Sore ini kuharap seperti senja-senja sebelumnya, jingga tersenyum dengan sirat merah, dikulum kilau cahaya keemasan.
Dengan langkah santai aku menuju ayunan itu (kau membuat sendiri ayunan itu, bermodalkan ban yang kau potong menyerupai kursi dan tali tambang yang kau ikat pada dahan pohon), tempat kita berbagi cerita, bersenda gurau hingga hari paling menyedihkan itu datang. Read More...
Kupatut diri di depan cermin, menimbang apakah setelan kemeja nila dengan rok selutut ini pantas kukenakan untuk bertemu denganmu. Kupoles bedak setipis mungkin, mengingat ucapanmu tentang rona pipiku yang hilang tertindih bedak. Tak lupa kupasang lipgloss pada bibirku, sekedar menghapus kesan pucat pada wajahku. Aku ingin tampil cantik namun tetap alami di hadapanmu. Sore ini seperti yang tertulis di suratmu, kau akan kembali padaku, menggenggam jemari yang tElah lama kau biarkan kosong.
Dengan langkah santai aku menuju ayunan itu (kau membuat sendiri ayunan itu, bermodalkan ban yang kau potong menyerupai kursi dan tali tambang yang kau ikat pada dahan pohon), tempat kita berbagi cerita, bersenda gurau hingga hari paling menyedihkan itu datang. Read More...
No comments:
Post a Comment