Malam ini aku kembali menapaki alur masa lalu. Terdiam di atas ranjang dengan boneka darimu dalam pelukkan. Posisi yang enak untuk mengenangmu. Sepuluh bulan yang lalu, sebelum aku memutuskan untuk pergi. Kamu hanya menganggapku debu yang mengganggu harimu. Setelah aku mengutarakan niatku untuk pergi, ntah malaikat mana yang merasukimu. Kau berubah menjadi pria yang selama ini ku idamkan. Kau manis, penuh perhatian, dan pelukkanmu lebih hangat. Kau tau? Sebenarnya saat itu aku ingin membatalkan kepergianku, aku ingin tetap di sisimu, menghirup aroma khas tubuhmu, mendengar tawa renyahmu, dan sapaan lembutmu tiap pagi. Tapi keadaan memaksaku pergi, aku pergi dengan harapan akan kembali atau kau yang menyusulku ke sini. Dengan berbekal selembar surat yg ditulis dengan hati darimu, aku pergi meninggalkanmu.
Sesampainya di kota impian (begitu orang menyebutnya), aku merasa asing. Sulit untuk beradaptasi, apalagi tanpa kamu di sisi. Tak ada novel atau hiburan yang bisa mengusirmu dari pikiranku. Aku hanya bisa merindumu dalam sesenggukan tangis tiap malam. Jawablah kasih, apa kau juga merindukanku? Tidakkah kau tau, surat itu meyakinkanku bahwa kau akan selalu mencintaiku, bahwa jarak bukanlah penghalang aku dan kamu untuk tetap menjadi kita.
Tapi waktu berkata lain. Kasih, kau berubah. Kau menjadi lebih dingin, tak ada lagi mantra yang bisa menyenyakkan tidurku, tak ada lagi sapaan lembut di ujung telfon, tak ada lagi pesan manis darimu. Aku merindukanmu, bukan kamu yang sekarang, tapi kamu yang dulu. Waktu pun menjawab pertanyaanku, ternyata cintamu tak sekuat kaktus yang mempu bertahan walau tak ada air. Kau mengaku kalah pada jarak. Kasih, tidak kah kau tau. Jarak menertawakanmu, jarak tersenyum puas bisa memisahkan kita. Harusnya kau mengerti bahwa jarak tak akan pernah membiarkan kita bertaut. Harusnya kau tetap bertahan, harusnya kau kuat. Harusnya …..
Apa yang bisa aku harapkan darimu kasih? Kau telah menyerah. Percuma jika cinta kita hanya berpangku padaku. Aku tak sanggup memikul beban yang jarak berikan. Maaf, mungkin kamu benar. Mungkin kita memang harus menyerah. Terimakasih karena kau tlah mau bertahan walau sesaat, walau tak bisa mengalahkan jarak. Trimakasih ..
Sesampainya di kota impian (begitu orang menyebutnya), aku merasa asing. Sulit untuk beradaptasi, apalagi tanpa kamu di sisi. Tak ada novel atau hiburan yang bisa mengusirmu dari pikiranku. Aku hanya bisa merindumu dalam sesenggukan tangis tiap malam. Jawablah kasih, apa kau juga merindukanku? Tidakkah kau tau, surat itu meyakinkanku bahwa kau akan selalu mencintaiku, bahwa jarak bukanlah penghalang aku dan kamu untuk tetap menjadi kita.
Tapi waktu berkata lain. Kasih, kau berubah. Kau menjadi lebih dingin, tak ada lagi mantra yang bisa menyenyakkan tidurku, tak ada lagi sapaan lembut di ujung telfon, tak ada lagi pesan manis darimu. Aku merindukanmu, bukan kamu yang sekarang, tapi kamu yang dulu. Waktu pun menjawab pertanyaanku, ternyata cintamu tak sekuat kaktus yang mempu bertahan walau tak ada air. Kau mengaku kalah pada jarak. Kasih, tidak kah kau tau. Jarak menertawakanmu, jarak tersenyum puas bisa memisahkan kita. Harusnya kau mengerti bahwa jarak tak akan pernah membiarkan kita bertaut. Harusnya kau tetap bertahan, harusnya kau kuat. Harusnya …..
Apa yang bisa aku harapkan darimu kasih? Kau telah menyerah. Percuma jika cinta kita hanya berpangku padaku. Aku tak sanggup memikul beban yang jarak berikan. Maaf, mungkin kamu benar. Mungkin kita memang harus menyerah. Terimakasih karena kau tlah mau bertahan walau sesaat, walau tak bisa mengalahkan jarak. Trimakasih ..
Untukmu, yang selalu kurindukan
Kuharap kau juga merindukanku
Merindukan kita
No comments:
Post a Comment