Wednesday, 16 April 2014

Social Media

6 bulan yang lalu, saat sakit benar-benar meradang kau memutuskan untuk menghilangkan segala tentangku, kau hapus pertemanan kita dari semua media sosial yang menautkan kita. Tidakkah kau sadari, kita berteman hampir di semua jenis social media dan kau menghapus, bahkan memblokir aksesku untuk menghubungimu. Kau berkilah bahwa inilah salah satu caramu untuk melupakanku dengan cepat (aku menganggap ini caramu membuangku dari ingatanmu)

Tak ada lagi namamu berkeliaran di homepage facebookku, meskipun kau jarang mengupdate facebookmu, paling tidak aku bisa melihat dengan leluasa profil dan fotomu, atau menulis pesan sapaan pada dinding akunmu. Namun kau benar-benar mengunci akun facebookmu dan mengabaikan permintaan pertemananku. Twitter menjadi tempat sampah untuk membuang segala keluh kesah dan rindu yang tak berkesudahan, meskipun kau telah mengunfollow twitterku, setidaknya aku masih tetap menjadi followers setiamu sekedar untuk stalking atau mencari tahu apa yang sedang kau lakukan, dengan siapa kau berkencan dan untuk mengobati rasa penasaranku. Biasanya, kau mengupdate option check-in di akun Pathmu. Sejak kau mengunshare akun Pathku, aku tak bisa lagi melihat kemana kau pergi ataupun dengan siapa kau bagi senyummu. Tak ada lagi sumber info yang bisa kupakai untuk memantau aktifitas. Bahkan di instagram kau memilih untuk mengunfollowku, dulu kau sering memberi “hati” pada foto yang kuunggah, tak jarang aku membuka akun Instagrammu meski kuketahui tak kan kutemui apapun di sana bahkan fotomu sekalipun. Seandainya kau tahu betapa ini menyiksaku. Kerap kali rindu ini menumpuk lalu berubah menjadi gumpalan yang bergelindingan di dinding hati, mendobrak tiap pertahanan yang ada untuk tak mengharapkanmu.


Saat ini, meski kutahu ini bodoh tapi aku berharap kau masih memilih untuk mengacuhkan permintaan pertemanan tiap akun social mediaku, karena yang kutahu acuhmu mengartikan bahwa aku masih “hidup” jauh di dalam akar pikiranmu.


4 comments:

  1. Tuhan memberi masalah untuk menaikkan derajat kita. Termasuk yang ini.
    Aaah, masalah itu ada menghampiri setiap manusia. Jadi, tetaplah tersenyum. :)

    Nice Words!

    ReplyDelete
  2. Ehm.. Bagian akhir "hidup jauh di dalam akar pikiran" itu menohon sekali dan jadi inti tulisannya yaa.. *mesem*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha keliatan memohon bgt ya kak? nanti diperbaiki :D
      makasih kakaaak ^^

      Delete