“Hei hei! What are you thinking
about?”
Sheila terkejut dan hanya tersenyum. Lelaki di sebelahnya adalah karyawan
baru, lulusan salah satu universitas di Singapore. Mereka terjebak dalam
kemacetan Ibukota, tidak mengherankan, kawasan Sudirman memang terkenal padat
walaupun jam sibuk kantor telah berlalu.
“Jakarta has the worst traffic ever!
Let me know what you’re thinking about? Is it about our dumb ass client?”
“Hahaha stop it, Baldlie! I’m
thinking about hmmm .. nothing”
“You’re not a good liar”
“I am”
Sheila memanggil lelaki di sebelahnya dengan sebutan Baldie karena potongan
rambutnya yang menyerupai tentara. Agung, berwajah blasteran dengan aksen English British yang amat kental, namun
jarang yang percaya jika dia adalah Indo bingo. Tidak heran jika dia menjadi
incaran para wanita di kantor. Senyumnya sungguh menawan, dengan lesung pipit
di pipi kiri. Matanya tajam tapi meneduhkan, seakan-akan kau ingin berlama-lama
menatapnya. Badannya tidak begitu tinggi, namun sangat tegap, tiap wanita pasti
ingin tenggelam dalam pelukannya.
Meeting pagi itu selesai dengan keputusan yang menggantung. Sheila tidak
berhasil membujuk klien untuk menandatangani surat perpanjangan kontrak. Agung pun
tidak banyak membantu dikarenakan bahasa Indonesia-nya yang masih terbata-bata.
Melihat Sheila yang tengah risau, Agung pun bingung. Tak biasanya ia mendapati
gadis itu tidak dapat memecahkan masalahnya dengan klien. Agung pernah
mendengar kabar burung bahwa Sheila dapat dengan mudah membujuk klien yang
paling alot untuk memperpanjang kontrak.
“Ice cream? Yoogane Ramen?
Choccolatte? Strawberry Yoghurt? Anything you want, princess!”
Sheila enggan menanggapi Agung dan kembali ke mobil dalam bisu. Suasana mobil
pun menjadi diam, terlalu sunyi bagi Agung. Merasa bersalah, Sheila akhirnya
berusaha tersenyum.
“Yoogane, fried rice less spicy. Ice
cream and if you dont mind, I want choccolate also”
“Your orders are my pleasure,
princess”
“Good to hear it! You’ll have my
order everyday! Hahahaha”
“I shouldnt say it then, hahaha”
Keakraban Agung dan Sheila terjalin sejak mereka berdua bekerja dalam tim
untuk sebuah project Tech in Asia. Tidak
jarang mereka makan siang berdua, dan menghabiskan jam istirahat di sebuah
kedai kopi. Sheila tahu Agung tidak menyukai makanan pedas dan selalu
membutuhkan kopinya di saat depresi. Agungpun tahu bahwa Sheila tidak menyukai
makanan pedas kecuali rujak buah dan selalu mengudap coklat hingga membuat
Agung heran bagaimana bisa Sheila tetap mempunyai badan yang proposional tanpa
harus melakukan diet.
“Why do you love Yoogane Restaurant
that much? Are you a korean food lover?”
“Wohohoho! Dont judge me, dude! I
love it just because I love it”
“No, there must be a reason.”
“Unfortunately, I dont have it”
“So, tell me, what were you thinking
about this morning?”
“Nothing”
“Have I told you that you’re not a
good liar?”
“Have I told you that I am not a good
liar?”
Mereka berdua pun tertawa dan saling melempar
canda. Agung tahu, Sheila adalah sosok yang rapuh di balik setelan formal
dress-nya. Tak jarang Agung memergoki Sheila melamun, menulis sesuatu di atas
secarik kertas jika bosan. Pernah Agung mendapati kertas berisi beberapa bait
puisi dengan tulisan tangan Sheila saat sedang meeting town hall.
Beberapa bulan berlalu, keakraban Sheila dan Agung pun bukan menjadi hal
baru. Kerap kali mereka mendapat bully-an “Kapan
jadian?” atau “Jadian kok ga
bilang-bilang sih”, menanggapi hal-hal seperti itu mereka hanya tersenyum
dan ikut tertawa.
Agung pun sering mengungkapkan perasaannya terhadap Sheila, namun si gadis
tidak perna menanggapi, entah karena enggan atau tidak peka. Agung pun acap
kali menunggu kesempatan yang ia buat seperti kebetulan. Tidak jarang Agung
menunggu kesempatan saat Sheila ke pantry lalu kemudian menghampirinya,
seakan-akan Agung tak tahu jika Sheila tengah berada di situ.
“I need my coffee... eh hai, Sheila!”
“hmm hai”
“I need my coffee”
“You can try office’s coffee, it’s
quite good”
“No, I need mine. I am addicted to
it, just like I am addicted to you”
“Hahaha funny! I dont have any
caffeine for you.”
Sheila mengerti apa maksud dari Agung sebenarnya, namun ia masih enggan
untuk menjalin sebuah hubungan setelah semua perih yang ia dera. Ia ingin
menyembuhkan luka yang menganga untuk kemudian ditinggali oleh cinta yang baru.

No comments:
Post a Comment