Tuesday, 11 June 2013

pahit lebih setia dari manis

selamat pagi rindu.
Apa kabar? semoga pahitmu tidak terlalu pekat. aku berharap ada sedikit manis menyapa di ujung sana.
mungkin kau sedang akrab dengan pahit, aku harap kau tidak akan menyesalinya nanti. aku bisa bercerita seperti ini karena ada sepenggal hidupku yang kuhabiskan bersama pahit..

awalnya aku sepertimu, berteman dengan pahit, selalu ada yang kurang jika tidak mengecapnya sehari. dia satu-satunya something yang setia, setia merundungku tiap pagi, seakan menjauhkan hangatnya mentari. saat senja berganti, dia tak mengijinkanku untuk bermandikan sinar jingga, dia menyuruhku untuk menyesapnya, "hidup itu tak seindah senja", begitu katanya. dan aku menurutinya, aku menghirup pahit sekali lagi untuk mengakhiri hari, dan mendung pun datang, berputar mengitariku sebelum aku beranjak ke dunia mimpi.

lalu pada suatu hari tanpa sengaja aku berkenalan dengan manis. tanpa sadar aku menambah gula lebih banyak dari biasanya. dan aku menyukainya, aku menikmati manis yang terasa begitu hmm memikat. aku mulai menyisipkan manis dalam tiap aktifitasku, menyisihkan pahit yang tanpa ku tahu menyimpan amarah padaku. pertengkaran pada akhir malam itu meledak, pahit tak rela aku lebih memilih manis daripada dia yang setia dan mengenalkanku pada dunia yang tak selamanya indah, dia menyerukan bahwa manis adalah rasa semu yang suatu saat bisa membuatku muak. tapi aku tetap bersikukuh bahwa manis adalah yang terbaik, setidaknya dia selalu menghadirkan senyum saat aku mengawali dan menutup hari.

sejak malam itu aku dan pahit tak pernah bertukar sapa, dia selalu menghindariku dan akupun tak berusaha untuk meminta maaf. kita hidup dalam diam masing-masing. dan selang beberapa bulan, ucapan pahit menjadi kenyataan, aku mulai muak dengan manis yang menurutku terlalu semu, manis selalu terasa sama dalam hidup seseorang. berbeda dengan pahit, tiap orang mempunyai takaran tersendiri untuk menikmatinya. dia benar, dia selalu setia, dia hanya menyajikan satu rasa untuk satu orang. aku bodoh, menganggapnya hanya mendung yang selalu menggelapkan sinar mentari. aku ingin berbaikan dengan pahit, tapi sepertinya terlambat. dia tak pernah mengijinkanku untuk mengembalikan takaranku yang dulu. aku merindukannya, walau dia pahit setidaknya dia telah mengajarkanku bahwa dunia ini tak selamanya indah.

No comments:

Post a Comment