kembali dia sesap satu-satunya gulungan tembakau yang tersisa, tiap kepulan dia hembuskan sembari menatap awan, tatapan kosong menerawang. dia akrab disapa Praja. pengangguran berwawasan yang menyerah pada tetek bengek pemerintahan, tak pernah ada orang yang tahu apa yang ada di dalam pikirannya, kecuali dia dan Tuhan.
"bengong aje lu", sapa Andre, temannya sedari kecil. Praja hanya menengok sesaat dan tersenyum kecil, lalu dia kembali ke dunia yang dia ciptakan sendiri. Andre yang tahu betul kebiasaan Praja, mengacuhkan sifat aneh sahabatnya itu, dia memilih pergi untuk menyeduh kopi di warung depan gang.
"siapa aku? kenapa aku ada? kenapa manusia harus berjodoh? bagaimana dengan manusia yang tidak berjodoh? kenapa Tuhan mengaturnya begitu? bagaimana jika mereka berjodoh namun yang satu selalu tersakiti?", pertanyaan itulah yang membuat Praja sibuk berkutat dengan pikirannya. Dia yang tak pernah sekalipun tertarik pada wanita, mendadak memikirkan tentang jodoh. seperti trauma, Praja menganggap semua wanita sama seperti ibunya (yang dia sendiri tak tahu siapa). menurut Praja, wanita hanya senang membuat anak dan menjadikan proses melahirkan sebagai beban lalu membuang beban (anak) tersebut.
No comments:
Post a Comment