Lelaki
itu… entah turun dari planet mana, dia serupa malaikat pelindung. Badannya
tinggi dan tegap, dadanya bidang; aku seperti bisa tenggelam di dalamnya,
bahunya kerap menggodaku untuk merebahkan kepenatan. Pagi itu seperti biasanya,
aku pergi ke kampus menggunakan kereta. Dan layaknya aktifitas sibuk pagi hari,
banyak orang berdesakkan, berusaha menyelipkan badan mereka ke dalam gerbong
yang telah penuh sesak. Badanku yang tergolong kecil terdorong ke depan saat
akan masuk, rupanya ada seorang bapak paruh baya yang tanpa rasa bersalah
hamper menjatuhkanku. Sontak, aku kaget dan hamper mencium lantai gerbong, tapi
laki-laki itu menangkapku, entah bagaimana asal mulanya dia berada di depanku
dan menyelamatkanku dari insiden “morning kiss”.
*****
Gadis
itu… pertama kulihat turun dari angkot, dia layaknya bidadari. Yayayaya, aku
tahu bidadari turun dari kahyangan, namun dia serupa jelmaan bidadari yang
turun dari angkot. Mulanya, kukira dia akan seperti gadis lain yang acuh
terhadap sekitar. Namun dia berbeda, dugaanku salah. Dia mengucapkan terima
kasih dengan senyum tulus kepada petugas loket, bahkan aku juga melihat gerak
bibirnya saat mengucap terima kasih kepada supir angkot. Dia seperti melahap
situasi di peron dengan mata bulatnya, setelah puas dengan itu semua, dia akan
memasang earphone, dan merogoh sesuatu dari ranselnya, berbentuk seperti buku.
Awalnya kupikir itu novel roman picisan atau teenlit yang sedang marak,
ternuata itu adalah buku kumpulan dongeng, lengkap dengan gambar lucu seorang
kakek botak dan katak di atas kepalanya. Ahh gadis itu… dia mencuri sebagian
diriku untuk menikmati tiap detail gerakannya. Saat kereta datang, tubuh
mungilnya berusaha menyelisip ke dalam himpitan manusia dalam gerbong, namun
ada lelaki buncit paruh baya yang dengan sengaja mendorongnya, dia hampir saja
terjerembab, untung saja aku telah bersiap di depannya, dan dengan sigap aku
menangkap tubuh mungil itu lalu membantunya berdiri. Dengan muka pucat dia
mengucap terima kasih dan ia tak lupa memberiku seulas senyum. Aku sungguh
hidup hari ini!
*****
Lelaki itu.. akhirnya aku dapat mencium aroma badannya saat mengantri di loket. Aroma lelaki yang memacu adrenalinku untuk memproduksi hormon yang mengacaukan sistem saraf otak. Karena terhipnotis oleh aromanya, aku salah meletakkan sisi e-ticket pada tap-pad, dan dia tepat berada di belakangku, memperhatikan sejenak lalu membuang muka, aaakk ekspresi yang sungguh tidak kuharapkan. Sesaat setelah automatic gate terbuka, aku langsung menghambur ke dalam gerombolan manusia, menyeberangi rel untuk mencapai peron 2.
*****
*****
Hari
ini aku harus membenamkan diri ke dalam selimut. Demam menyerang, ini pasti
karena semalam aku sengaja menikmati hujan lebih lama. Ada dentuman kecil dalam
dada saat aku menyadari bahwa hari ini akan terlewati tanpa memandang lelaki
itu. Semoga demam segera pergi, karena sesungguhnya rindu ini jauh lebih
menyiksa.
*****
Pagi
ini tak kutemui dia dengan senyumnya. Pada antrian loket, deretan bangku di
peron, tak bisa kudapat sosok mungilnya. Bahkan sampai kereta terakhir pagi
ini, tetap tak kulihat mata bulat itu. Dimana gerangan dia? Apa dia sakit? Atau
dia mengalami kecelakaan saat menuju stasiun? Tuhan, jangan biarkan sugesti
negatifku terjadi padanya. Semangatku hari ini melayang. Aku tak bisa lagi
menghirup aroma tubuhnya, atau mencuri pandang ke tiap detail dirinya.
*****
Hari
ini aku harus kuliah. Ah tidak, sebenarnya hari ini aku harus bertemu lelaki
itu, mungkin saja hanya dengan menghirup aroma tubuhnya, demam sialan ini
enggan untuk menetap. Dan di sinilah aku, di depan loket mengantri dengan
balutan sweater dan syal, semoga rona merah di wajahku tak tertutupi oleh
pucat. Kudapati lelaki itu di salah satu tiang depan loket, memandang ke arah jalan,
lalu pandangannya menusuk tepat ke arahku, apa ini hanya perasaanku saja. Ah
tidak, pandangannya benar-benar ke arahku. Semoga ada kata sapa terucap dari
bibirnya, aku sungguh ingin mendengar suaranya.
*****
Akankah
kutemui gadis itu pagi ini? Sehari tanpa melihat tingkah konyol dan aroma bayi
khas dirinya, seperti ada yang hilang. Ah bukan itu, terlalu berlebihan.
Mungkin seperti ada yang kurang. Kupacu kuda bermesinku lebih pagi dari
biasanya, sekedar untuk memastikan bahwa aku tak akan ketinggalan gadis itu.
Aku berjanji dalam hati, pagi ini akan kuberanikan menanyakan namanya atau
minimal tersenyum.
Aku berdiri di salah satu tiang depan loket, mataku tak
lepas memandang ke tempat para sopir angkot menurunkan penumpangnya. Dan
beberapa saat kemudian, kulihat gadis itu turun. Dia memakan sweater yang
lumayan tebal dengan balutan syal di lehernya, wajahnya agak pucak, perangainya
sedikit lebih lemas, sepertinya dia sedang sakit. Namun senyum memikat itu
masih mampu menyihir siapapun yang menatapnya. Aroma bayi yang menyeruak dari
tubuhnya saat melintas di depanku membuatku ingin mendekapnya dan menghirup
aroma tubuhnya lebih lama. Bagaimana bisa aku menyapa, jika tersenyum saja
bibirku serasa kaku. Dia menghipnotisku tanpa perlu melakukan apa-apa.
*****
Terhitung
mulai pagi ini papa akan mengantarku ke kampus tiap pagi. Tak akan ada lagi
suara operator yang mengumumkan datangnya kereta, tak akan ada lagi aktifitas
mengantri di loket, tak akan ada lagi sosok itu, sosok lelaki yang bahkan
suaranya pun tak pernah kudengar, namun bisa membuatku rindu sedemikian rupa.
Selamat tinggal, kamu.
*****
Esoknya
aku kembali menunggu, namun lagi-lagi tak kudapati sosoknya. Esok, esok, dan
esok seterusnya aku tetap menanti di loket dan bangku peron 2. Menanti ia yang
tak pasti, yang mungkin tak akan kutemui lagi.
+1
ReplyDeletethanks for visitting my blog :)
DeleteNo free lunch
Deletebut free love everywhere :D
Delete