Selang beberapa minggu setelah kejadian terjatuh ke dalam lubang sialan itu, aku mulai melupakan tentang lelaki bersenyum maut. aku kembali beraktifitas seperti biasa, tak ada lagi bayang tentang lelaki itu. seperti hari-hari sebelumnya, aku menghabiskan waktuku seharian duduk di taman sudut kota, menikmati es kelapa muda hingga mencair dan menjelma menjadi air es. seperti tak kapok setelah memergoki mantan kekasihku dengan wanita barunya, aku tetap setia pada taman itu, aku mulai mencintai rutinitasku (yang sebenarnya tak patut disebut sebagai rutinitas).
Oktober telah menjejakkan kakinya di tahun ini, pertanda hujan akan sering datang secara tiba-tiba. entah sekedar gertakan mendung atau rintik mengeroyok. aku yang tak menyadari tentang perubahan musim, menghiraukan nasihat ibu untuk membawa payung sesaat sebelum berangkat ke taman. kupikir hari ini akan panas, karena matahari telah membakar beberapa saat setelah jam 9 pagi. namun ibu memang selalu benar, tepat jam 2.30pm, hujan tiba-tiba mengguyur kota, aku menyesal telah menghiraukan nasihat ibu yang kuanggap terlalu berlebihan. aku kelabakan, buru-buru kubayar es kelapa mudaku, dan aku berlari mencari gazebo atau tempat seadanya untuk berteduh.
tak kutemukan gazebo atau tempat dengan atap sempit yang bisa kusinggahi sesaat, kalaupun ada, itu jauh di seberang, dan jalanan sedang ramai-ramainya. orang-orang seperti berlomba menghindari serangan hujan siang itu. aku yang tak memakai jaket, mulai menggigil di bawah hujan. berjalan perlahan keluar dari taman, dan sebelum aku menggapai pintu keluar, tak kudapati lagi tetesan air hujan, aku mendongak dan kutemukan payung lebar berwarna pelangi melindungiku dari amukan titik-titik air, lalu.. lalu.. dia, lelaki itu.. lelaki penolong itu, tersenyum dan memberikan jaket yang tersampir di bahunya. "kamu lagi", begitu ujarku sambil tersenyum, "terimakasih", lanjutku. tapi dia hanya tersenyum tanpa berkata apapun dan kami berjalan bersampingan keluar dari taman.
aku yang belum mengetahui namamu, kembali terusik oleh rasa penasaran yang teramat sangat. kuberanikan diri untuk bertanya siapa namamu, namun sekali lagi kau hanya tersenyum, dan menjawab "tak perlu kau tahu siapa aku, yang harus kau tahu adalah aku akan selalu ada saat tak ada orang lain yang ada untukmu"
No comments:
Post a Comment