kita telah melewati 1500hari, tidak heran jika kita sering berbagi mimpi berharap semua akan terwujud. berbagi kisah sedih untuk sekedar mengangkat beban, atau bercerita tentang aktifitas yang kita alami hari ini.
kau tahu, aku selalu merindukanmu. entah mengapa, aku seperti tertarik oleh gaya gravitasi untuk selalu terjatuh pada tiap detail dirimu. aku bingung, cinta ini gila atau mungkin aku yang menggilaimu, ahh entahlah yang pasti aku selalu merindukanmu seperti malam ini.
entah berapa kali kau ucap janji untuk sekedar memberi kabar dan mengurangi sifat acuhmu. tapi sepertinya aku masih harus selalu menjadi remindermu, untuk mengingatkan bahwa aku ada, aku butuh kamu. setelah sepanjang siang menghilang tanpa kabar, malam ini aku mengingatkanmu,
"buni kemarin janji apa ya sayaangg"
"buni lagi di luar hun, ntar buni telfon"
bagaimana kau bisa membaca pikiranku, aku merindukanmu, kau selalu tahu apa yang aku mau. sejam, dua jam berlalu tapi tetap tak ada kabar. aku mengirim beberapa pesan. dan saat hampir berganti hari kau membalas dan memintaku untuk bersabar sampai hari berganti lewat satu menit.
bbzz...bbzz..bbzz.. namamu muncul di layar handphoneku,tak ragu ku pilih accept dan ku dengar hembusan nafasmu di ujung sana. aku gembira sekali meski aku tak bisa menghirup oksigen yang sama dan merasakan dihimpit tembok yang sama, aku tetap merasa lega, setidaknya ada bagian dari dirimu yang masih bisa ku nikmati.
kita membuka obrolan dengan keluhanku terhadap alergi dingin yang kambuh, dan kau dengan gurauan khasmu membuatku ingin dirajuk. kita mulai beralih topik tentang training kerjaku, skripsimu yang tak kunjung selesai dan impian kita. impian yang tak terlalu muluk, membangun sebuah keluarga kecil diawali dengan membeli rumah sederhan dengan satu ruang perpustakaan yang nyaman, dilengkapi dengan anak-anak kita. bahkan kita telah menyiapkan nama untuk dua anak perempuan kita, Kalula dan Cintari. Kalula adalah nama pilihanmu dan Cintari adalah pilihanku. tapi aku lupa siapa nama anak laki-laki kita kelak, padahal aku telah menyiapkannya. ahh sudahlah, kita pikir lagi nanti.
ntah angin mana yang membawa obrolan kita ke buku Udah Putusin Aja karya Ustd. Felix. kau mulai mengemukakan ketidaksukaanmu pada pembaca buku itu yang menurutmu bermuka dua, dan menjalani semuanya setengah-setengah. agama bukan mainan, begitu katamu. aku tahu agama bukan mainan, kamupun juga bukan mainan, aku mencintai agamaku, dan kamu. aku berusaha menjelaskan bahwa aku tidak bermuka dua, aku berada ditengah-tengah, dan aku tidak bisa melepas semuanya. tapi kau tetap bersikukuh, dan memintaku untuk tidak setengah-setengah dalam memperkuat iman.
terimakasih untuk semuanya. aku tak mengerti apa yang membuat impian kita berbalik menjadi perpisahan. aku akan selalu mengingatmu sebagai mantan lelaki masa depanku, choi chul-soo..
kita membuka obrolan dengan keluhanku terhadap alergi dingin yang kambuh, dan kau dengan gurauan khasmu membuatku ingin dirajuk. kita mulai beralih topik tentang training kerjaku, skripsimu yang tak kunjung selesai dan impian kita. impian yang tak terlalu muluk, membangun sebuah keluarga kecil diawali dengan membeli rumah sederhan dengan satu ruang perpustakaan yang nyaman, dilengkapi dengan anak-anak kita. bahkan kita telah menyiapkan nama untuk dua anak perempuan kita, Kalula dan Cintari. Kalula adalah nama pilihanmu dan Cintari adalah pilihanku. tapi aku lupa siapa nama anak laki-laki kita kelak, padahal aku telah menyiapkannya. ahh sudahlah, kita pikir lagi nanti.
ntah angin mana yang membawa obrolan kita ke buku Udah Putusin Aja karya Ustd. Felix. kau mulai mengemukakan ketidaksukaanmu pada pembaca buku itu yang menurutmu bermuka dua, dan menjalani semuanya setengah-setengah. agama bukan mainan, begitu katamu. aku tahu agama bukan mainan, kamupun juga bukan mainan, aku mencintai agamaku, dan kamu. aku berusaha menjelaskan bahwa aku tidak bermuka dua, aku berada ditengah-tengah, dan aku tidak bisa melepas semuanya. tapi kau tetap bersikukuh, dan memintaku untuk tidak setengah-setengah dalam memperkuat iman.
terimakasih untuk semuanya. aku tak mengerti apa yang membuat impian kita berbalik menjadi perpisahan. aku akan selalu mengingatmu sebagai mantan lelaki masa depanku, choi chul-soo..
No comments:
Post a Comment