masih meragukan kesungguhan malam pertamaku saat itu hanya karena tak ada
bercak darah sebagai bukti bahwa mahkotaku telah telah terenggut olehmu.
Sungguh aku kecewa, aku merasa jijik pada diriku sendiri. Jika ada mesin
pengembali kesucian, mungkin aku akan rela mengantre demi mendapatkannya.
Dua tahun berlalu dan rasa
traumaku mulai lenyap. Ada sosok lain yang mulai menggelayuti benakku. Sosok
yang aku harapkan selama ini. Betapa bahagianya aku saat kudapati kau juga
menyimpan hati padaku. Waktu berputar, dan hati kita telat bertaut. Kau selalu
bisa membuatku tersenyum, hingga suatu malam saat kau mengantarku sampai
gerbang rumah, kau meminta ijin untuk sejenak melepas penat. Akupun tak kuasa
menolak pintamu, kuijinkan kau masuk. Kau duduk di ruang tamu dan tak lama
kemudian kusuguhkan segelas pelenyap dahaga. Setelah beberapa saat menemani
bertukar obrolan, aku meminta ijin untuk berganti pakaian, kau mengangguk tanda
setuju. Tapi tanpa kusadari kau mengendap, mengikutiku dari belakang, lalu
memelukku dengan erat. Tapi kali ini bukan pelukan penuh kasih, pelukan ini
terlalu erat, ada yang aneh dengan pelukanmu. Lalu kau putar badanku menghadap
ke arahmu, kau lumat bibirku tanpa ampun. Dan setelah sekian lama, aku
mendapati (lagi) kilatan mata penuh nafsu dengan pemilik mata yang berbeda.
Rasa takut itu muncul lagi. Ku lepaskan bibirku dari lumatanmu lalu kutampar
wajahmu. Seakan tersadar dari setan yang merasukimu, kau meminta maaf. Tapi aku
tak bisa, aku tak bisa memberi maaf malam ini. Perlakuanmu sungguh biadab.
Aku
butuh waktu untuk kembali hidup normal, mencintai lelaki dgn cinta normal tanpa
ada embel-embel nafsu dibalik semua janji manis yang terucap.
Mulai bosan dengan peperangan tanpa henti melawan tugas dari dosen
No comments:
Post a Comment