Friday, 4 October 2013

Taman Senja Saat Pagi Hari

Anak-anak matahari berlarian menyongsong hari, menjemput sisa-sisa kantuk yang mengatupkan kedua kelopak mata. mau tak mau akupun harus mengikuti pergerakan kaki-kaki sang surya. kuregangkan otot-otot yang masih enggan beranjak dari dimensi mimpi. kakiku terpaksa harus menjenjakkan telapaknya di atas lantai yang dingin. dengan semangat yang belum mencapai puncak, aku masuk ke kamar mandi, membiarkan air pagi mengguyur tubuhku, menghapus sisa mimpi yang masih melekat di pori-pori.

pagi ini aku pergi ke kampus lebih awal dari biasanya, memang kusengaja. aku ingin melewati taman yang sempat kita puja berdua. Taman Senja. itu bukan nama sebenarnya, kita yang menyebutnya begitu, karena kita mengunjunginya tepat saat terik memudar dan diganti oleh gurat jingga bersemburat ungu. kusempatkan untuk memarkir motor dan berjalan menyusuri jejak kita berdua, udara ibukota masih sejuk walau banyak kendaraaan berpolusi yang mencemarinya.

sayang, taman senja kita berubah. tak ada lagi sampah yang menggenangi sungai, walau airnya masih sekeruh dulu, yah setidaknya terlihat lebih teduh. pagi ini kulihat truk pengeruk sampah sedang menjalankan tugasnya. taman senja kita lebih indah. seandainya kita masih bisa saling menggenggam saat menyusuri jalan setapaknya, pasti akan menyenangkan.

aku memutuskan untuk duduk di bangku tepat di pinggir sungai, tempat kita menghabiskan senja dulu. termenung, melumat masa lalu sembari memnyaksikan lalu lalang orang dengan aktifitas yang berbeda. ada seorang ibu sedang sedikit memaksa anaknya untuk sekedar membuka mulutnya dan menerima asupan gizi di pagi hari. lalu ada pula 3 orang wanita paruh baya sedang beristirahat setelah merapikan taman, sepertinya mereka petugas kebersihan. di sudut taman, kudapati sepasang muda-mudi sedang beristirahat setelah berlari pagi. dan dikarenakan taman ini berada di antara gedung-gedung ibukota, maka sering kudengar suara klakson seperti penanda bahwa sang pengemudi sudah terlambat, atau deru motor yang tergesa karena siang telah menyapa. ah iya, aku hampir melupakan jadwal kuliah jam pertama. mengenangmu dengan kemasan yang berbeda selalu bisa membuatku lupa waktu. aku berlari kecil ke tempat parkir dan melajukan motorku menuju kampus.

No comments:

Post a Comment