Sunday, 15 December 2013

Esok yang Tak Berujung

Lelaki itu… entah turun dari planet mana, dia serupa malaikat pelindung. Badannya tinggi dan tegap, dadanya bidang; aku seperti bisa tenggelam di dalamnya, bahunya kerap menggodaku untuk merebahkan kepenatan. Pagi itu seperti biasanya, aku pergi ke kampus menggunakan kereta. Dan layaknya aktifitas sibuk pagi hari, banyak orang berdesakkan, berusaha menyelipkan badan mereka ke dalam gerbong yang telah penuh sesak. Badanku yang tergolong kecil terdorong ke depan saat akan masuk, rupanya ada seorang bapak paruh baya yang tanpa rasa bersalah hamper menjatuhkanku. Sontak, aku kaget dan hamper mencium lantai gerbong, tapi laki-laki itu menangkapku, entah bagaimana asal mulanya dia berada di depanku dan menyelamatkanku dari insiden “morning kiss”.

***** 

Gadis itu… pertama kulihat turun dari angkot, dia layaknya bidadari. Yayayaya, aku tahu bidadari turun dari kahyangan, namun dia serupa jelmaan bidadari yang turun dari angkot. Mulanya, kukira dia akan seperti gadis lain yang acuh terhadap sekitar. Namun dia berbeda, dugaanku salah. Dia mengucapkan terima kasih dengan senyum tulus kepada petugas loket, bahkan aku juga melihat gerak bibirnya saat mengucap terima kasih kepada supir angkot. Dia seperti melahap situasi di peron dengan mata bulatnya, setelah puas dengan itu semua, dia akan memasang earphone, dan merogoh sesuatu dari ranselnya, berbentuk seperti buku. Awalnya kupikir itu novel roman picisan atau teenlit yang sedang marak, ternuata itu adalah buku kumpulan dongeng, lengkap dengan gambar lucu seorang kakek botak dan katak di atas kepalanya. Ahh gadis itu… dia mencuri sebagian diriku untuk menikmati tiap detail gerakannya. Saat kereta datang, tubuh mungilnya berusaha menyelisip ke dalam himpitan manusia dalam gerbong, namun ada lelaki buncit paruh baya yang dengan sengaja mendorongnya, dia hampir saja terjerembab, untung saja aku telah bersiap di depannya, dan dengan sigap aku menangkap tubuh mungil itu lalu membantunya berdiri. Dengan muka pucat dia mengucap terima kasih dan ia tak lupa memberiku seulas senyum. Aku sungguh hidup hari ini!

*****

Lelaki itu.. akhirnya aku dapat mencium aroma badannya saat mengantri di loket. Aroma lelaki yang memacu adrenalinku untuk memproduksi hormon yang mengacaukan sistem saraf otak. Karena terhipnotis oleh aromanya, aku salah meletakkan sisi e-ticket­ pada tap-pad, dan dia tepat berada di belakangku, memperhatikan sejenak lalu membuang muka, aaakk ekspresi yang sungguh tidak kuharapkan. Sesaat setelah automatic gate terbuka, aku langsung menghambur ke dalam gerombolan manusia, menyeberangi rel untuk mencapai peron 2.

*****

Gadis itu.. masih dengan sejuta magnetnyaa, menarikku lebih jauh untuk menyelami matanya. Hari ini aku sengaja mengantri loket tepat di belakangnya. Aku bisa menebak parfum apa yang dia semprotkan ke badannya, bukan Bulgaria atau parfum wanita lainnya, aku mencium aroma bayi menyeruak dari tubuh mungilnya, sungguh segar. Tingkah lucunya pagi ini benar-benar menghidupkan hariku, dia meletakkan sisi e-ticket terbalik pada tap-pad, dan wajahnya merah padam saat menoleh ke arahku, aku pura-pura membuang muka karena aku takut dia memergokiku yang tak pernah bisa lepas dari pikatnya.

*****

Hari ini aku harus membenamkan diri ke dalam selimut. Demam menyerang, ini pasti karena semalam aku sengaja menikmati hujan lebih lama. Ada dentuman kecil dalam dada saat aku menyadari bahwa hari ini akan terlewati tanpa memandang lelaki itu. Semoga demam segera pergi, karena sesungguhnya rindu ini jauh lebih menyiksa.

*****

Pagi ini tak kutemui dia dengan senyumnya. Pada antrian loket, deretan bangku di peron, tak bisa kudapat sosok mungilnya. Bahkan sampai kereta terakhir pagi ini, tetap tak kulihat mata bulat itu. Dimana gerangan dia? Apa dia sakit? Atau dia mengalami kecelakaan saat menuju stasiun? Tuhan, jangan biarkan sugesti negatifku terjadi padanya. Semangatku hari ini melayang. Aku tak bisa lagi menghirup aroma tubuhnya, atau mencuri pandang ke tiap detail dirinya.

*****

Hari ini aku harus kuliah. Ah tidak, sebenarnya hari ini aku harus bertemu lelaki itu, mungkin saja hanya dengan menghirup aroma tubuhnya, demam sialan ini enggan untuk menetap. Dan di sinilah aku, di depan loket mengantri dengan balutan sweater dan syal, semoga rona merah di wajahku tak tertutupi oleh pucat. Kudapati lelaki itu di salah satu tiang depan loket, memandang ke arah jalan, lalu pandangannya menusuk tepat ke arahku, apa ini hanya perasaanku saja. Ah tidak, pandangannya benar-benar ke arahku. Semoga ada kata sapa terucap dari bibirnya, aku sungguh ingin mendengar suaranya.

*****

Akankah kutemui gadis itu pagi ini? Sehari tanpa melihat tingkah konyol dan aroma bayi khas dirinya, seperti ada yang hilang. Ah bukan itu, terlalu berlebihan. Mungkin seperti ada yang kurang. Kupacu kuda bermesinku lebih pagi dari biasanya, sekedar untuk memastikan bahwa aku tak akan ketinggalan gadis itu. Aku berjanji dalam hati, pagi ini akan kuberanikan menanyakan namanya atau minimal tersenyum.
Aku berdiri di salah satu tiang depan loket, mataku tak lepas memandang ke tempat para sopir angkot menurunkan penumpangnya. Dan beberapa saat kemudian, kulihat gadis itu turun. Dia memakan sweater yang lumayan tebal dengan balutan syal di lehernya, wajahnya agak pucak, perangainya sedikit lebih lemas, sepertinya dia sedang sakit. Namun senyum memikat itu masih mampu menyihir siapapun yang menatapnya. Aroma bayi yang menyeruak dari tubuhnya saat melintas di depanku membuatku ingin mendekapnya dan menghirup aroma tubuhnya lebih lama. Bagaimana bisa aku menyapa, jika tersenyum saja bibirku serasa kaku. Dia menghipnotisku tanpa perlu melakukan apa-apa.

*****

Terhitung mulai pagi ini papa akan mengantarku ke kampus tiap pagi. Tak akan ada lagi suara operator yang mengumumkan datangnya kereta, tak akan ada lagi aktifitas mengantri di loket, tak akan ada lagi sosok itu, sosok lelaki yang bahkan suaranya pun tak pernah kudengar, namun bisa membuatku rindu sedemikian rupa. Selamat tinggal, kamu.

*****

Semalaman aku memikirkan bagaimana cara untuk berkenalan dengan gadis itu, berbagai frasa telah kurangkai sekedar untuk mendapatkan kalimat yang pas tanpa terkesan picisan. Beberapa topik telah kususun seandainya aku kehabisan bahan pembicaraan, salah satunya tentang dongeng yang kerap ia baca. Aku siap untuk menyapamu, gadis. Pagi ini aku mematut diri di cermin sedikit lebih lama, memastikan tak ada sisa makanan di sela gigi dan rambut yang berantakan, aku harus terlihat memukau di depannya. Dengan percaya diri, kutunggu dia di depan loket. Sejam, dua jam, hingga jam ke-6 berlalu, tak kudapati parasnya. Mungkin hari ini dia sakit lagi, karena kemarin kulihat dia belum begitu pulih untuk menantang dunia.

Esoknya aku kembali menunggu, namun lagi-lagi tak kudapati sosoknya. Esok, esok, dan esok seterusnya aku tetap menanti di loket dan bangku peron 2. Menanti ia yang tak pasti, yang mungkin tak akan kutemui lagi.

4 comments: