Wednesday, 17 July 2013

Aku Pulang

Marhabban yaa Ramadhan.
Berjuta muslim merayakannya, berlomba mengumpulkan pahala seakan sedang berkompetisi.

Ramadhan kali ini aku pulang, ke tempat baru yang harus kusebut rumah.
Ke tempat yang sudah kukenal tapi selalu beratmosfer asing.
Entah kenapa, seperti ada monster yang ingin menerkamku saat aku di bawah atapnya.

Ramadhan kali ini aku pulang. Aku rindu seorang perempuan paruh baya yang aku panggil ibu
Raut menua ibuku terlihat jelas, ada kerutan dan senyum lelah tapi bahagia.
Dulu beliau tak begitu, dulu beliau begitu kuat, sekarang tenaganya seperti terbatas.

Ramadhan kali ini aku pulang. Aku ingin menyapa yang lama tak bersua. Kawanku. Tapi kawan-kawan lamaku tak sepolos dulu lagi. Keduanya pernah kabur dengan seorang lelaki yang mereka akui sbg kekasih. Salah satu dari mereka berdalih diculik dan yang satu lainnya memutuskan bosan dengan aturan orang tua sebagai alasan. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk mengesahkan secara hukum dan agama. Mereka punya kehidupan sendiri, mereka tak tertawa selepas dulu lagi.

Ramadhan kali ini aku pulang, mengunjungi kakek nenekku. Tak ada yang berubah kecuali keriput yang bertambah. Kakekku masih suka sibuk dengan burung peliharaannya yang tak berhenti bernyanyi saat lapar. Nenekku masih dengan segala tetek bengek dapurnya, kepul asap dari tungku selalu menarikku untuk menemaninya, entah sekedar duduk atau mengupas bawang merah.

Ramadhan kali ini aku pulang, mengunjungi sahabat semasa putih abu-abu. Dia masih tetap sama, ramah, lucu. Satu yang berubah, mantan pacarnya bertambah banyak. "Aku harus memilih", begitu kilahnya.

Ramadhan kali ini aku pulang, tak ada lagi derap kaki-kaki kecil saat malam Lailatul Qadr. Dulu kami seringkali merengek pada ibu untuk bermalam di musholla, untuk tadarus dan shalat malam. Sekarang ntah kemana larinya derap penuh keringanan itu.

Ramadhan kali ini pulang, tak ada lagi patrol desa yang membangunkan warga sahur. Patrol dgn kentungan bambu itu terganti oleh marching band yang terlalu membahana di dini hari. Tak kutemukan lagi letupan petasan saat jalan pagi selepas sahur. Entah kemana pejalan kaki yang suka menghabiskan detik sepanjang jalan sebelum matahari menyapa. Mereka hilang, kebiasaan lama itu musnah.

Ramadhan kali ini aku pulang, berharap bisa menemukan masakan ibu saat berbuka dan sahur.

No comments:

Post a Comment